Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Kebersamaan sebelum pergi


__ADS_3

Annisa dan Tama tertawa saat mendengar lelucon dari Syakir dan Arta tentang Bunda Zizi yang di goda sama Bapak-bapak tukang ojek.


''Hahaha.. kok bisa gitu? Bunda serem ya kalau udah ngamuk?'' ucap Annisa pada Syakir yang saat ini sedang makan rujak pesan Tama tadi setelah mereka makan siang tadi.


Saat ini mereka masih di bengkel. Rencana nya selama tiga hari ke depan sebelum Annisa mengadakan perpisahan sekolah seminggu lagi.


''Ya bisalah kak. Mak mah selama ayah nggak ada sedikit dingin dan ketus saat berbicara pada lelaki. Tidak termasuk kita ya? Ini khusus untuk para tetangga yang suka menggoda Mak kita saat dirumah. Lagi saat ini Mak kan udah balik bekerja di kantor Papi Gilang?''


Annisa dan Tama terkekeh, ''Padtiksh saat ini bunda semakin cantik ya? Wanita kantoran euuyy! Modis dan elegan! Makanya banyak lelaki yang ingin berbicara pada janda muda cantik kayak bunda Zizi!''


Hahaha...


Suara tawa ke enam orang itu begitu keras terdengar hingga keluar ruangan. Membuat yang ada diluar ruangan itu pun ikut tertawa mendengarnya.


Nanti malam mereka akan menginap dirumah Tama dan Annisa. Dan untuk besoknya, mereka akan berjalan-jalan bersama sebelum perpisahan sekolah Annisa yang akan diadakan seminggu lagi.


Entah kenapa firasat Annisa mengatakan jika akan terjadi sesuatu padanya. Ia sering kali gelisah saat malam. Dan saat memandang wajah Tama.


Ada rasa khawatir padanya. Tetapi tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Annisa bisa sedikit tertawa karena mendapat kan hiburan dari keempat adiknya. Dan ia pun lebih sering berada bersama Tama dibanding kan dirumah.


Kemana pun mereka selalu bersama. Untuk hal jatah malam, jangan ditanya. Tama tidak berhenti untuk menggempur Annisa hingga istri kecilnya itu sering kali bersungut-sungut ketika bangun pagi yang kepayahan sast berjalan karena pusat intinya sering kebas akibat kelakuan Tama.


Ketika Annisa memarahinya, Tama malah tertawa. Ia bilang, ''Nggak pa pa itu. Pahala loh buat kamu? Dan ya? Abang ingin segera memiliki keturunan darimu. Kamu kan tau kalau Abang ini sudah tua? Tidak cocok lagi menunda-nunda dalam hal keturunan.'' Ucapnya pada Annisa sambil memeluk erat tubuh Annisa yang sedang marah.


Annisa masih saja kesal. Ia pun jadi sering kesal dan benci pada Tama. Entah kenapa, Annisa pun tidak tau. Yang jelas sangat kesal.

__ADS_1


Tetapi rindu ketika ia pergi dan tidak berada disampingnya. Entahlah. Entah apa yang terjadi pada Annisa, ia pun tidak tau.


Annisa sering bingung pada dirinya sendiri. Sikapnya itu sangat aneh. Tetapi Tama tidak marah padanya.


Dan hari ini Tama mendapatkan kejutan dari Annisa tentang kenyataan jika ia sedang hamil.


Awalnya Tama begitu senang. Tetapi kemudian surut setelah Annisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Ia sengaja berakting seperti itu tadi saat di depan Siska. Agar Siska mundur dan pergi. Nyatanya tidak. Wanita tua itu majdb tetap bertahan.


Hingga kedatangan Kinara, barulah wanita tua itu pergi. Tama terkekeh saat menyadari jika Kinara bisa melihat sesuatu yang seperti itu. Sempat terkejut tadi.


Tetapi setelah mendengar penjelasan Kinara membuat Tama dan Annisa tertawa terbahak-bahak karena Kinara mengatakan jika wanita itu tidak cantik.


Tetapi sangat tua seperti nenek peyot. Dan juga penjaganya itu sangat jelek. Siska bertujuan ingin mengambil sesuatu dari Tama dan Annisa.


Karena ulat itu sudah pergi.


Kini tinggallah mereka berenam yang akan pulang kerumah Tama dan Annisa dan bermain disana.


*


*


*

__ADS_1


Tiga hari berlalu.


Hari ini cukup sudah mereka bersama-sama dirumah Tama dan Annisa. Dan sore ini, ke empat anak-anak itu akan diantar oleh Anto dan Tian kerumah Papi Gilang dan Bunda Zizi.


Keempat adik Annisa begitu berat melepaskan pelukannya dari tubuh Annisa. Tama terkekeh melihat nya.


''Apakah kalian belum puas memeluk Kakek kalian seperti itu? Abang belum lupa ya? Kalau setiap malamnya kalian berempat ingin tidur bersama Kakak kalian ini. Abang aja dibiarkan tidur sendiri!'' ucap Tama pura-pura kesal pada kelima orang yang sedang berpelukan sambil mengusap itu.


Padahal ia terkekeh melihat ke empat adiknya itu terisak di pelukan Annisa. Annisa pun demikian.


Entah kenapa Annisa merasakan hal itu lagi. Semakin dekat dengan hari perpisahan sekolah nya semakin terasa tidak nyaman pula dengan hati dan pikiran nya.


Annisa menangis karena gelisah memikirkan Tama. Ia sedang menerka-nerka ada apa dengan mereka nantinya. Firasatnya merasakan akan ada hal buruk yang akan terjadi.


Beribu pikiran buruk muncul di pikiran nya. Tetapi Annisa tepis. Bukan hanya Annisa. Tetapi Tama lebih parah.


Ia selalu tiap malam bermimpi melihat ayah Emil menatapnya dengan sendu. Dan selalu mengatakan, ''Sabar.. semua itu ujian dalam pernikahan mu. Tetap kuat dan berpegang teguh. zleati ujian ini dengan ikhlas. Karena kamu melewati ujian ini. Maka kebahagiaan yang tiada Tara lah yang akan menghampiri mu kelak dimasa depan. Dan ingat, jangan gegabah mengambil keputusan! Ingat? Annisa masih membutuhkan mu dan kamu juga membutuhkan nya.. ingat ini Nak. Innama'al 'usyri yushro wainnailaihi ma'al 'usyri yushro.. disetiap kesulitan pasti ada kemudahan maka janganlah kamu bersedih dengan ujian yang sedang kamu hadapi. Tenangkan pikiran mu. Hadapi itu dengan kuat dan berani. Kamu pasti bisa! Ayah percaya padamu!''


Suara ayah Emil hingga hari ini masih terus terngiang di telinga Tama. Padahal suara itu hanya terdengar saat di dalam mimpi. Tetapi seakan itu nyata pada Tama.


Tama hanya bisa pasrah dengan keputusan takdir. Ia hanya ingin menikmati sisa-sisa kebersamaan nya dengan Annisa yang hanya menghitung hari saja.


Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Annisa sebelum istri kecilnya itu menuju ke Bandung. Karena nanti Annisa akan menuntut ilmu disana selama lebih kurang lima tahun lamanya.


Tama hanya bisa pasrah pada takdir tentang ujian rumah tangga mereka ke depannya yang entah seperti apa. Yang jelas ia akan selalu mengingat pesan ayah Emil.

__ADS_1


Ia akan selalu mengingat pesan itu sampai kapanpun. Tama bertekad dalam hati. Untuk selalu setia dan bertahan pada satu orang wanita saja.


Yaitu Annisa. Istri kecilnya.


__ADS_2