Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Obat penenang


__ADS_3

Tama dan Annisa terlalu begitu lama terlelap hingga pukul satu tengah hari. Annisa menggeliat saat merasakan tubuhnya yang begitu pegal.


Namun, tubuhnya itu terasa hangat. Tapi kok seperti ada yang aneh, pikirnya. Ada rasa nikmat di setiap jengkal tubuhnya. Ingin mencoba membuka mata tetapi masih berat.


''Ughh...'' Annisa melenguh. Tubuh itu tiba-tiba saja menginginkan lebih.


Sedangkan seseorang di bawahnya tersenyum, ia semakin gencar memancing has rat sang istri agar ikut bermain bersama nya.


Annisa sungguh tidak kuasa untuk menahan rasa menggelitik di setiap jengkal tubuhnya. Tetapi mata itu sangat sulit untuk terbuka.


Ia semakin tidak menentu. Tubuh itu melengkung hingga membentuk busur panah. Annisa mengerang. Tama membungkam mulutnya dengan mulutnya.


Annisa terkejut. Mata itu melotot ketika melihat sang suami yang kini berada di atasnya.


''Abang menginginkan mu, boleh?'' tanya Tama pada Annisa setelah ia lepaskan pagutan nya.


Annisa yang memang sudah terpancing pun mengangguk. Ia tersenyum. Pipi itu merona seketika. Tama tertawa pelan.


Ia mulai melakukan penyatuan mereka. Mereka merengkuh nikmat nya madu pernikahan yang baru saja dua hari.


Tama pria dewasa. Ia membutuhkan asupan itu untuk dirinya. Apalagi Annisa sudah bisa untuk ia sentuh.


Mereka bergulat mengeluarkan keringat bersama. Cukup tiga puluh menit saja Tama menyudahi acara cocok tanam nya mengingat diluar masih ada seluruh keluarga nya dan Keluarga Bunda Zizi yang akan menginap di sana selama seminggu.


Begitupun dengan mereka.


Tama mengecup lembut dahi Annisa setelah selesai menabur benih di ladang hangatnya. Ia berbaring ke samping tanpa melepas penyatuan nya membuat Annisa pun ikut miring bersamanya karena Tama menariknya.


''Sudah tenang?'' tanya Tama pada Annisa.


Annisa mengangguk dan tersenyum malu di dada Tama. Tama terkekeh pelan. ''Kamu sih mancing-mancing Abang tadi. Masa' iya mata terpejam tetapi tangan ini menyentuh pisang Abang?'' ucap Tama membuat wajah Annisa memerah bak kepiting rebus.

__ADS_1


Tama tertawa lagi. Tetapi masih batas pelan. Takut terdengar keluar. Kan nggak enak jadinya. Mana diluar sedang berduka karena kepergian ayah Emil, dianya di kamar malah sibuk mengadon. Kan nggak etis jadinya.


Tama Terkekeh saat melihat wajah Annisa memerah karena malu. Tama memeluk erat tubuh polos Annisa yang tertutup selimut hangat saja.


''Bangun yuk, kita sholat dhuhur dulu. Lihat Syakir dan Bunda. Mungkin mereka saat ini sedang duduk diluar bersama yang lain..'' lirih Tama pada Annisa.


''Ya,'' sahut Annisa dengan suara serak nya.


Tama mengambil sarung dan memakai kan kain itu pada tubuh mereka berdua dan masuk ke kamar mandi bersama untuk mandi besar.


Cukup lima belas menit saja mereka selesai mandi. Dilanjut dengan berwudhu dan sholat dhuhur.


Setelah dirasa tenang, Annisa membuka pintu kamar nya yang terkunci bertepatan dengan Syakir dan Arta ingin mengetuk pintu kamarnya ingin mengantarkan makan siang.


Tok, tok, tok.


''Kak.. bangun. Makan dulu. Ini adek bawa makan siang nya. Yang lain udah pada makan tadi.'' Ucap Syakir di sebalik pintu.


Annisa terdiam. Ia hampir lupa dengan kejadian diluar. Saat ini mereka masih berduka. Tama memegangi bahunya.


''Duduklah. Biarkan Syakir dan Arta masuk. Ayo, kamu masih pusingkan?''


Annisa hanya mengangguk saja


Wajah itu masih terlihat sangat sendu. ''Sudah.. jangan bersedih. Tadi kita kan sudah mendoakan ayah? Atau kamu mau Abang kasih amunsi lagi biar kamu tenang?'' goda Tama pada Annisa.


