
''Hiks.. terimakasih kasih kak!'' ucap Bella lagi pada Annisa.
Annisa tersenyum dan memeluk erat tubuh adik kecilnya itu. Ia melirik Kinara dan Algi. ''Dek??'' panggil Kinara
Bella mengurai pelukannya dari tubuh Annisa. ''Iya kak. Hiks.. kakak bawa apa? Abang??'' tanya Bella pada Kinara dan Algi.
Kedua saudara kembar itu tersenyum lembut padanya. ''Kami hanya punya ini. Semoga kamu suka ya?'' kata Kinara pada Bella.
Bella turun dari pangkuan Annisa dan duduk di depan nya. Bella dengan cekatan membuka kotak kado pemberian Algi dan Kinara. Ia terkejut kala melihat hadiah pemberian dari Kinara dan Algi.
Lagi, mata itu berkaca-kaca. Ia menatap pada Algi dan Kinara. Bella tersedu. ''Semoga muat ya Dek?'' kata Kinara pada Bella.
Bella mengangguk sambil tersedu. Ayah Emil tertegun Kala melihat hadiah pemberian kedua anak papi Gilang itu. ''Nak??'' panggil ayah Emil pada Annisa.
Annisa tersenyum, ia melirik Tama. Tama mengangguk dan segera keluar menuju mobilnya. Setelahnya ia kembali masuk dengan membawa dua buah sepeda beda ukuran yang di tujukan untuk Syakir dan Arta.
Lagi dan lagi keluarga bunda Zizi terkejut. ''Ini hadiah kedua untuk Abang Syakir dan bang Arta! Ayo di coba! Sesuai dengan keinginan kalian berdua bukan??'' tanya Tama pada Syakir dan Arta.
__ADS_1
Kedua saudara itu kesenangan. ''Yeeeee .. aseekkk..!!'' seru kedua putra bunda Zizi itu.
Annisa terkekeh melihat tingkah kedua adiknya itu. ''Dan ini satu lagi dari kami sekeluarga!'' kata Algi pada Syakir dan Arta.
Deg!
Deg!
''Ba-baju seragam sekolah??'' tanya Bunda Zizi. Entah kenapa lehernya tercekat dan lidahnya pun terasa keseleo saat mengatakan hal itu.
Annisa tersenyum. ''Ya, seminggu yang lalu Syakir ngomong sama Kakak. Katanya, baju seragam mereka bertiga sudah tidak layak pakai. Sepatu mereka bertiga sudah ditambal. Belum lagi buku tulis mereka sudah habis. Syakir tidak ingin ngomong sama ayah dan bunda. Karena itu permintaan kakak dulunya. Kalau mereka membutuhkan sesuatu, segera ngomong sama Kakak. Maka akan kakak belikan. Termasuk sepeda itu. Syakir dan Arta akan mereka gunakan untuk lomba balap sepeda antar sekolah. Mereka ingin ikut lomba tapi nggak punya sepeda. Makanya Syakir ngomong sama Kakak. Dan ya, ini semua keinginan mereka bertiga. Kakak hanya mencoba memberikan keinginan dan yang mereka butuhkan. Ayah jangan marah, semua ini sekarang tanggung jawab kakak sebagai kakak mereka. Bunda sama ayah cukup tenang saja. Jangan berpikir yang macam-macam, ya??'' pinta Annisa pada kedua orang tua yang kini sedang menatapnya dengan nanar.
Ia mendekati Annisa dan memeluknya. Begitu pun Arta dan Bella. ''Terimakasih Kak.. terimakasih banyak.. kakak mau memberikan apa yang kami butuhkan. Maaf.. selalu merepotkan kakak..'' bisik Syakir di telinga Annisa.
Annisa mengangguk, mulut itu terkunci tidak bisa berkata apapun. Karena melihat ketiga adiknya itu begitu senang saat ini membuat rasa haru dihatinya membludak begitu saja. Annisa menangis tanpa suara.
Kak Ira mendekati ketiga adik tirinya itu. Ia memeluk erat tubuh ketiga adiknya. ''Apapun untuk kalian bertiga selagi kami bisa, kami akan berikan untuk kalian.'' Lirih kak Ira sembari memeluk erat ketiga adiknya.
__ADS_1
Ketiga anak kecil itu menangis tersedu. Ayah Emil pun ikut tersedu. Bunda Zizi bangkit dan memegang hadiah ke dua pemberian Annisa dan saudaranya.
Bunda zizi tersedu kala melihat tiga seragam sekolah dengan ukuran berbeda untuk ketiga anaknya. Lengkap dengan seragam Pramuka nya seperti permintaan Syakir seminggu yang lalu pada Annisa.
Belum lagi sepatu, buku-buku dan perlengkapan sekolah lainnya. Bunda Zizi tersedu di depan kotak itu. Barang yang seharusnya ia beli seminggu yang lalu tapi tidak jadi lantaran obat ayah Emil sudah habis.
Dengan terpaksa ia membeli obat ayah Emil dan merelakan baju seragam ketiga anaknya yang memang sudah tidak layak pakai.
Ketiga anak itu mendapat teguran dari sekolah mereka. Tapi Syakir tidak berani mengatakan hal itu kepada Bunda Zizi karena tau keuangan mereka seperti apa.
''Maafkan Mak.. Mak terpaksa hiks tidak membelikan baju kalian karena ayah saat itu butuh sekali dengan obat nya.''
Ayah Emil tersedu. Tubuh paruh baya itu berguncang hebat. Ia menangis tersedu. Ira yang tidak tahan mendengar sang ayah menangis seperti itu, mendekati dan memeluk nya.
Ayah Emil semakin tersedu kala merasakan pelukan hangat dari putri kandungnya dengan Mak Alisa.
''Maafkan Ayah yang tidak berguna ini nak.. hiks.. maafkan ayah yang sudah tua ini. Hingga kalian yang menjadi tumpuan adik-adik kalian..'' isaknya di dalam pelukan erat kak Ira.
__ADS_1
Kak Ira menggeleng, ''Tak apa Yah. Kami semua ikhlas kok. Ayah tenang saja ya? Kakak tidak keberatan kok. Iya kan Dek?'' tanya kak Ira pada Annisa.
''Ya, bagi kami adik-adik kami bisa sekolah dengan nyaman dan senang tidak apa mengeluarkan uang banyak. Ingat Yah, uang bisa dicari selagi tubuh kita sehat. Tapi kalau saudara yang hilang, apa gunanya banyak harta namun tidak punya saudara untuk berbagi. Kami senang bisa berbagi dengan saudara kami sendiri. Mereka bertiga sedarah dengan kami walau berbeda ibu. Itu tidak jadi masalah untuk kami. Kami tetap menyayangi mereka bertiga. Karena Keluarga segalanya untuk kami.''