Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Apa salah kami, Bang?


__ADS_3

Setelah melihat Uwak Nita dan keluarganya pergi Syakir mengurai pelukannya dari tubuh Tama. ''Bang? Hiks.''


''Ya?'' jawab Tama


''Apa salah kami, Bang? Kenapa mereka selalu menghina yah kami yang buruk? Apakah ayah tidak berhak berubah seperti kata kak Annisa? Apakah kami ini salah karena terlahir dari ayah, Bang?? Kenapa?? Hiks..'' Isak Syakir sambil menatap Tama dengan wajah sendunya.


Tama tersenyum. ''Setau Abang. Ayah itu nggak salah kok. Ia hanya sedang salah jalan saja. Mak Alisa saja bisa memaafkannya seperti kata kami tadi. Kenapa pula kita harus menghukumnya? Dulu, ayah itu sedang labil-labilnya dalam berbuat. Abang saksi Maura dari itu semua. Tapi semau itu hanya masa lalu. Ayah sekarang sudah berubah. Tidak ada yang perlu di ingat lagi tentang masa lalu itu. Kamu tidak usah mengingat masa lalu ayah yang hanya akan melukai hati dan perasaan kalian berdua. Setiap orang memiliki masa lalu Dek.. tidak perlu di sesali. Biarkan semau itu menjadi masa lalu, hem? Masa depan kita adalah yang sekarang. Sudah.. jangan menangis. Tidak perlu mendengarkan ucapan yang tidak penting itu. Ayo kita makan lagi. Abang masih lapar loh.. semuar ayam buatan Uwak Nia sangat enak!'' celutuk Tama di akhir kalimat nya sengaja untuk menyenangkan hati semua orang yang sedang dilanda resah dan rasa bersalah karena ucapan sepupu bunda zizi tadi.


Ayah Emil berjalan tertatih masuk ke dalam kamar. Ia tidak menyangka kejadian masa lalunya kini berimbas ke masa depan kedua putra kecilnya bersama bunda zizi.


Ia duduk tepekur dan merenung seorang diri di kamarnya. Ayah Emil menangisi nasib masa lalu nya yang begitu buruk dulu hingga kejadian itu pun harus di ungkit oleh keluarga sang istri tercintanya.


Ayah Emil menangis tersedu. Begitu pun dengan Bunda zizi. Ia masuk ke dalam kamar dan memeluk ayah Emil dengan erat. ''Hiks.. hiks.. Abang hina dek.. Abang kotor... hiks.. kamu boleh pergi jika tidak menginginkan hidup bersama Abang lagi.. hiks.. bentar kata kakak sepupu mu. Abang tidak pantas bersama mu.. pergilah Dek. Abang melepaskan mu... hiks.. hiks..'' Isak Ayah Emil dengan nafas tersengal-sengal.

__ADS_1


Bunda zizi menggeleng tak suka. ''Enggak! Aku nggak akan pergi dari hidup mu Bang Emil! Inilah janjiku dulu pada Mabk Alisa! Seburuk apapun kamu, kamu tetaplah Rajaku! Imamku! Apa yang salah dari dirimu?? Semua itu hanya masa lalu! Aku tidak mempermasalahkan hal itu! Aku menerima kelebihan dan kekurangan mu! Aku sayang sama Abang! Jangan lagi berbicara seperti itu! Kalau sampai aku mendengar Abang berbicara seperti itu sekali lagi, maka... hiks.. jangan salahkan kau kalau aku hanya akan tinggal nama!''


Deg!


Deg!


Deg!


''Sayangku... hiks..''


Dengan segera ayah Emil memeluk erat tubuh ringkih Bunda Zizi yang sudah tidak se chubby dulu lagi. Sama seperti saat ia bertemu pertama kali dengan bunda zizi. Pertemuan pertama hingga akhirnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


Ayah Emil yang dulunya seorang duda tiba-tiba saja merasakan getaran cinta untuk yang kesekian kalinya setelah Mak Alisa dulunya. Begitu pun dengan Bunda Zizi. Ia pun jatuh cinta pada sapapan hangat dan tutur lembut dari ayah Emil untuk dirinya hingga keduanya saling jatuh cinta dan akhirnya menikah.

__ADS_1


Dan pernikahan itu pun disaksikan oleh Mak Alisa dan Papi Gilang sendiri. Tama, Syakir dan Arta memeluk erat tubuh Tama saat mendengar ucapan Bunda Zizi untuk ayah Emil.


''Abang sayang sama kamu, Dek! Hiks.. sangat menyayangi mu.. maafkan kesalahan pria tua ini yang telah membuat luka untuk kedua anak kita.. maafkan Abang Sayang...''


Bunda Zizi mengangguk dan mengurai pelukannya dari tubuh ayah Emil. Ia mengusap wajah tua ayah Emil dengan sayang.


Cup.


Bunda Zizi mengecup kening ayah Emil dengan sayang. Ayah Emil semakin tersedu. Ia tidak ingin melepaskan sedikitpun Bunda zizi untuk pria lain. Ia tidak rela. Hanya saja dirinya terlalu hina untuk seorang Zizi yang begitu bersih.


''Abang nggak salah. Semua itu hanya masa lalu. Lupakan itu! Adek menyukai dan menyayangi Abang yang sekarang. Yang dulu pun iya. Bukan berarti aku nggak suka sama Abang yang dulu ya!'' peringat bunda Zizi sedikit jutek pada Ayah Emil.


Ayah Emil terkekeh. Ia semakin erat memeluk tubuh Bunda Zizi. ''Abang juga sangat, sangat, sangat, menyayangimu sayangku, cintaku, hidupku dan mati ku! Cup!'' kecupan sayang ayah Emil labuhkan di dahi mulus bunda zizi.

__ADS_1


Tama dan Syakir tersenyum diluar sana. Begitu pun dengan Arta. Begitu pun dengan Uwak mereka yang kini sedang tersedu namun, terkekeh-kekeh karena mengingat ucapan ketus Arta dan Syakir tadi untuk keluarga Bunda Zizi itu.


__ADS_2