Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Siapa yang kalah?


__ADS_3

Saat ini lenguhan dan suara alunan merdu dari kedua insan yang baru bersatu itu senyap sudah. Yang terdengar hanya nafas memburu pada keduanya.


Tama belum melepaskan penyatuan mereka. Masih seperti semula. Ia merasakan sesuatu yang lain saat menyentuh tubuh Annisa.


Sesuatu yang lain dari dirinya timbul sendiri. Ia ingin lagi dan lagi. Sedangkan Annisa saat ini sudah kelelahan. Padahal baru tiga jam mereka lewati.


Tama mengangkat sedikit wajahnya untuk mengintip Annisa. Istri kecilnya itu terpejam. Tama terkekeh, ia mengecup dahi, kedua mata, hidung bangir Annisa, dan kedua pipinya.


Annisa membuka paksa mata itu. ''Abang?''


Tama tersenyum, ''Abang mau lagi, boleh?''


''Heh?! Lagi??! Ta-tapi...''


''Abang mohon... ya, ya, ya? Coba kamu rasakan pedang Abang? Masih utuh kan??'' ucap Tama dengan sedikit menggoyangkan pinggul nya untuk memancing Annisa.


Annisa meringis. ''Stop! Stop Abang! Perih! Jangan di gituin ih!'' Sungut Annisa pada Tama.


Sungguh, Palung surga miliknya saat ini sangat sakit. Perih dan ngilu. Ini Tama malah minta lagi.


Sekali aja ia hampir pingsan. Apalagi minta sekali lagi?? Annisa menggeleng kan kepala nya.


''Kalau Abang sayang padaku, lepaskan pedang Abang dari palungku! Cukup untuk sekarang Bang! Perih dan ngilu!'' Buliran bening mengalir di sudut mata Annisa.


Tama yang melihat nya terkejut. ''Sayang? Dek? Oke! oke! Abang nggak akan minta lagi. Udah ya? Jangan nangis.. maaf...'' lirih Tama dengan bibir bergetar.


Ia tidak tega melihat Annisa sakit seperti itu. Dengan perlahan ia melepaskan pedang yang masih berdiri seperti tiang listrik itu. Annisa menangis lagi.


''Sa-sakit...'' lirihnya dengan terisak.

__ADS_1


Tama memeluk erat tubuh Annisa. Annisa tersedu. Tama semakin bersalah di buatnya. Ia tidak tega melihat Annisa kesakitan seperti itu.


''Ssstt.. udah.. Abang minta maaf. Abang nggak nyangka aja punya kamu sempit banget. Maaf ..'' ucap Tama masih dengan memeluk Annisa.


Annisa masih terisak. ''Maaf Abang.. bukan adek nggak mau. Tetapi memang beneran sakit. Sakit karena menolak mu. Rasa bersalah ini selalu bercokol dihatiku hingga saat ini. Inikah yang kamu inginkan sedari dulu. Maaf.. jika aku melarangnya lagi. Karena besok siang, kedua orang tua kita akan kesini kalau jadi. Maaf Abang.. maaf.. adek janji. Setelah rasa sakit ini berkurang, adek akan memberikan hak Abang lagi. Adek janji!''' batin Annisa merasa bersalah.


Ia memeluk erat tubuh Tama yang saat ini berguncang karena menangis. Annisa semakin bahagia. Ternyata bukan dirinya saja yang merasakan sakit, tetapi Tama juga ikut merasakannya.


Annisa semakin bahagia dan mencintai Sang suami tuanya itu. Mereka terlelap sambil berpelukan. Pelukan hangat yang selama ini Annisa rindukan.


Tetapi rasanya baru sebentar ia terlelap, kini ia merasakan kenikmatan kembali melanda tubuhnya.


Annisa kembali mengeluarkan lenguhan lembut mendayu di kamar pengantin itu. Ia kembali merasakan sesuatu yang lembut tetapi tidak bertulang itu ternyata sudah menyambangi Palung surga nya lagi.


''Sakit??'' tanya Tama hingga membuat Annisa membuka matanya karena terkejut mendengar suara lembut Tama.


''Eh? Ehehehe... udah nggak kok. Perih dikit aja. Ssssttt... hehehe..'' Annisa terkekeh geli.


Suara alunan merdu yang sangat Tama sukai mulai malam ini. Suara Annisa yang selalu ingin ia dengar. Dan saat ini ia mendengar lagi setelah tiga puluh menit yang lalu.


Entah sampai pukul berapa penyatuan itu terjadi. Tiada kata lelah untuknya dan Annisa. Keduanya sama-sama mereguk manisnya madu pernikahan.


Saling sentuh, saling memberikan kehangatan dan juga saling berlomba-lomba untuk mencapai kenikmatan bersama hingga setelah berpamitan jam kemudian lenguhan panjang itu pun terdengar di kamar pengantin usang rasa baru itu.


Mereka berdua terkekeh bersama. Annisa memeluk tubuh polos Tama. Tama terkekeh lagi. Walau masih dengan nafas memburu, Tama masih sempat-sempatnya menggoda Annisa dengan cara pedangnya ia gerak kan lagi.


Annisa tertawa. Tama ikut tertawa. Mereka berdua kelelahan dan terlelap dengan saling berpelukan.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Ceklek!


''Hemmm.. kayaknya masih tidur ya? Coba kita cek ke atas.'' ucapnya sambil berlalu menuju ke atas dimana kamar pengantin baru itu.


Ia melangkah perlahan. Hingga tiba disana, ia menekan handle pintu itu.


Ceklek, ceklek!


''Terkunci??? Hemm.. dasar Abang! Tau banget aku bakalan datang?? Hihihi.. makanya ia sengaja mengunci pintu kamarnya!'' Mitha tertawa sambil turun ke bawah menuju dapur.


Sedang pengantin baru itu tertidur dengan lelap. Mitha menyelesaikan tugasnya untuk menanak nasi dan memanaskan masakan yang dikirimkan Mak Alisa untuk pengantin usang rasa baru itu.


Setelah selesai, Mitha kembali kerumahnya. Setelah mengunci pintu rumah itu kembali dengan kunci serap di tangannya. Ia terkikik geli kala mendengar suara pekikan Annisa yang begitu kuat membuat Mitha terkejut yang saat itu sedang duduk berdua di balkon kamarnya.


Mengingat itu, Mitha tertawa lepas sambil berjalan.


Siang harinya.


''Ugghh... jam berapa ini? Kok udah terang?? Abang?? bangun.. kita kesiangan nih sholat subuhnya??'' kata Annisa pada Tama yang saat ini masih memeluk tubuhnya dengan erat.


Tama menggeliat. ''Bentar lagi sayang.. Abang masih ngantuk loh.. nggak ingat kamu jam berapa tadi malam kita tidur??''


Annisa terkekeh, ''Kayaknya hampir pagi deh? Eh, bukan! Udah pagi kayaknya! hahaha..'' Annisa tertawa lagi.


Tama tersenyum, ''Siapa yang kalah??''


''Heh?! kalah?? Emmmm.. kayaknya nggak ada deh! Kita sama-sama kuat! Satu sama! Ronde pertama satu kosong, ronde kedua satu sama!''


Buhahahaha...

__ADS_1


Suara tertawa Tama menggelegar di kamar pengantin itu. Ck. Adu tantangan, tetapi akhirnya nggak ada yang kalah kan?? 🤣🤣🤣🤣


Malam ini satu aja ye? Othor lagi ada acara keluarga besok. Jadi agak sibuk! Pantengin terus! 😘😘


__ADS_2