Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Balik ke pesantren


__ADS_3

Semenjak kejadian sore itu, kini hubungan keduanya semakin lengket. Tidak ada kata canggung lagi saat mandi berdua. Bahkan Tama lebih sering menggoda Annisa yang ternyata tidaklah sepolos yang ia kira.


Ketika ditanya darimana ia belajar, Annisa mengatakan jika di pesantren setiap malam rabu nya pasti membahas hal tentang adab berjimak dan tata cara yang baik itu seperti apa.


Sampai hal hal terkecil pun di jelaskan di sana. Tama sampai tergelak mendengar cerita Annisa saat mereka telah selesai melakukan hal yang seharusnya.


Annisa.


Gadis kecilnya itu umur saja yang masih muda. Sedang pikirannya setara dengan wanita dewasa seumuran dengannya. Tama sangat bangga mendapatkan Annisa. Jika Annisa jatuh ke tangan orang lain, entah apa yang akan akan terjadi. Tama pun tidak tau.


Seminggu telah berlalu dimana mereka berdua selalu bersama. Saat ini mereka berdua sedang berada di mobil dan masih berada di halaman rumah mereka.


Tama yang sedang duduk di kursi kemudi berbalik dan menghadap Annisa. ''Beneran, adek mau pulang ke pesantren?? Nggak ingin sama Abang aja?? Abang akan kesepian loh tanpa kamu?'' bujuknya pada Annisa.


Istri kecilnya itu tersenyum lembut pada Tama. ''Memang ini yang harus terjadi kan?? Masih ada satu tahun tiga bulan lagi loh.. akhir semester kalau adek udah selesai ujian, Abang jemput ya? Nanti adek hubungin Abang. Kita bisa sepuasnya tinggal bersama. Ya .. walau hanya sebulan sih.'' Annisa terkekeh


Begitu juga dengan Tama. Ia menarik tubuh berisi itu untuk masuk kedalam dekapannya. ''Hemm.. Abang pasti akan kangen banget sama kamu! tidur nggak ada kamu itu nggak enak! mana nggak bisa video call lagi. Ck! Nggak usah pergi ya?" pintanya lagi dengan wajah memelas nya.


Annisa tertawa. "Nggak bisa Abang, ustdzah Hanim pasti ngamuk jika adek nggak balik hari ini. Ayo ih! Bawa mobilnya. Adek udah telat ini!" gerutunya pada Tama dengan manja.


Tama terkekeh, gemas ia mengecup seluruh wajah Annisa. Terakhir ia labuhkan kecupan lama di bibir yang selalu membuatnya candu. Dirasa cukup, Tama melepaskannya.


Ia mengusap bibir sang istri yang penuh dengan pertukaran Saliva mereka. Mata mereka saling menatap dengan bibir tersungging senyum manis. Tama menyatukan kening mereka berdua.


Dirasa cukup, Tama melepaskan dekapan hangat nya. Ia kembali memegang stir mobil dan melajukan mobil mereka menuju ke pesantren tempat Annisa belajar kembali.


Sepanjang perjalanan Annisa berceloteh ria. Hingga suasana ramai di dalam mobil Tama. Tama hanya bisa tertawa saat mendengar lelucon Annisa.


Mereka tertawa bersama. Tanpa sadar perjalanan mereka kini telah tiba di pesantren. Sebelum turun, Tama sempat mengambil kecupan lagi di bibir Annisa.


Membuat Annisa terkejut.


Cup!

__ADS_1


"Emmmhh..." Annisa memukul tubuh Tama agar melepaskan pagutan nya, namun Tama tidak ingin.


Mata Annisa semakin melotot saat melihat ustadzah Azura dan ustdazah Hanim baru saja membuka pintu gerbang untuk Annisa.


Annisa melepas paksa pagutan Tama, membuat Tama kecewa. Ia menghela nafasnya. "Maaf .. Abang butuh asupan nutrisi sebelum berpisah denganmu. Seminggu satu atap bersama mu, membuat Abang terbiasa hidup denganmu. Abang akan kesepian setelah ini.." lirih Tama dengan memeluk erat tubuh Annisa.


Annisa membalas pelukan Tama tak kalah erat. Dirasa cukup, Annisa melepaskan nya dan turun dengan tergesa. Di ikuti Tama di belakang nya.


Tiba di depan kedua ustdzah berbeda karakter itu Annisa nyengir kuda. "Maaf, ustdazah saya terlambat!" ucapnya pada ustdzah Hanim.


Ustdzah Hanim menghela nafasnya. "Oke, hukumannya hafalan ayat surah ke dua puluh dua ayat lima puluh dua. Baca dan lengkap dengan tafsirnya! Ayo masuk! Sepanjang jalan kamu harus menghafalkan nya!" tegas ustadzah Hanim, Annisa mengangguk.


