
Seluruh keluarga besar Bhaskara sudah pulang. Dan saat ini mereka semua baru tiba di rumah masing-masing pada pukul sembilan lewat dua puluh lima menit.
Sebelum pulang tadi, mereka sempat singgah di rumah makan hanya sekedar untuk mengganjal perut mereka yang terasa lapar. Dasar Annisa. Selalu saja lapar kalau sudah malam. Padahal tadi jam empat sore mereka baru saja makan. Ck.
Kedua abangnya dan kakak nya selalu mengejek Annisa dengan si Ratu tukang makan. Annisa tidak marah. Ia malah mengakuinya.
''Heran deh sama kamu Dek? Makan banyak, tapi kemana larinya makanan itu? Ck. Badan kamu tetap saja kurus kerempeng kayak ikan teri! Apa bang Tama tidak marah kalau kamu makan banyak kayak gini? Bang Tama!'' panggil kak Ira pada bang Tama yang saat ini sedang berbicara dengan Papi Gilang dan suami Kak Ira. Bang Raga.
''Apa Dek?'' sahut Tama.
''Ini istri kamu. Makan banyak tapi kok badannya ko nggak kembang-kembang ya? Apa kamu kasih obat Bang?? Makanya badannya kurus kayak begini??''
Tama dan Bang Raga terkekeh, sementara Papi Gilang tergelak keras. ''Kamu baru tau Kak? Kalau adek kecil kamu ini yang sering Papi gendong dan tidur sama Papi dulu tukang makan??'' tanya Papi Gilang masih dengan tergelak keras.
Mami Alisa terkekeh. Annisa merengut jika sang Papi mengatakan hal itu untuknya. ''Hooh. Kakak baru tau Pi. Makanya Kakak tanya. Emang ya, kalau orang badannya kecil kayak adek ini suka banyak makan? Apa kamu nggak rugi bang Tama? Istri kecil kamu ini kuat makan loh.. takutnya kantong tebal kamu kuyak karena Annisa terlalu banyak makan??''
Buhahahaha..
Tiga orang pemuda beda usia itu tergelak keras. Mereka menertawakan Annisa yang sedang makan banyak saat ini. Annisa tidak peduli jika ia sering di ejek seperti itu kalau sedang berkumpul. Apalagi kalau ada bang Lana. Waaahh... Annisa lebih parah lagi mendapat ejekan dari abangnya itu.
''Hahaha .. Kamu tukang makan sayang. Si Ratu tukang makan! Buhahahaha...'' Papi Gilang semakin tertawa Kala melihat wajah Annisa yang pura-pura kesal padanya.
__ADS_1
''Biarin! Emang kenapa kalau adek tukang makan?? Kan bagus dong? Bang Tama capek kerja kan nggak rugi kalau pulang kerumah makanan itu selalu habis tidak bersisa! Belum lagi kantong Abang itu kan tebal?? Ya bagus itu! Adek selalu bisa minta apapun yang adek mau! Emang kakak? Yang suka tahan-tahan makan takut bang Raga jauh dari kakak??'' balas Annisa pada Ira.
Buhahahaha...
Lagi dan lagi semuanya tertawa karena ucapan Annisa untuk kak Ira. Sedangkan kak Ira melototkan matanya. ''Mana ada kayak begitu dek! Abang kamu nggak kayak gitu orangnya! Iya kan By?'' tanya kak Ira pada bang Raga.
Bang Raga mengangguk walau sambil terus tertawa karena merasa lucu melihat perdebatan dua saudara itu. Ini yang selalu terjadi kalau mereka sering ngumpul.
''Hilih! Bilang aja kakak takut. Takut kayak Abang baru pulang dari luar negeri dulu. Saat Abang pulang bukannya bawa pulang ular betina ke rumah Kalian??'' sindir Annisa lagi pada kak Ira.
Mak Alisa melototkan matanya. ''Kakak!!'' tegur wanita paruh baya itu.
Papi Gilang terkekeh. ''Biarin sayang. Toh, yang dibilang Annisa itu benar adanya. Bang Raga pulang dari luar negeri bukannya pulang bawa hadiah tapi pulang bawa pulang ular betina yang sangat menyusahkan nya! hahaha..'' Papi Gilang tertawa terbahak.
Kak Ira melengos. ''Ya iyalah kamu cinta. Wong sedari kamu kecil saat umur kamu masih sepuluh tahun aja kamu udah suka kan sama Kakak??'' kata Papi Gilang membuat bang Raga mengangguk setuju.
''Betul sekali! Papi memang selalu benar! Ira pun sama. Bahkan Abang di beri gelar waktu itu. Prince Ragiii..'' ledek Ragata pada Kak Ira.
Kak Ira melengos lagi. Ia malu jika sang suami menggodanya dengan kata-kata itu. Kata-kata yang dulu pernah ia sebut ketika pertama kali bertemu dengan sang suami. Yaitu Kak Raga.
Annisa tertawa. Ia sangat tau seperti apa kisah Cinta Kak Ira dan bang Raga. Kisah cinta yang patut di contoh. Perjalanan cinta yang sangat sulit. Tetapi mereka berdua bisa menghadapi nya bersama walau harus berpisah satu sama lain.
__ADS_1
Annisa melirik Tama yang saat ini juga sedang menatapnya. Mereka saling memberi kode kemudian terkikik bersama. Semua itu tidak luput dari perhatian Kak Ira.
Kak Ira berdecak sebal. Selalu seperti itu jika kedua orang itu bersama. Saling lirik dengan mata tapi hati yang berbicara. Tapi kak Ira senang, itu artinya kedua orang itu memang saling mencintai satu sama lain.
Ia bersyukur akan hal itu.
Setelah kenyang si ratu makan mengajak seluruh keluarga nya pulang. Lagi dan lagi kak Ira mengejeknya.
''Hadeeuuuhh.. udah kenyang dia baru ngajak kita pulang! Ck. Dasar si ratu tukang makan!''
Annisa mencebik. ''Biarin!'' sahutnya.
Semua yang ada disana tertawa bersama. Mereka pulang dengan perut kenyang untuk yang kedua kalinya. Tapi tidak dengan Annisa. Sebelum tiba di rumah ia menginginkan roti bakar lagi. Tama hanya bisa tergelak melihat tingkah istri kecilnya ini.
💕💕💕💕
Hehehe.. tukang makan?? Othor pun gitu. Tapi anehnya, badan othor tetap aja segini. Apa karena menyusui kali ya? 🤣🤣🤣
Oke deh, sambilan nunggu cerita ini update, mampir dulu yuk di karya temen othor yang satu ini.
__ADS_1
Noh, cus kepoin! Ceritanya seru loh..
Like, komen, kembang, vote dan nonton iklan ye? Othor tunggu! 😘