Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Perpisahan sekolah


__ADS_3

Setelah selesai dengan drama saling menyayangi satu sama lain, kini keduanya sedang menghadiri perpisahan sekolah Annisa yang diadakan langsung diluar pesantren.


Ya, lapangan luas dihalaman pesantren cukup untuk menampung seluruh murid dan juga wali murid yang ikut mengahdirkan perpisahan sekolah itu.


Sarah dan Mutia sudah menunggu Annisa sedari tadi. Tiba di sekolah, mereka langsung saja mendatangi Annisa dan menariknya.


Tinggallah Tama seorang diri berjalan menuju lapangan luas yang kini sudah di tata dan dihias secantik mungkin untuk panggung dan juga kursi para orang tua wali untuk duduk.


Tama berjalan sambil terus tersenyum kala melihat Annisa di kejauhan sana begitu senang dan tertawa-tawa bersama temannya.


''Ya Allah.. jagalah Annisa untukku. Selalu dirinya dimana pun dia berada. Apapun yang terjadi setelah ini, hamba ikhlas ya Allah.. hmaba hanya bisa meminta. Kuatkan hamba dalam menghadapi ujian ini. Hamba tau, setiap ujian itu pasti tidak mungkin diluar kemampuan hamba. Hamba percaya pada keputusan takdir mu ya Robb .. hamba pasrah.. hamba serahkan semuanya kepada-Mu..'' lirihnya dalam hati dengan mata terus menatap pujaan hatinya.


Bibir tipis itu terus saja menyunggingkan senyum manis untuknya. Seorang wanita berhijab menghampiri nya.


Wajah Tama mendadak datar. Tahpa melihat pun Tama tau siapa yang sedang duduk disampingnya ini. Dari bau parfum yang ia pakai pun Tama sudah tau.


''Ad-,''


''Untuk apa kamu datang kesini?!'' ketus Tama pada seseorang yang kini sedang menatap nya itu.


Wanita itu terkekeh, ''Aku hanya ingin duduk di dekatmu sepeti ini. Apa salah?''


Tama mendengus. ''Salah! Dan sangat salah!''


Deg!


Wanita itu tetap tersenyum padanya. ''Cuma duduk doang loh.. masa' kamu marah sih sama aku??'' ucapnya semakin merapat kan diri dengan Tama.

__ADS_1


Tama tidak bergerak. Mata nya tetap menatap lurus ke depan dimana Annisa berada saat ini. Ia sedang mengikat satu buah karangan bunga di podium.


Wanita itu pun sama menatap Annisa disana. Senyum sinis tersungging di bibir nya. ''Kamu masih bersama nya Bang Adrian? Masih betah ya kamu sama seorang anak kecil seperti itu??''


Sunyi. Tama memilih diam. Ia tidak mungkin bangkit, jika kursi yang ia duduki adalah kursinya dan Annisa. Tetapi wanita yang tidak tau malu itu sengaja duduk disana.


Annisa tau itu. Ia yakin, kalau Tama bisa mengatasi pelakor berkedok ustadzah itu. Annisa sudah tau seperti apa kelakuan gurunya itu. Tetapi ia tidak mau merusak namanya.


Toh, itu bukan urusannya?


Wanita itu melirik Tama lagi. Sedang Tama masih saja sama. Datar dan dingin. Sepanjang acara perpisahan sekolah, wanita itu tetap duduk disana.


Ia tidak bergeser sedikit pun. Ustadzah Hanim menggeleng kan kepalanya melihat tingkah dakdh satu dewan guru itu. Ingin menegur tapi bukan saatnya. Yang ada murid yang lain akan curiga nanti.


Ustdazah Hanim memilih diam. Tunggu saat acara selesai, pikir nya.


Suara Annisa mengalun lembut dan begitu merdu. Seutas senyum manis terbit di bibir Tama. Annisa terus saja menatapnya.


''Maula ya sholli wasallim daimaan abadaa. A'lal Habibi ka Khoiri kholqi Kullu hibi..''


Senandung yang sama selalu senandungkan dirumah setiap harinya. Hingga Tama pun ikut bersholawat karena suara Annisa begitu merdu dan mendayu.


Alunan merdu yang sama dulu bang Lana bawakan u tuk Paling Gilang saat menikah dengan Mama Vita.


Senandung kenangan Papi Gilang dan bang Lana hingga saat ini masih terngiang-ngiang di telinga Annisa. Walaupun Annisa masilhalh sangat kecil waktu itu. Tetapi Kak Ira dan Papi Gilang selalu mengulang-ulang alunan sholawat itu hingga Annisa terpilih untuk menyandingkan sholawat itu.


Wanita disamping Tama itu menatap geram pada Annisa. Hanya dengan alunan sholawat saja senyum manis di wajah Tama langsung saja terbit.

__ADS_1


Sial! Gadis kecil itu selalu lebih dulu bisa mengambil hati Adrian! Ini Tidka bisa dibiarkan! Tunggu sebentar lagi!


Ia tersenyum smirk menatap Tama. Annisa melihat itu dari kejauhan. Walau berjarak dua puluh lima meter dari panggung dan tempat duduk Tama saat ini, Annisa tau.


Ia bisa melihat senyum smirk terbit di wajah wanita pelakor itu. Annisa geram. Tetapi tidak bisa turun dari podium karena acara belum selesai.


Annisa bersabar.


Seorang dewan guru menghampiri ustdazah Azura yang duduk disampingnya Tama untuk tampil di panggung.


''Permisi ustadzah. Saatnya anda untuk tampil. Ayo!'' ajaknya.


Ustadzah Azura mengernyitkan dahinya bingung. ''Seingst saya, saya itu tidak tampil loh. Ini kenapa saya yang tampil sih?'' ucapnya sedikit tidak terima karena mengganggu kesenangan nya.


Dasar licik!


''Walaupun anda tidak tampil, tetapi tempat anda bukanlah disini. Tetapi disana bersama kami. Apakah anda tidak melihat tulisan yang ada di psodn nama di meja ini??'' sindir ustadzah yang bernama Siti itu.


Ustadzah Azura mengepalkan tangan nya. Ia tau itu tanpa harus di ingatkan. Ia mental tajam pada ustadzah Siti.


Beliau tersenyum miring padanya. Ustadzah Azura bangkit dan berjalan dengan tergesa menuju tempat ia duduk seharusnya.


Ustadzah Siti tersenyum pada Tama. ''Maagkan beliau ya Pak Tama. Saya tinggal dulu. Sebentar lagi Annisa akan kesini,'' imbuhnya sambil menunduk sedikit pada Tama.


''Tentu Ustadzah. Silahkan!'' sahut Tama mempersilahkan.


Sedangkan dari kejauhan sana, ustdazah Azura mengepalkan kedua tangannya saat melihat Tama begitu senang saat nama Annisa dipanggil untuk performa lagi.

__ADS_1


Tunggu kau gadis kecil! Lihat saja! Akan aku balas kau! Hingga kau menangis darah nantinya!


__ADS_2