
Selesai makan, kini semua murid sedang melakukan pemotretan untuk para siswi yang akan pergi meninggalkan pesantren itu.
Sesi pertama bersama dengan seluruh siswi yang lain. Sesi kedua, dengan dewan guru. Dan yang ketiga bersama keluarga. Annisa berfoto sendiri sambil memegang piagam miliknya dan juga piala yang lumayan besar berada di tangan kirinya.
Kemudian dengan kedua sahabat nya. Terakhir dengan sang suami tercinta. Annisa sangat senang berfoto bersama sang suami tercinta.
Berbagai macam gaya mereka berdua lakukan. Sang fotografer terkekeh melihat kedua pasangan beda usia itu.
Selsai dengan itu, Annisa dipanggil oleh ustadzah Hanim untuk berfoto ria dnehnnya dan guru-guru yang lainnya.
Sarah dan Mutia pun ikut. Kini tinggallah Tama berdua saja dengan fotografer itu. ''Nanti yang ini kamu cucikan ukuran 20 inc ya? Ini alamat saya. Kami kirimkan langsung kesana lengkap dengan bingkai nya.''
''Oke Bang. Sebenarnya kalian berdua itu mirip loh. Apakah Annisa ini adek, Abang? Ah maaf! Bukan maksudku mengulik urusan pribadi Abang. Hanya saja .. kalian berdua itu terlihat seperti pasangan suami Istri? Apa itu benar??'' tebak nya mbuat ayam tertawa.
''Kamu benar! Annisa itu istriku. Sudah akan kami menikah. Dan baru saja kami mengadakan resepsi bulan kemarin saat ia selesai ujian!''
''Hoo.. pantas saja! Saya merasa kalian itu seperti pasangan. Bukan seperti adik dan Abang seperti yang terlihat pada umumnya? Hehehe.. maaf bang! Saya salah kira!''
Tama pun tertawa. ''Tak apa. Ya sudah, saya kesana dulu ya?'' katanya pada sang fotografer itu.
''Silahkan Bang! Saya pun harus kerja lagi ini!'' jawabnya dengan segera mulai membidik lagi seseorang yang sudah berdiri di hadapannya kini.
Sementara seseorang di belakang Tama terus saja mengikuti nya. Hingga tiba-tiba saja kaki wanita itu tersandung dan menabrak tubuh Tama.
__ADS_1
Brukk..
''Astaghfirullah! Eh? Azura? Kamu itu kenapa? Jalan kok nggak hati-hati!'' ketus Tama pada Azura.
Azura meringis menahan sakit di mata kakinya yang sedikit terlilit karena tersangkut baju gamisnya tadi.
''Aduhh.. maaf Bang. Aku tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru ingin kesana. Tetapi kaki ku malah tersandung. Bisa bantu aku Bang?'' pintanya pada Tama.
Tama bergeming. Ia tetap berdiri tanpa menyambut uluran tangan Azura. ''Bang?? Ini beneran sakit loh.. di tolongin gitu!'' sungut Azura semakin tidak suka pada sikap Tama yang kini hanya menatapnya saja.
Tama menghela nafasnya melihat tingkah Azura. Ia jengah dengan kelakuan pura-pura wanita ular penuh obsesi dihadapan nya ini.
Tama menoleh ke sekeliling, ia tersenyum saat melihat seorang murid yang sedang berlalu mendekati nya dan Azura.
Tama tersenyum, ''Tentu. Saya akan kesana. Kamu papsh guru kamu ini. Kakinya terlilit. Saya harus Keanu segera!'' ucapnya ingin segera berlalu.
Tetapi tangannya di cekal oleh Azura dengan erat. ''Tega Abang ninggalin aku disini??'' lirihnya mendadak sendu.
Tama menepis tangan Azura. ''Aaauuhh.. sstttt...'' desis Azura begitu merasakan sakit di mata kakinya.
Ustadzah Siti melihat Azura kesakitan mendekati nya. ''Ada apa ini Azura?''
Tama menoleh. ''Kakinya terlilit ustadzah. Tolong bantu dia. Saya harus keruang guru dulu.'' imbuhnya membuat Ustadzah Siti mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
Ia berjongkok dan memeriksa kaki Azura. ''Aaaaaaaaaaa.. sssttt.. aduuhhhh..'' pekik Azura kesakitan.
Ustadzah Siti bangkit dan melihat Tama. ''Iya benar kakinya terkikis. Saya bisa merasakan jika kakinya saat ini bergeser. Lebih baik tolong anda bayarkan saja dulu Pak Tama. Soal Annisa nanti biar saya yang urus. Rumahnya tidak jauh dari sini kok. Dan Kamu! Jangan macam-macam!'' pringstnya pada Azura.
Azura hanya menunduk. Tama menghela nafasnya. Ia pasrah. Ingin menolak pun sudah tidak bisa. Tama seperti terjebak.
''Baiklah. Tolong sampaikan pada Annisa, kalau saya akan kembali lagi kesini. Saya harus mengantarnya dulu. Merepotkan saja!'' gerutunya begitu kesal.
Seorang murid itu mencoba memapah Azura. Tetapi Azura yang memang sedang mencari kesempatan, segera meraih lengan Tama untuk ia pegang.
Ingin menolak, ustadzah Siti melihat nya. Wajahnya datar dan dingin seketika. Mereka berdua menuju ke parkiran dimana mobil Tama bersda.
Tama ingin mengantar Azura ke rumahnya. Setelah membuka pintu dan Azura pun masuk yang di tuntun oleh seorang siswi itu, kini mobil Tama pun melaju sedikit kencang.
Azura senang bukan main. Bibir itu tidak berhenti untuk tersenyum. Di tengah perjalanan, ponsel Tama tiba-tiba berbunyi.
''Ya, waalaikum salam. Iya, ini lagi di jalan. Oke, Lima belas menit lagi Abang kesana. Oke! Ya, waalaikum salam.'' ucap Tama tanpa melihat pada Azura sedikitpun.
Azura tidak berhenti untuk menatap Tama. Mata itu terus saja menatap sesuatu yang diharamkan kan dan tidak untuk ia miliki.
Lima belas menit kemudian, mobil Tama memasuki showroom. Azura sumringah. Ia pikir Tama sengaja membawanya kesana.
''Jangan berpikir kalau saya sengaja membawa mu kesini! Saya ada pekerjaan sebentar! Setelah ini baru saya mengantar kamu kerumah mu! Jangan pernah bermimpi untuk bisa menjadi nyonya Adrian Pratama, Azura! Selamanya tetap hanya Annisa! Kalaupun Annisa tidak ada, aku tetap memilih sendiri dan tak ingin menikah lagi! Kamu camkan itu!''
__ADS_1
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...