
Annisa tersedu di pelukan ayah Emil. Seolah waktu berputar hanya pada mereka berdua saja. Annisa melepaskan pelukan itu dan menatap ayah Emil yang kini sedang tersenyum lembut padanya.
Tetapi saat Annisa ingin bicara padanya, nafas itu tiba-tiba saja tersengal. Tubuhnya gemetar. Matanya terpejam erat. Annisa membeku di tempat. ''A-ayah?? A-ayah ke-kenapa?? Na-nafas A-ayah ke-kenapa??'' tanya Annisa tergagap. Bibir itu pucat seketika.
Tangan Annisa memegangi tangan ayah Emil dengan tubuh yang terus bergetar seperti menggigil. Ada air mata mengalir di pelupuk matanya.
''A-ayah.. ke-kenapa?? Se-sesak??'' tanya Annisa masih dengan tergagap.
Sedangkan ayah Emil tidak bisa menjawab pertanyaan Annisa. Putri kesayangan nya. Tubuhnya semakin bergetar hebat. Annisa ingin membangunkan seluruh keluarga tetapi Annisa tidak melihat siapa pun disana. Hanya mereka berdua.
Annisa terkejut. Ia hanya melihat Padang luas di sekitarnya. Tetapi di depan sana ada sebuah lorong yang bercahaya putih berkilau. Annisa tidak tau jalan apa dan terowongan apa itu.
Ia kembali menatap Ayah Emil. Kembali lagi menatap jalan di ujung sana yang begitu berkilau hingga menyilaukan matanya.
''I-ini a-ada a-pa?! Ki-kita di-dimana Yah?! A-a-yah-,'' ucapan itu terhenti Kala tangan dingin ayah Emil yang tadinya hangat kini berubah menjadi dingin. Bahkan sangat dingin seperti es.
''A-ya-h sa-sa-ya-ng hah hah hah ka-kamu-mu. Hah hah hah ja-ja-ga hah a-dik-muu.. d-dan.. Bu-bun hah da-mu.. A-a-yah hah hah hah pa-pa eeggh.. hah hah pa-pamit! La-ila-ha hah hah hah iii-lall- llal-llahhhhh...''
Plakk...
Tangan ayah Emil yang menyentuh pipi Annisa jatuh seketika di lantai. Mata itu sudah terpejam erat dengan bibir tersenyum pada Annisa.
Annisa terpaku di tempat. Bibir itu Kelu untuk berbicara. Tangan Annisa bergetar hebat. Ia menyentuh tangan yang tergeletak di lantai itu.
Tangan Annisa bergetar hebat. Ia mengambil tangan ringkih yang sudah dingin dan tidak berdaya itu.
Ia membawa tangan itu untuk ia kecup hangat. ''A-ayah.. A-ayh ke-kenapa ngomong Se-seperti itu hem? A-ayah bilang ingin tidur bersama ku? Tapi ini? Ayah ke-kenapa? Hiks..'' tiba tiba saja air mata itu mengalir tanpa henti.
''Hiks .. bangun Ayah! Bangun!'' sentak Annisa di tubuh ayah Emil.
Sedangkan yang disentak tetap tersenyum dengan wajah pucat nya. Annisa tersedu. Ia mengguncang kembali tangan itu.
__ADS_1
''Hiks.. ayaahh!! banguuunn!! Banguuuunnn!! Hiks.. Inikah tujuan ayah memanggil kami semua kesini? Inikah keinginan ayah membuatku menangis dan ditinggal seperti ini?? huh?!'' sentak Annisa lagi pada tubuh ayah Emil yang semakin membeku.
''Annisa... sayang...''
Deg!
Annisa yang sedang tersedu menoleh ke depan.
Deg!
Ayah Emil tersenyum padanya. Sangat tampan. ''A-ayah...'' lirih Annisa dengan leher tercekat.
''Iya sayang, i ini ayah. Ayah pamit. Jaga adik dan ketiga saudaramu yang masih kecil. Selalu awasi Arta dan Bella. Tetapi Syakir ia mirip sepertimu. Ayah percaya Syakir bisa menjaga dirinya sendiri. Sayang.. patuhi suami mu. Patuhi semua keinginan nya. Ayah pergi. Ayah hidup cukup sudah sampai disini. Ayah pergi, Nak. Jaga diri baik-baik sayang.. Ayah sangat menyayangi mu putriku.. semoga kita bertemu di Surga Nya Allah kelak. Assalamualaikum sayangku, buah hatiku. Cintaku.. bidadari surgaku.. Assalamualaikum...''