Annisa berbalik dan menyalami tangan Tama dengan takzim. "Adek masuk ya? Assalamualaikum.."


"Waalaikum salam.." sahut Tama dengan tersenyum menatap Annisa.


Ustdzah Hanim dan Annisa segera berlalu. Sedangkan Ustadzah Azura masih berdiri dan menatap Tama yang masih melihat punggung Annisa berjalan bersama ustdazah Hanim.


Plakk..


Deg!


Ustdazah Azura terkejut, ia tak menyangka jika Tama akan menepis tangannya begitu hingga menimbulkan seperti suara tamparan.


"Bukan mahram! Maaf Azura! Saya harus segera pergi! assalamualaikum!"


Deg!


Jantung Ustdazah Azura seperti di tusuk sembilu. Sakit sekali. "Waalaikum salam..." lirihnya begitu nelangsa.


Ia tak menyangka, jika perkataan Tama seminggu yang lalu terbukti sekarang. Tama pergi tanpa berbalik melihat nya. Ia masuk ke mobil dan mulai melajukan mobil itu untuk menuju bengkel miliknya.


Sementara ustadzah Azura semakin geram ketika melihat Annisa masih bisa tertawa-tawa setelah Tama mematahkan hatinya kemarin.

__ADS_1


Ia menatap datar pada Annisa yang sedang tertawa bersama Sarah. Entah apa yang kedua gadis itu bahas, ia pun tak tau. Tangannya mengepal erat saat sekilas tadi ia melihat jika Tama sempat bermesraan lagi di dalam mobil mereka bersama Annisa.


Beruntung nya Annisa, ustadzah Hanim tidak melihat nya. Hanya ustdzah Azura yang melihatnya.


"Tunggu pembalasan ku gadis liar! Kau akan tau berhadapan dengan siapa! Aku akan merebutnya darimu. Sedari dulu, Adrian tercipta untukku dan dia sangat menyukaiku! Tapi semua itu hancur saat kau hadir di dalam hubungan kami berdua! Apa-apa Annisa! Sedikit-sedikit Annisa! Semuanya Annisa! Tunggu kau! Aku akan membalas rasa sakit hatiku! Kau akan merasakan sakit yang tiada Tara hingga rasanya berpijak pun kau tak mampu! Jangan panggil namaku Azura Mawardah jika aku tidak bisa menyingkirkan mu dan juga mendapatkan Adrian kembali!"


"Tunggu saja! tunggu tanggal mainnya! kau akan tau berhadapan dengan siapa! Kau akan menyesal Karena telah berani merebut yang menjadi milikku! Tunggu kau Annisa! Tunggu tanggal mainnya!" ucapnya sambil menatap nyalang pada Annisa yang sedang tertawa-tawa bersama Sarah.


Seutas senyum miring terbit di sudut bibir ustadzah Azura. Entah apa yang akan ia lakukan nanti pada Annisa dan Tama, cuma dia yang tau.


Ia sudah merancang semua ini sejak lama jika caranya meluluhkan Tama dengan cara baik-baik tidak mempan.


"Jangan salahkan aku bang Adrian! Jika aku mengambil langkah ini. Aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu. Aku mencintai dari hari ke hari. Bahkan sampai saat inipun, rasa itu tidak pernah pudar di hatiku. Dan aku, Azura. Akan merebutmu dari adik angkatmu itu. Aku tak peduli jika kau mencintai nya! Tapi aku mencintaimu! Aku adalah Azura! Apapun yang aku inginkan harus menjadi milikku! Termasuk Adrian Pratama! Pemuda sukses dengan usaha bengkel dimana-mana. Jangan salahkan aku matre! Tapi inilah kenyataan nya! Semua perempuan itu butuh modal untuk hidup dan mempercantik diri. Dan itu aku dapatkan darimu, Bang Adrian Pratama!"


"Tunggu aku! Aku akan datang ke padamu setelah aku menyingkir kan benalu di dalam hubungan kita!" gumamnya lagi semakin semangat ingin melancarkan aksinya yang entah seperti apa.


Hanya Tuhan lah yang tau, apa yang sebenarnya di rencanakan oleh ustdzah Azura untuk memisahkan hubungan Annisa dan Adrian Pratama.


💕💕💕💕


Kira-kira apa ya yang sedang direncanakan oleh ustadzah Azura??


Othor jadi kepo! 🤔🤔🤣🤣🤣


Oh iya deng! Sabil nungguin adek Annisa, mampir yuk di karya othor yang baru. Ada dua nih baru rilis.



Yang ini udah ada enam bab.



Dan yang ini baru rilis tadi. Mampir ye? othor tunggu like dan komen klean selalu othor tunggu disana! 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2