
Setelah melihat Tama berlalu ke kamar mandi, dokter Fandi mendekati ranjang Annisa. Ia menatap lekat wajah datar yang sedang menatap lurus ke depan.
''Dek-,''
''Jangan ikut campur urusan saya Dokter! Anda disini hanya bertugas untuk mengurus saya yang sedang sakit! Anda tidak berhak mencampuri urusan pribadi saya! Apalagi ingin melaporkan saya pada pihak pesantren! Dokter punya hak apa hingga berani ingin melaporkan saya?!"
Deg!
Dokter Fandi terkejut ketika mendengar ucapan Annisa. Ia menghela nafasnya. "Maaf, jika tadi saya mengganggu tidur kalian berdua. Tapi yang kalian lakukan tadi itu salah. Kalian bukan suami istri. Tidak sepantasnya tidur berdua seperti itu. Saya hanya mencoba mengingatkan kamu saudari Annisa! Bukan menegurmu? Bukankah kamu murid pesantren yang di pimpin oleh ustadzah Hanim?"
Annisa menoleh.
Deg!
Dokter Fandi terkejut lagi. Ia menatap Annisa dengan sorot mata yang entah seperti apa. Sedangkan Annisa menatapnya dengan dingin.
Tama yang ingin keluar dari kamar mandi setelah berwudhu, tidak jadi. Ia terpaksa berdiam di belakang pintu kamar mandi. Tama ingin tau, apa yang dikatakan selanjutnya oleh Annisa pada dokter Fandi.
"Saya tau batasan dokter Fandi! Dan ya, saya memang murid ustdzah Hanim di tempat itu yang merupakan ibu Anda, bukan?"
Deg!
Deg!
Lagi, dokter Fandi terkejut. Begitu juga dengan Tama. Ia membulatkan matanya saat mendengar ucapan Annisa.
Mati aku!
Tama menjadi gelisah disana. Takut akan dicurigai ia keluar dari kamar mandi tanpa melihat kedua orang itu yang masih saling bertatapan dengan wajah datar.
Dengan segera ia mendirikan sholat subuh yang sudah kesiangan untuk kedua kalinya. Dulu pun seperti ini.
Saat Annisa berumur tiga tahun. Mereka pernah tidur bersama karena Annisa waktu itu demam.
Dan hanya menginginkan Tama. Ia mengambil sajadah dan membentang kan nya. Sajadah yang sengaja ia ambil dari mushola rumah sakit.
Takutnya nanti kesiangan subuhnya. Dan tepat seperti dugaannya. Ia kesiangan hingga setengah tujuh baru bangun.
Terlalu nyaman. Ck. Dasar Tama!
''Allahu Akbar!'' Tama mengangkat takbir pertama untuk sholat subuh.
__ADS_1
Annisa menoleh Tama yang sedang sholat subuh dengan khusyuk, ia kembali menoleh pada dokter Fandi.
''Saya tau batasan Dokter! Saya tau yang mana haram dan halal untuk saya sentuh. Jadi, anda tidak perlu mengajari saya. Karena saya yang lebih tau. Tidak usah menerka-nerka ada hubungan apa antara saya dengan nya. Yang jelas, kami sudah halal untuk saling bersentuhan. Silahkan periksa saya. Selesai ia sholat, saya mau pulang!'' tegas Annisa dengan menatap tajam pada dokter Fandi.
Dokter Fandi menatap Annisa begitu dalam. Entah apa yang ada di hati dan pikirannya saat ini.
Yang jelas, Annisa tau. Jikalau dokter Fandi sudah mencurigai nya dan Tama. Tapi Annisa tidak ambil pusing.
Karena ia dan Tama sudah punya jalan keluar jika suatu saat mereka ketahuan seperti ini.
Tama selesai dengan sholat nya. Ia berdiri setelah melipat kembali sajadah itu dan meletakkan nya di kaki ranjang tempat Annisa tidur.
Ia menoleh pada dokter Fandi dengan wajah datar. ''Sudah di periksa dokter?'' tanya Tama dengan wajah datarnya.
Dokter Fandi menoleh padanya. ''Ya, ini akan saya periksa,'' sahutnya juga dengan datar.
Dengan cekatan ia memeriksa kondisi tubuh Annisa melalui termometer yang ia letakkan ke dalam mulut Annisa.
Setelah itu ia membuka jarum infus yang ternyata sudah habis. ''Baik, kamu sudah boleh pulang. Jaga pola makan dan istirahat yang teratur. Kamu kekurangan cairan. Perbanyak minum dan makan buah-buahan. Pagi ini juga kamu sudah bisa pulang.'' Kata dokter Fandi
Annisa mengangguk. ''Ya, terimakasih!'' ketus Annisa.
Tama sangat mengenal pribadi Annisa. Sangat mengenalnya. Bahkan sampai tanggal tamu bulanan Annisa pun Tama tau.
