Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Cinta sejati


__ADS_3

Tama pulang dengan tatapan kosong. Ia berjalan sampai melamun, sampai menabrak pot bunga yang ada di depan pintu gerbang.


Duukk..


Braaakkk...


''Astaghfirullah! Bang Tama!'' seru Pak satpam.


Tama terkejut, ia menoleh pada Pak satpam yang sedang mengejar nya. Tama tak sadar jika sudah menabrak pot bunga yang terbuat dari semen itu.


Tak ada rasa sakit sedikitpun di kakinya. Ia melihat kebawah saat Pak satpam memeriksa lututnya dari sebalik celana bahannya berwarna hitam.


''Ya Allah.. merah Bang! Ayo, ke pos dulu. Biar saya obatkan. Disana ada kotak P3K. Ayo, memar ini kedua lutut Abang!'' serunya begitu khawatir melihat Tama seperti orang linglung. Dengan cepat ia menarik tangan Tama menuju ke pos satpam.


Selama ia mengenal Tama, baru kali ini Pak satpam itu melihat Tama tidak ada gairah hidup sama sekali.


Ia menduduki Tama di kursi kayu miliknya. Dengan segera tangannya mengambil kotak P3K untuk mengobati lutut Tama.


''Abang kenapa? Lagi ada masalah kah dengan Neng Annisa? Jika iya, bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini? Abang sampai terluka lututnya? Sakit tidak?'' tanya Pak satpam pada Tama.


Tama diam, matanya menatap kosong pada seluruh kawasan pesantren.


Tes.


Tes.


Buliran bening jatuh basah menimpa pipi dan tangan Pak satpam yang sedang mengobati lututnya.

__ADS_1


Pak satpam mendongak. Terlihat air mata Tama terus mengalir deras. Tapi tidak terdengar isakan sama sekali.


''Bang Tama...''


''Kenapa? Kenapa dia ingin berpisah dariku? Apa salahku? Aku cuma menunjukkan foto itu padanya, kenapa dia meminta berpisah dariku? Salah ya menuduhnya seperti itu?'' ucap Tama entah pada siapa.


Pak satpam tertegun dengan ucapan Tama. Siapa yang sedang dibicarakan nya? Annisa kah? Bukannya bang Tama tadi ingin bertemu dengan Annisa? Apakah...


''Aku sangat menyayanginya. Lebih dari yang dia tau. Aku sangat mencintainya. Tapi kenapa tega ia ingin berpisah dariku? Aku hanya bertanya, bukan menuduhnya seperti itu? Aku harus apa sekarang? Dia minta pisah dariku, sedang aku tidak ingin berpisah darinya. Sejak kecil hingga sekarang aku selalu menyayangi nya. Hingga tanpa sadar rasa yang disebut cinta menelusup ke dalam hatiku. Apa salahku? Kenapa kamu tega meminta pisah dariku saat perpisahan sekolah nanti? Apakah cinta mu itu palsu?'' racau Tama lagi yang semakin membuat Pak satpam bertambah tertegun.


''Bang Tama.. maaf jika saya ikut campur. Tapi dari yang saya lihat, bukankah tadi Abang bertemu dengan Annisa? Apakah yang sedang Abang katakan ini adalah Annisa?''


Tama menoleh dan menatap Pak satpam dengan air mata yang terus bercucuran. Wajah datar tanpa ekspresi. Khas Tama saat pertama kali melihat pemuda tampan ini.


''Annisa minta pisah dariku Pak. Apa yang harus aku perbuat sekarang? Bukan aku menolaknya. Hanya saja... aku tidak suka dengan kelakuan nya yang memeluk lelaki lain tanpa seijin ku! Apakah.. aku salah Pak??''


''Aku sangat mencintai dirinya lebih dari yang dia tau. Bahkan saat pertama kali tanganku ini menggendong nya saat ia lahir, entah kenapa aku sangat menyukainya. Bahkan hatiku bergetar saat ia mengenali suaraku ketika aku mengadzani nya.. hiks.. aku sangat mencintainya Pak.. sangat mencintai nya.. sekarang apa yang harus aku perbuat, ia minta pisah dariku, saat ia tamat dari pesantren ini. Aku harus apa Pak Hamdi? Aku harus apa Pak??'' Tama terisak dengan bahu berguncang.


Lagi dan lagi Pak satpam semakin tertegun dengan ucapan Tama. Ia menatap Tama yang sedang terisak dibangku yang selalu ia duduki saat berjaga.


Bagi separuh lelaki pasti malu menangis dihadapan lelaki lain. Tapi tidak dengan Tama. Ia menangis sesegukan karena cintanya meminta pisah karena tuduhannya.


Pak satpam sudah menebak, memang ada hubungan khusus antara Tama dan Annisa. dua tahun sudah Annisa sudah di pesantren itu, dua tahun juga Tama sering mengunjunginya.


Sangat terlihat jelas pancaran cinta dari mata keduanya. Tapi sengaja mereka tutupi. Air mata Pak satpam menetes mengingat Annisa pernah menangis ketika mendapatkan kabar bahwa Tama sedang pingsan dan terjatuh dari motor nya saat ingin mengunjunginya satu tahun lalu.


Cinta.

__ADS_1


Cinta dan sayang itu sangatlah berbeda. Jika kita menyayangi maka kata itu ditujukan kepada orang tua, adik, kakak, Abang atau Sabahat.


Sedangkan Cinta? Kata khusus ini memang tertuju untuk pujaan hati. Seseorang yang sudah terikat begitu dalam di dalam hati kita.


Kita rela melakukan apapun demi cinta. Termasuk menangis seperti ini. Di saat hati terluka karena cinta, maka dunia kita terasa runtuh seketika.


Inilah yang sedang Tama rasakan. Begitu juga dengan Annisa. Sama-sama terluka karena perkataan masing-masing.


Hingga membuat hati menangis dan tersedu tidak tau tempat. Yang dipikitkan hanya cinta. Cinta yang membuatnya bahagia dan juga cinta yang sudah membuatnya terluka


Cinta sejati? Entahlah. Jika diperhatikan, Tama dan Annisa ini bisa dimasukkan dalam kata cinta sejati?


Ya, bisa. Dua orang yang terikat sejak lama. Saling menyukai dan saling menyayangi hingga saling mencintai, terluka saat salah satu terluka.


Bahagia jika ia bahagia. Dan akan tiada bila seseorang yang dia cintai pergi meninggalkan nya.


Hubungan sepasang anak manusia yang seperti ini bisa disebut dengan cinta sejati. Jika Annisa tidak ingin berpaling dari Tama, maka Tama tidak ingin berpaling darinya.


Sama-sama mencintai, saling membutuhkan tapi tidak bisa memilki karena terhalang oleh usia.


Tapi mereka tetap cinta. Cinta yang tidak akan pernah pudar. Bisa terlihat dari amarah Annisa saat terluka begitu juga saat Tama menangisi Annisa karena ucapan nya.


Annisa dan Tama adalah sepasang anak manusia yang terikat takdir sejak mereka masih kanak-kanak. Terutama untuk Annisa.


Cinta sejati yang tidak akan pernah terganti. Memang belum terlihat, tapi sudah terbukti nyata dihadapan mereka berdua.


💕💕💕💕💕

__ADS_1


Cinta sejati? Apakah itu ada? Apakah itu benar?


__ADS_2