Annisa terpaku di tempat. Lagi dan lagi air mata itu turun dengan sendirinya. Ayah Emil tersenyum pada Annisa dan berlalu pergi masuk ke terowongan yang begitu dipenuhi cahaya berkilau.
Pyaaass.
Ia menunduk ke bawah. Dan terlihatlah jasad ayah Emil yang masih sama. Tersenyum padanya. ''A-a-yah...'' Annisa tersedu saat melihat ayah Emil yang sudah tidak bernyawa..
''A-a-yah...'' Isak Annisa lagi.
Ia semakin tersedu melihat jasad ayah Emil yang semakin membeku tidak bernyawa. Annisa terus saja tersedu di dada ayah Emil. Semua orang terlelap begitu damai.
Tidak terlihat diantara mereka yang terbangun karena suara raungan dan tersedu Annisa yang begitu menyayat hati.
''A-ayah.. hiks.. A-a-yah.. hiks.. aaaaaaaaaa... tidaaaaaaakkkk... huaaaa... aaaaaaaaaa..'' Raung Annisa di dada ayah Emil.
Hatinya begitu terluka saat ini setelah ia menyadari jika sang ayah telah pergi seperti penglihatan nya itu. Itu bukanlah mimpi. Saat ini nyata. Tapi kenapa hanya dirinya yang tau?
''Karena inilah permintaan terakhir ayah sayang.. ayah hanya ingin kamu yang melihat nya. Karena ketika kamu dilahirkan, ayah tidak pernah melihat dan bersamamu ketika kamu di adzankan. Ayah hanya ingin putri ayah yang melihatnya. Yang tidak pernah melihatmu terlahir ke dunia ini. Itulah permintaan ayah sayang...''
__ADS_1
Ddduuaarr!!
''Aaaaaaaaaaa.... aaaaaaaaaa... Ayyaaaaaaaahhh... tidaaaaaaakkkk... tidaaaaaaakkkk... ayyaaaaaaaahhh... jangan pergiiiiiiiiiii.... haaaaaaaa... aaaaaa...''
Ddduuaarrr!!
Suara petir diluar rumah seperti menyahuti setiap raungan Annisa. Annisa terus tersedu sedangkan semua orang yang ada disana tidak juga sadarkan diri.
Mereka seolah terbius sendiri hingga telinga mereka tertutup dan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Annisa terus saja meraung dan memanggil ayah Emil. Dadanya begitu sesak. Tidak tau harus dengan cara apa agar sesak itu berkurang.
Air mata berjatuhan membasahi dada ayah Emil. Annisa menggamit lengan ayah Emil yang mulai kaku. Dengan sigap ia menyatukan tangan itu di kedua dadanya tetapi longgar karena sudah terlalu lama.
Annisa bangkit dan mengambil hijab Bella yang seperti selendang. Ia mengikat tangan ayah Emil dengan itu. Setelah selesai ia turun ke bawah untuk mengambil kain panjang yang ada di dalam tasnya dan juga selendang putih miliknya.
Entah kenapa saat ingin membawa selendang hitam, ia malah membawa selendang putih. Ia mengambilnya, sebelum itu ia mengambil wudhu dulu.
Setelah selesai ia kembali memakai mukenah nya. Kemudian naik kembali ke atas masih dengan air mata bercucuran. Sesekali berhenti di undakan tangga. Rasanya ia tidak kuat menopang tubuhnya yang lemas dan bergetar.
Ia kembali dimana ayah Emil berada. Masih tetap sama. Ayah Emil seperti tersenyum di dalam tidurnya. Sangat damai. Wajah tampan mirip Papi Gilang itu tersenyum kepadanya. Annisa tersenyum, ia mendekati jenazah sang ayah dan menutup tubuhnya dengan kain panjang yang tadi ia ambil.
Lalu, selendang hitam ia letakkan sebagai bantal untuk kepala sang ayah agar tidak langsung menimpa Ambal sajadahnya.
Kemudian selendang putih, ia menutup itu di wajah ayah Emil dan berbisik lirih. ''Selamat jalan ayah.. hiks.. semoga Allah mengampuni seluruh dosa-dosa ayah Dimasa lalu dengan sakitnya ayah ini. Semoga kita kelak bisa bertemu di surga Nya Allah. Amiin.. akan kakak ingat selalu pesan ayah. Ayah bisa pergi dengan tenang sekarang..''
Dddduuuaaarrr!!
''Abangggg!!!''
Deg!
__ADS_1