
Setelah melihat kepergian Tama naik ke atas untuk menuju kamar mereka, Annisa melangkah kan kakinya menuju ruang tamu mereka. Dimana ustadzah Azura berada.
Tiba disana, Annisa terkejut melihat jika orang yang di tinggal tadi sudah tidak ada lagi. Annisa menghela nafasnya.
''Ck! Dasar Azura! Wajahnya terlihat seperti seorang ustadzah, tapi kelakuan? Cih! Pelakorr!! Hadeeeuuhh.. ada aja zaman sekarang ini. Nggak pelakorr nggak pebinor semuanya meresahkan! Aku harus kuat pasang badan ini! Ck! cocoknya aku pasang rantai baja kali ya di pinggang Abang? Biar nggak ke bawa mereka gitu? Ishhh.. kesel aku! Hah! Lebih baik nulis ah! Mumpung lagi banyak ide tentang pelakorr!! hihihi...'' Annisa terkikik geli saat mengatakan hal itu.
Dengan segera tubuhnya berbalik untuk masuk ke kamar mereka yang berada diatas. Dan betapa terkejutnya Annisa saat melihat Tama sudah berdiri di belakang nya dengan tersenyum manis padanya.
''Astaghfirullah ya Allah! Abang!! Ishhh.. suka banget sih ngejutin kayak gitu?! Hampir copot nih jantung! Hadeeeuuhh... meresahkan!'' kata Annisa begitu lebay
Tama tertawa. ''Hahaha.. kamu bisa aja sih sayang. Lagi ngomelin apa sih? Pelakorr, pebinor? Siapa? Nulis? Adek nulis apa? Novel online kah??''
Deg!
Annisa terkejut mendengar ucapan Tama. Secepat kilat wajah itu berubah menjadi cengengesan.
''Hehehe... cuma kesel aja tadi. Ada tamu tak di undang berniat ingin merebut laki orang, terus mumpung ide itu lagi ada, rencananya mau di tulis dibuku tentang cerita pelakor dan pebinor! Begitu Abang!''
''Hoo.. begitu ya? Terus tadi itu apa? Katanya Abang harus dirantai biar nggak Kebawa
__ADS_1
? Kebawa siapa??" tanya Tama pada Annisa
Yang ditanya malah nyengir kuda. "Hehehe.. Iya maksud adek tuh, abang lah yang harus dirantai! Kalau bisa pun rantai baja sekalian! Kan berat tuh kan ya! Jadi mereka nggak ada kesempatan untuk bisa membawa kabur Abang seperti kemarin itu, saat bersama Kak Selena dan ustadzah Azura!" ketus Annisa
Tama tergelak kencang melihat kecemburuan Annisa begitu nyata terlihat. Sekarang Tama baru percaya jika Annisa mencintai dirinya tapi entah sejak kapan. Inilah yang harus Tama cari tau. Biarlah nanti malam saja pikirnya.
Cup!
Tama mengecup lagi bibir yang semakin membuatnya candu. Ia mengecup, memaguut dan ******* bibir kesukaannya itu yang terasa sangat manis.
Dirasa cukup, Tama melepaskan pagutannya dari bibir sang istri yang semakin bengkak akibat ulahnya.
Malu.
Inilah yang dirasakan Annisa saat ini. "Sayang, buka matamu!" titah Tama pada Annisa
Annisa menurut. Mata berbulu lentik yang terpejam itu terbuka sedikit demi sedikit. Terlihat wajah tampan Tama begitu dekat dengan wajahnya saat ini.
"Lihat Abang!" Annisa mendongak menatap wajah tampan Tama. "Terimakasih vitaminnya pagi ini. Hari-hari Abang akan lebih semangat lagi sekarang karena sudah mendapatkan vitamin darimu! Jangan lupa masak ya? Nanti malam kita makan bersama. Ada yang ingin Abang tanyakan padamu! Hem?" ucap Tama pada Annisa
__ADS_1
Annisa tersenyum melihat Tama. "Tentu. Apapun yang tuanku inginkan pasti akan terlaksana!" jawab Annisa sambil nyengir kuda pada Tama.
Tama terkekeh. Gemas, ia mencubit hidung bangir Annisa dan mengecupnya sekilas. "Ya sudah, tutup pintu rumah. Jangan lupa di kunci. Abang pergi ya? Assalamu'alaikum sayang.."
"Waalaikum salam Abang.. Semoga selamat sampai tujuan dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Dan juga.. Jangan lupa bawa pulang tintingan seperti semalam!"
Annisa mengedipkan matanya pada Tama. Sedangkan Tama tertawa lepas. Tiada hari tanpa Annisa di hidupnya.
Untuk sekarang maupun nanti, yang Tama inginkan hanya Annisa. Entah apa yang akan terjadi jika suatu saat Annisa pergi, pastilah Tama akan kehilangan separuh hidupnya.
Entahlah.
Tama pun tak tau. Yang jelas, untuk sekarang ia ingin menikmati harinya bersama Annisa. Sebelum Annisa harus kembali ke pesantren kembali untuk menuntut ilmu selama dua tahun lagi.
Sampai saat itu tiba, Tama akan bersabar menunggu untuk menyentuh dengan sempurna istri kecilnya.
💕💕💕💕
Hehehe.. Nggak jadisatu. Othor tambah deh satu lagi. Mumpung belum ngantuk!
__ADS_1