Sontak saja Annisa menatap nya. ''Amunisi apa?'' tanya nya dengan suara serak.


''Amunisi ini!'' tunjuk Tama pada pisang boma miliknya yang tertutup celana bahan nya.


Annisa menepuk lembut pisang boma itu hingga membuat Tama terkekeh. ''Mana ada itu!'' kilah Annisa lagi. Wajah itu memerah saat ini.

__ADS_1


Tama terkekeh lagi. ''Kan beneran sayang. Kamu sudah merasa tenang setelah mendapat kan obat mu. Yang berarti obat penenang untukmu yang sedang gelisah. Iya kan?'' goda Tama lagi.


Annisa menepuk kuat dada Tama. Tama tertawa. Ia berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamar mereka. ''Abang! Kakak mana? Udah bangun?'' tanya Arta pada Tama


''Sudah, masuklah. Abang akan keluar menemui para tamu!''


''Tunggu Bang! Mak Alisa menyuruh Abang makan dulu berdua sama Kakak. Baru setelah nya kalian boleh keluar. Ayo, ini adek udah bawakan makan siang untuk kalian berdua.'' ujarnya sembari menarik tangan Tama.


Syakir yang memegangi nampan pun ikut masuk ke dalam. Tama duduk lesehan di lantai yang sudah di bentang ambal oleh Annisa baru saja.


Annisa pun ikut duduk. Ia tersenyum pada kedua adiknya. ''Terimakasih Dek!''


Syakir dan Arta saling pandang. ''Suara kakak habis ya?'' tanya Syakir


Annisa tersenyum, ''Hooh. Habis karena menangis tadi malam. Tetapi sekarang tidak lagi. Eh, malah suara Kakak yang hilang!'' celutuk Annisa masih dengan suara seraknya.


Syakir dan Arta pun terkekeh, ''Kakak makanlah. Kebetulan tadi keluarga jauh kita membawa banyak makanan untuk tahlilan nanti malam. Jadi ya . Mak Alisa menyuruh Abang untuk mengambil makanan itu untuk Kakak dan Abang makan. Dan juga Kakak nggak boleh keluar dulu. Sebaiknya kakak Istirahat saja. Nanti ada Bella yang menemani kakak disini,'' ujar Syakir membuat Annisa merengut.


Tama terkekeh. ''Sudah sayang.. turuti saja ucapan Mak kita. Pasti Mak punya alasan kenapa menyuruh kamu untuk istirahat kan? Bunda Zizi gimana? Apakah masih belum sadar?'' tanya Tama sambil menyuapkan nasi ke mulutnya lalu ke mulut Annisa.


Annisa ingin makan sendiri tetapi Tama melarang nya. Annisa patuh pada nya. Ia menurut.


''Bunda udah sadar. Sempat tadi histeris juga saat menyadari kalau ayah sudah tiada. Bang Raga dengan sigap menyuntikkan obat penenang agar Bunda tidak mengamuk. Sekarang disana ada Nenek dan Kak Ira yang selalu setia menjaga Bunda. Ke empat keponakan Abang, dibawa pergi oleh uwaknya. Uwak Rita dan Uwak Nia menuju kerumah mereka. Nanti malam baru dibawa kemari.'' Jelas Syakir membuat Annisa tertegun.


''Ya sudah, Abang sudah makan. Kalian temani saja Kakak kalian ya? Biar Abang yang keluar. Ada Bang Lana dan Papi Gilang kan ya diluar? Bang Raga?'' tanya Tama pada Syakir.


Syakir mengangguk, ''Mereka bertiga saat ini sedang memasang tenda di luar untuk para tetangga Yang akan tahlil nanti malam. Karena rumah kita tidak muat, jadi halaman luar yang dipasang tenda. Tadi Abang dan Papi Gilang yang mendatangi tempat nya untuk meminjamkan tenda itu.''


''Hem baiklah. Abang keluar dulu. Kamu sama Syakir dan Arta saja ya? Jangan melamun!'' peringat Tama pada Annisa


Annisa mengangguk dan tersenyum. Tama keluar menuju teras rumah bunda Zizi dimana Papi Gilang, Lana dan Ragata sedang kepayahan memasang tenda itu.

__ADS_1


Tama terkekeh melihat nya. Lana terus saja menggerutu karena Papi Gilang banyak menyuruhnya kesana kemari sedang dirinya sedang berada di atas tangan tenda itu.


__ADS_2