
Hehehe.. mana nih yang nunggu Tama pecah tanggul Annisa?
Yuk, othor update nih. Tapi kalian harus banyak lempar kembang buat othor ye? Othor maksa nih! 😒😁
Happy reading..
Anto tiba dirumah Tama sudah pukul sebelas lebih empat puluh lima malam. Mitha dengan segera membangunkan pengantin usang rasa baru itu.
''Abang! Kakak ipar! Bangun! Kita udah sampai dirumah!'' serunya dengan suara sedikit tinggi. Ia mengguncang dua tubuh yang saling berpelukan itu.
Anto terkekeh kala melihat wajah cemberut Mitha. ''Sabar sayang .. Abang kelelahan karena tamu undangan mereka begitu banyak. Kamu kan tau, kalau Abang itu pengusaha ternama setelah Papa Fabian??''
Mitha mengangguk tetapi masih saja cemberut. ''Ih, mana dibangunin nggak bangun juga. Ayo ah! Kita tinggal aja! Adek ngantuk Bang!'' katanya pada Anto.
Iaematik tanahnya Anto, sedang Anto tertawa. Sebelum pergi Mitha menutup pintu mobil itu lumayan keras membuat Annisa dan Tama terlonjak kaget.
Brraaakk..
''Astaghfirullah!''
''Lampu jatuh terbang ke atap!'' Tama mengerjab. Ia menoleh pada Annisa yang kini masih seperti orang linglung.
Setelah sadar, Tama tertawa. Anto dan Mitha yang baru saja membuka pintu rumah mereka pun mendadak berhenti. Keduanya terkekeh. ''Berhasilkan Bang??'' kata Mitha pada Anto.
Anto tertawa. ''Dasar kamu! Kok usil banget sih??'' sahutnya sambil mencubit gemas pipi chubby Mitha.
''Hehehe... jangan salahkan adek dong? Lah mereka dibangunin kagak bangun-bangun?? Salah siapa coba??'' Anto tertawa lagi.
Mereka berdua masuk kerumah sambil tertawa bersama memikirkan kalau Annisa dan Tama pasti terkejut saat mendengar suara pintu mobil di hempas dengan kuat.
Sedangkan Tama saat ini sedang berusaha menurunkan Annisa dari mobilnya. ''Ck. Dasar Mitha! Tunggu aja nanti! Akan aku balas adek kamu itu Bang! Bisa-bisa nya aku di tinggal dengan pakaian ini! Mana berat nya satu ton lagi!'' keluh Annisa
Tama terkekeh, ''Tak apa sayang. Kita berdua itu sudah tidur walau cuma satu jam. Abang yang akan bantuin kamu. Ayo, biar Abang gendong aja ya? Tapi kamu yang buka pintu, hem?''
__ADS_1
Annisa tersenyum, ''Tentu. Dengan senang hati! Ah... senang nya punya suami sudah tua bisa gendong-gendog kayak gini??''
Tama tertawa. ''Umur boleh tua sayang.. tapi stamina? Tidak akan kalah sama yang lebih muda! Kan kamu yang bilang kalau Abang ini bukan tua! Tetapi pria dewasa berumur matang! Begitu kan?'' tanya Tama sambil terus berjalan menuju pintu rumah mereka.
Annisa terkekeh, ''Yap! Betul sekali anda saudara Adrian Pratama! Ayo, kita buktikan makan ini! Sekuat dan seperkasa apa Abang saat akan memecahkan tanggul surga Milikku?'' ucap Annisa menantang Tama.
Tama berhenti dan menatap dalam pada Annisa. ''Oke! Kita lihat saja! Jangan salahkan Abang, kalau kamu tidak bisa berjalan nantinya! Palung surga kamu itu masih original! Oke! Kita lihat, kamu sanggup atau tidak?'' balas Tama tak kalah mantap dari ucapan Annisa tadi.
Annisa tersenyum, ''Oke! Kita buktikan!'' sahutnya mantap.
Tama tersenyum menyeringai. ''Habis kamu sayang! Berani kamu menantang Abang? Ayo, kita buktikan! Siapa yang akan kalah? Kamu atau Abang nantinya! '' batin Tama tersenyum misterius.
Annisa sempat melihat senyum aneh itu. Tetapi ia tidak peduli. Tangannya terus cekatan membuka pintu rumah mereka.
Ceklek!
''Eh? Kok gelap??'' tanya Annisa pada Tama.
Tak,
Tak,
Tak,
Tak..
Suara cetakan saklar lampu terdengar ke seluruh ruangan. Mulut Annisa menganga saat melihat rumah mereka sudah dihias begitu cantik seperti ruangan resepsi mereka tadi yang begitu banyak di penuhi dengan bunga mawar merah dan putih.
''I-ini... habis berapa kilo ini bunga mawar Bang??''
Tama menatap pada Annisa. Sedang yang di tatap saat ini masih melihat keseluruh ruangan setelah tadi pintu rumah mereka Annisa kunci terlebih dahulu.
''Abang! Ishh.. dijawab ih! Habis berapa kilo Bungan mawar di serak-serak kayak begini? Maulah habis satu taman kali ya?'' tebak Annisa yang mengundang tawa di bibir Tama.
__ADS_1
Tama tertawa. Annisa menoleh pada Tama. ''Kenapa Abang tertawa??'' tanya Annisa dengan tangan masih bergelayut manja di leher Tama.
''Haha.. kamu aneh sayang! Kalau gadis lain Abang buat kayak gini mereka itu ya, udah klepek-klepek sama Abang.''
Annisa mendelik. ''Ih, Abang mau pamerkan ini sama gadis lain gitu?!'' sewot Annisa
Tama tertawa lagi. ''Bukan gitu sayangku. Cup!''
Annisa melotot. ''Ishhh.. jangan cium-cium dulu! Nggak asik ah!'' sungut Annisa tidak terima.
''Ya habisnya, kamu itu lucu sayang. Kalau gadis lain dibuat seperti ini oleh Suaminya pastilah saat ini mereka senang bukan main. Menurut mereka jika mendapatkan ruangan di penuhi kayak gini di malam pengantin mereka itu artinya suami mereka itu romantis sayang!'' Tama jadi gemas sendiri dengan tingkah Annisa ini.
Ia terkekeh lagi. Annisa mencebik. ''Apanya yang romantis kayak begini?? Buat sampah berserakan dimana-mana iya! Ini siapa yang bakalan bersihin ruangan ini nanti?? Adek kan??'' ucap Annisa sembari mencebik kesal pada Tama.
Hingga mengundang gelak tawa dari Tama.
Buhahahaha...
''Ih Abang! Jangan tertawa Napa?! Udah tengah malam ini! Dikira Abang kerasukan lagi!'' tegur Annisa sedikit tidak suka dengan sikap Tama ini.
''Hahaha.. kamu ini. Ada-ada saja ulahmu. Masa' iya kamu mikirnya sampai sejauh itu sih?''
''Lah.. kan benar yang adek bilang? Siapa coba yang bakalan bersihin rumah kita. Kalau bukan Adek, Abang gitu??''
Hahaha...
Gemas sekali Tama pada istri kecilnya ini. Sungguh, suatu keberuntungan bisa mendapatkan Annisa yang super polos bin lugu ini.
Bisa-bisa nya dia berpikir seperti itu disaat suasana yang begitu mendukung. Seharusnya ia senang kan kalau Tama membuat suasana romantis untuk mereka berdua??
Ck. Dasar Annisa. 🤣🤣🤣
Masih ada lagi! Tungguin ye?
__ADS_1