
''Dek???''
Syakir tidak menyahut, tapi tangan itu bergetar. ''Mak bilang, Abang nggak boleh banyak-banyak jajan. Nanti bodoh katanya. Tapi kalau Arta, Mak sering ngasih sepuluh ribu satu untuk uang jajan nya. Belum lagi untuk yang sekolah yang untuk apa kata nya. Abang sering ngasih kak. Terkadang pun ketika Uwak Andi datang Abang selalu di berikan uang lebih tapi di ambil oleh Mak lagi. Sedang adek Arta tidak. Ia di bebaskan untuk memegang uang banyak. Hiks.. kalau boleh, Abang ikut kakak aja ya?? Abang nggak mau tinggal bersama Mak dan ayah. Mereka berdua pilih kasih kak. Bawa Abang pergi kak.. hiks.. Abang nggak kuat disana. Sedari adek Arta ada, Mak sama ayah lebih peduli padanya ketimbang Abang. Abang selalu di di kemudian kan. Hiks.. bawa Abang pergi kak.. hiks..'' Isak Syakir lagi, ia kembali memeluk tubuh chubby Annisa yang merasa begitu nyaman ketika ia peluk.
''Astaghfirullah al'adhimm...'' ucap Tama dan Annisa secara bersamaan.
''Kok bisa gitu ya Bunda? Setahu Kakak bunda dan Ayah nggak kayak gitu orangnya. Tak apa. Besok panggilkan Arta untuk datang kerumah sakit. Kalau kamu tidak ingin berbicara padanya, Tak apa. Biar Kakak nanti yang bilang sama Bunda. Abang temani adek malam di rumah sakit ya? Kamu juga Dek. Kamu harus belajar dulu itu ponsel. Nanti Kakak yang bilang sama Bunda dan Ayah. Kamu jangan takut, hem?''
Syakir mengangguk patuh. Ia menyusut cairan kental yang hampir menetes ke mulutnya. Annisa tertawa. Syakir pun ikut tertawa.
Sementara Tama terkekeh kecil melihat tingkah adik kakak itu. ''Sayang??''
''Hem?''
__ADS_1
''Jangan bicara kasar sama Bunda dan ayah ya? Sebelum kamu berbicara pada mereka, kamu berbicara dengan Arta dulu. Bukan maksud Abang melarangmu, tidak. Abang hanya sedang memberimu saran. Saran agar kamu menegur kedua orang tua kita dengan lembut. Jangan sampai menyinggung perasaan mereka berdua. Bisa durhaka kita nanti. Bukan hanya kamu yang berdosa. Tapi Abang juga. Udah tau kamu istri Abang. Tapi Abang malah diam dengan semua perkataan yang menyakiti kedua orang tua kita. Abang nggak mau itu sampai terjadi, paham?'' ucap Tama dengan suara lembut pada Annisa.
Syakir tertegun mendengar ucapan Tama. Annisa tersenyum dan mengangguk patuh. ''Tentu. Memang itulah yang ingin adek lakukan. Sebelum bicara sama Bunda dan ayah, adek ingin ngomong dulu sama Arta. Adek harus tau dulu, apakah lidah berbisanya itu masih belum berubah??'' ketus Annisa di akhir kalimat nya.
Tama terkekeh. Sedang Syakir menatap Annisa dengan dalam. "Udah .. jangan termenung gitu. Kamu jangan takut. Jikalau suatu saat Bunda sama ayah ingin mengambil ponsel itu, pertahankan! Ponsel ini khusus kakak yang beli. Akan kakak sampaikan itu nanti. Kamu tenang saja. Dan jikalau suatu saat bunda sama ayah mengusir mu. Larilah ke tempat Bang Tama. Tinggal dirumah kami. Kakak akan menerima mu kapan pun kamu datang. Tapi tidak sekarang. Jikalau kamu di usir loh ya? Jangan macam-macam Dek!'' peringat Annisa pada Syakir.
Syakir mengangguk dan tersenyum manis pada Annisa. Tama pun ikut tersenyum. Saat ini mereka bertiga sudah tiba di rumah sakit. Dan sangat kebetulan, Arta datang diantar oleh Uwak Udin.
''Loh, Kakak!!'' seru Arta sambil berlari mengejar Annisa dan Syakir.
''Assalamu'alaikum nak..''
''Waalaikum salam Uwak.. apa kabar Wak? Sendirian? Uwak Nia nggak ikut??'' tanya Annisa sembari mengecup takzim tangan uwak Udin.
__ADS_1
Uwak Udin tersenyum. ''Uwak mu tidak ikut. Uwak datang kemari karena Arta ingin kesini. Dia kesepian katanya dirumah sendiri,'' jawabnya dengan sedikit kekehan kecil di bibirnya.
Annisa menatap Arta yang sedang menunduk tidak berani menatap nya. Annisa tersenyum tipis. Sementara Syakir merapatkan tubuhnya pada Tama. Tama tau itu. Dengan senang hati ia merangkul bahu adik ipar kecilnya itu.
''Baiklah, ayo kita masuk.'' Ajak Uwak Udin pada Annisa dan Tama.
Mereka mengangguk bersama. Arta menatap tajam abangnya itu. ''Arta! Jaga matamu!sebelum kakak mencongkel kedua matamu hingga matamu buta!''
Deg!
Deg!
Bunda Zizi dan Ayah Emil terkejut mendengar ucapan Annisa yang begitu kasar pada Arta adiknya. ''Nak??'' panggil ayah Emil pada Annisa.
__ADS_1
Annisa menatap datar pada Ayah Emil, Arta dan Bunda Zizi. Tama mengelus lengan Annisa untuk menenangkan nya. Tapi Annisa tetaplah Annisa.
Apa yang ada pada dirinya sudah terpancing dari pertama bertemu, Annisa tetap akan mengeluarkan aura mematikannya untuk orang yang sudah berani berbuat tidak baik kepada saudara nya yang lain.