
Annisa masih terdiam di depan pintu. Ia masih ingin tau, apa aja yang akan terjadi kepada suami dan gadis yang tidak ia kenal itu.
Annisa berdiri dan terkekeh kecil di depan pintu saat melihat Tama mendorong tubuhnya dengan kasar hingga hampir terjatuh ke belakang.
Annisa berdiri menyender disampingnya pintu dengan tangan menyilang di dada. Senyum mengejek terus tersungging di bibir tipis nya. Ia ingin tau sejauh mana ulat bulu baru itu menggoda suaminya.
Sementara gadis itu semakin mendekati Tama. Ia duduk di samping Tama yang kini sedang menatapnya dengan dingin. Amarahnya semakin memuncak saat tangan gadis itu menyentuh paha nya.
Tama menepisnya dengan kasar. Annisa terkekeh, sedangkan gadis itu pun ikut terkekeh tetapi sumbang.
''Santai Adrian.. kita ini baru ketemu loh.. masa' iya kamu udah nolak aku aja? Udah lupa ya sama Kenangan kita dulu saat SMA masa putih abu-abu??''
Deg!
Jantung Annisa berdegup kencang. ''Apa ya kira-kira kenangan mereka berdua?''' gumam Annisa dalam hati.
Dengan mata terus menatap pada kedua orang yang sedang perang itu. Annisa terkekeh lagi saat melihat wajah Tama sudah memerah saking kesalnya.
Wajah tampannya itu tiba-tiba saja berubah menjadi kesal setengah mati pada wanita di depannya itu.
''Kapan saya punya kenangan sama kamu? Jangan kan kenangan, duduk bersama kamu pun saya tidak pernah!'' ketus Tama pada wanita modis itu.
Annisa ingin tergelak. Tetapi ia tahan. Ia masih ingin melihat reaksi Tama saat menemui tamu penting nya itu.
__ADS_1
Wanita itu terkekeh, ''Kamu sudah lupa ternyata! Baiklah, akan aku ingatkan! Pertama, kamu itu pernah menciumku saat di belakang sekolah. Kedua, kamu pernah membawaku ketimsh Papa ku dan mengenalkan ku pada kedua orang tuamu. Dan yang ketiga, kita pernah berjanji untuk menikah setelah kamu sukses dengan usaha mu. Kamu lupa itu Adrian Pratama??''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..
Bagai dihantam tombak runcing dada Annisa merasa sesak seketika. Wajahnya itu memerah menahan amarah. Tama menatap dalam pada wanita itu kemudian tertawa.
Annisa terkejut. Wanita itu pun sama. Ia pun terkejut melihat tingkah Tama yang sedikit aneh menurut nya.
''Hahaha.. haha.. kamu yakin nona Siska Smith jika itu adalah Adrian Pratama??? Kamu tidak salah melihat orang??? Haha.. haha.. saya rasa mata kamu itu juling. Atau kamu tidak bisa membedakan yang mana wajah saya dan wajah setan?''
Mmpprrrrtthhh...
Annisa menutup mulutnya ingin tertawa. Sedangkan Tama terus saja tertawa. Sedangkan wanita itu tersenyum melihat Tama.
''Ya iyalah itu kamu Adrian! Aku belum lupa jika itu memang kamu. Kamu yang sering membawaku jalan-jalan pada saat malam hari ke tempat yang sangat romantis! Kamu lupa? Jika kita pernah duduk dibawah pohon beringin tua di belakang sekolah kita dulu? Kamu kan yang mengajakku ke sana? dan kita bersenang-senang disana?''
Deg!
''Hahaha.. itu bukan saya nona! Itu makhluk halus yang menyerupai saya! Ada-ada saja kamu! Kapan pula saya bersenang-senang dengan kamu sedang saya saja saat itu sedang berada dirumah Mak saya pada saat orang tuamu menghubungi saya?? Hahaha...''
Annisa semakin penasaran dengan sosok gadis ini. Tama yang sedang tertawa pun tidak sengaja melirik Annisa yang sedang berdiri menyender di pintu sambil menyilang tangan di dada.
Tama tersenyum, wanita itu keheranan. Ia menoleh dimana mata Tama yang melihat sesuatu sambil tersenyum.
__ADS_1
''Sini sayang! Ini tamu yang Tian katakan sama Kita kemarin malam!''
Deg!
Wanita itu terkejut melihat Annisa. ''Ka-kamu!!'' serunya dengan berdiri.
Annisa yang sedang berjalan keheranan melihat nya. ''Saya? Kenapa dengan saya?? Apa saya punya masalah Sama kamu? Saya rasa tidak deh. Lah wong lihat kamu aja baru sekarang! Iya kan Pi?''
Deg!
Wanita itu terkejut. Tama pun terkejut. ''Jangan terkejut gitu ih! Kan beneran Papi.. Papi dari anak-anak kita ..??'' ucap Annisa sambil mengusap perut datarnya dengan bibir tersenyum manis pada nya. Tak lupa dengan alis matanya pun ia mainkan.
Wanita itu semakin terkejut. Sedangkan Tama membulatkan mata nya. ''Sayang! Kamu?''
Annisa tersenyum lembut pada Tama dan mengangguk. ''Ya, anak-anak kita! Kamu lupa Pi?''
Tama yang sedang Cengo memandangi Annisa kini tersadar saat melihat kedipan mata Annisa. Ia tertawa kemudian mendekati Annisa yang kini sedang tersenyum lembut padanya.
Grep!
Suami istri itu berpelukan dihadapan wanita yang sedang terkejut itu. Annisa mengecup sekilas pipi Tama.
Tama semakin tertawa. ''Jangan berlebihan ih! Ini cuma sandiwara Abang!'' bisik Annisa di telinga Tama.
__ADS_1
Tetapi Tama tidak peduli. ''Biarin! Kalaupun iya, berarti usaha Abang selama hampir sebulan ini membuahkan hasil! uhuuyy!!'' celutuknya dengan tertawa.
Annisa menepuk pelan punggung hangat Tama. Tama tertawa. Ia senang mendengar kabar itu. Walau menurut Annisa itu sandiwara tetapi Tama berharap itu merupakan sebuah doa dari Annisa untuk rumah tangga mereka berdua.