Hingga hal sedalam itu pun Tama tau. Apalagi sekarang. Tama sangat mengetahui jika Annisa tidak suka ada seseorang yang mencoba mengusik hal pribadi nya.
''Kalau begitu, saya permisi. Jangan lupa, banyak minum dan istirahat yang cukup,'' kata dokter Fandi.
Tama dan Annisa menggangguk setuju. ''Kita pulang?'' tanya Tama sambil mendekati Annisa yang sedang berusaha turun dari ranjang pasien.
''Ya, Abang duluan aja.'' Sahutnya, masih dengan wajah datar.
Tama menghela nafasnya. ''Abang harus memegangi tangan mu, agar kamu tidak jatuh saat berjalan-,''
''Nggak usah! Apakah Abang tidak dengar tadi apa yang dokter Fandi katakan?'' tanya Annisa sambil menatap Tama dengan wajah datarnya lagi.
Tama diam. ''Ku rasa Abang dengar tadi. Aku tau diri. Lebih baik sekarang Abang pulang ke bengkel. Dan aku akan pulang ke pesantren. Mungkin saat ini Sarah sudah ada didepan! Aku tidak mau keluar dari pesantren sebelum waktunya. Sebelum aku selesai, lebih baik Abang menjauh dariku!''
Deg!
Tama menatap Annisa dengan tajam. ''Aku pergi. Assalamualaikum!'' ketus Annisa.
__ADS_1
Entah kenapa ia masih merasakan kesal pada Tama. Padahal tadi malam mereka sudah lumayan baik. Dan juga Annisa menerima kehadiran nya.
Tapi ternyata salah. Annisa masih mengingat perkataan Tama kemarin siang hingga menyebabkan ia pingsan dan demam tinggi seperti itu.
''Sayang.. dengarkan Abang dulu. Kemarin Abang salah telah menuduhmu. Sebenarnya, Abang ingin bertanya siapa pemuda yang sedang berpelukan dengan mu. Itu saja. Maaf... perkataan Abang kemarin membuatmu terluka. Sungguh Abang tak bermaksud! Abang hanya ingin tau siapa pemuda itu. Tapi.. ya.. maaf sayang. Abang tidak suka melihat mu berpelukan dengan pemuda lain selain Abang...'' lirih Tama begitu pemn di akhir kalimat nya.
Annisa yang sudah berada didepan pintu berhenti. Tangannya pun yang hampir menyentuh handel pintu, ia urungkan.
Seutas senyum terbit dari bibir tipisnya. Sangat tipis. Ia berbalik dan menghadap pada Tama yang juga sedang menatap nya dalam jarak tiga meter.
''Abang sangat kenal siapa aku! Untuk apa Abang mencurigai ku dengan foto yang tidak jelas Abang dapatkan yang entah dari siapa. Apakah selama ini pernah aku berpelukan dengan pemuda lain selain adikku, Rayyan Putra Bhaskara? Adik tiri ku? Putra sulung Papi Gilang? Adakah Abang melihatku jalan berduaan selain dengan adik tampan ku itu?! Heh! Semua orang selalu menuduhku dengan tidak terpuji! Tanpa tau dulu siapa pemuda yang sedang bersama ku! Aku kecewa sama Abang! Bisa-bisa nya Abang menuduhku seperti itu, sementara Abang sendiri tau jika aku tidak pernah berpelukan selain dengan Ayah Emil, Papi Gilang, Bang Lana, Rayyan dan terakhir.. dengan mu Bang Tama!''
Deg!
Deg!
Deg!
Tama mematung mendengar penjelasan Annisa. Ia menatap sendu pada istri kecilnya itu. Ia menunduk, ''Maaf sayang.. Abang salah.. Abang salah.. Abang hanya takut, jika kamu pergi dan meninggalkan Abang seperti dulu lagi.. Abang hanya takut, kamu menduakan Abang.. Abang takut kamu pergi dari lelaki tua seperti Abang ini. Maaf sayang.. Abang salah.
Abang minta maaf..''
Tes.
Tes.
Buliran bening itu mengalir di sudut mata Annisa. Ia mengusap nya dengan kasar. ''Sudahlah Bang. Aku mau pulang ke pesantren! Aku ingin menenangkan diri dari rasa kecewa ku pada Abang. Dan ya, seharusnya aku yang bertanya kepada Abang. Siapa gadis yang Abang temui di mall Mak Alisa dua hari yang lalu sampai kalian bergandengan tangan dan berpelukan di parkiran?! Apakah itu kekasih barumu? Atau .. selingkuhan mu?!''
Deg!
''Apa maksudmu?!''
💕💕💕💕💕
Holaaa.. met pagi menjelang siang epribadeehh..
Hehehe...
Assalamualaikum.. semua!
Sudah siapan kah? Kalau sudah, cus kepoin cerita othor yang lainnya. Sambil nunggu adek Annisa update! 😁😁😁
__ADS_1