
Papi Rian begitu shock mendapati kenyataan jika Bude Zahra pun menerima dirinya karena seseorang yang begitu ia benci hingga saat ini.
Bude Zahra memejamkan matanya saat Annisa dengan lugas nya membuka rahasia yang selama ini ia tutupi dari sang suami.
"Sudah nak.. Bude tak apa. Semua ini Bude lakukan untuk anka-anak Bude. Azriel dan Cinta begitu membutuhkan sosok seorang ayah. Dan juga Bude bisa melihat bahwa Pakde mu memang mencintai Bude setulus hatinya. Hanya saja.. Rasa sakit yang di torehkan oleh masa lalu Bude itu begitu membuat Bude trauma untuk menikah lagi. Tetapi karena Mak kamu, maka Bude menerimanya setulus hati. Dan untuk kejadian enam belas tahun yang lalu, Bude dan suami meminta maaf padamu. Karena sudah menyebabkan kekacauan di dlam kelurag dan perusahaan kalian... Maafkan Nak.." lirih Bude Zahra dengan menunduk dihadapan Annisa.
Annisa menghnela nafasnya. "Sudahlah Bude. Aku tidak pernah marah dengan hal itu. Hanya saja .. Suami Bude mengingginkan penjelasan dariku. Maka dari itu aku memberitahukan padanya sedikit tentang masa itu. Aku sudah memaafkan kok, Pakde. Hanya saja kejadian enam belas tahun silam itu tidak mudah aku lupakan begitu saja. Bude pahamkan?"
Bude Zahra mengangguk dan tersenyum lembut padanya. "Iya Nak, Bude tau kok. Ya sudah, kalau begitu kami pamit pulang ya? Lagipun hari sudah semakin sore. Habiskan semu kue Bude ya? Kalau kurang, hubungi saja nomor Bude. Bude akan menyiapkan semua pesanan mu nantinya!"
Annisa tersenyum. Ia pun mengangguk patuh. Setelahnya, Mami Zahra dan Papi RIan pun pulang kerumah mereka.
Tinggallah kini, Annisa dan kedua sahabat karibnya. Mereka bertiga makan dengan lahap semua makan yang Mami Zahra bawa.
Inilah yang Annisa inginkan. Sedari kemarin, Mutia dan Sarah ia sibukkan dengan pesanannya yang sangat ingin memakan kue yang manis-manis. Salah satunya, puding lumut buatan Mak Alisa yang begitu membuat liurnya serasa ingin menetes.
__ADS_1
Begitupun dengn Tama, sejak sadar dari tidurnya yang selam dua minggu itu, Tama pun menjadi semakin ingin banyak makan.
Dengan seng hati Mak Alisa dan Mama Linda memberikan apapun yang Tama inginkan. Mereka sudah bisa tertawa kmbali setelah masa sulit itu berlalu.
*
*
*
*
Annisa melewati hari-harinya dengan baik. Ia beraktivitas seperti biasanya. Begitupun dengan Tama.
Tapi ada yang berbeda dari dirinya. Tama lebih dingin dan semakin tidak tersentuh. Banyak gadis yang mencoba mendekatinya, tetapi dianggap angin lalu saja oleh tama.
__ADS_1
Ia lebih irit bicara kepada siapa pun. Tidak seperti dulu, bibir tipis milik Annisa itu selalu menyungginggkan senyum manis kepada setiap orang, kini tidak ada lagi.
Ia hanya akan hangat kepada keluarga dekatnya saja. Selebihnya. Ia lebih banyak mengacuhkan ketimbang meladeni mereka yang berbicara terkecuali rekan bisnis yang membawa istrinya saat merek mengajk bertemu.
Semua ini atas usulan Papi Gilang padanya agar Tama lebih dingin kepada siapa pun. Ilmu Papi Gilang yang ia turunkan kepada Lana, dan Rayyan. Dan sekarang kepada dirinya.
Tama sangat bersyukur, ia di kelilingi orang-orang baik seperti keluarganya dan juga keluarga Mak angkatnya. Mak Alisa yang merupakan Mak mertuanya.
Tama lebih banyak menjaa dirinya dan semakin banyak belajar sepeti keinginan Annisa. Ia pun sadar jika semua itu terjadi akibat dirinya yang terllau ramah dan baik terhadap orang lain. Hingga menimbulkan masalah di dalam rumah tangganya.
Ia pun sering ikut pengajian setiap ada pengajian rutin. Walau dulunya pun ia seperti ini. Teatpi kali ini, ialah yang bertindak menjadi seorang yang di sarankan untuk menyampaikan tausiyah di setiap hari jum'at dan juga di setiap pengajian rutin di komplek peuman nya dan juga di seluruh mesjid kota Medan.
Kini tama terkenal karena ia seorang ustad dan juga seorang pengusah sukses di usia nya yang masih terbilang muda.
Untuk Annisa sendiri, Tama tidak pernah putus mengirimkan nafkah lahirnya untuk kebutuhan sehari-ari dan juga biaya sekolahnya selam di Bandung sana. Hingga rekeningnya membengkak karena kiriman Tama yang lumayan banyak dan tidak pernah putus.
__ADS_1
Semuanya kembali seperti biasa. Tama hanya menunggu waktu empat tahn lagi agar bsa mngunjungi sang istri kecilnya. Sesuai dengan permintaan Annisa dulunya.