Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Ikan asin Terbang


__ADS_3

Setelah kepergian Tama, kini Annisa sedang membereskan seluruh rumah mereka. Mulai dari menyapu, mencuci piring, serta mengepel. Sedang untuk cuci baju, Tama sudah menyediakan mesin cuci untuk mempermudah dirinya.


Sebenarnya dirumah itu ada pembantunya. Tapi untuk seminggu kedepan, pembantu rumahnya sengaja Tama liburkan karena ada Annisa dirumah itu.


Bukan untuk menutupi ststusnya, namun Tama hanya ingin menghabiskan waktunya berdua saja dengan Annisa. Selama mereka sah menajdi suami istri, baru kali ini Tama bisa bebas untuk menyentuh Annisa.


Bukan tidak ada. Ada. Tapi sebatas sentuhan fisik saja. Itupun Annisa merasa risih. Dan Tama pun memaklumi itu. Ia pun tau akan batasan. Sentuhan fisik itu hanya berupa tarik tangan karena terpaksa dan juga karena ada hal lainnya yang membuat Tama terpaksa menyentuh sang istri disaat mereka belum menikah.


Sedangkan untuk saat ini ia bisa bebas untuk menyentuh Annisa, istri sahnya. Memang belum menurut hukum. Tapi.. secara agama mereka adalah suami istri yang sah. Bukankah di dalam islam, jika pernikahan itu terjadi pada sepasang manusia yang telah baligh itu adalah sah? Walaupun umur mereka masihlah kecil?


Annisa tidaklah kecil. Saat ini ia sudah berumur tujuh belas tahun dua bulan lagi. Dan saat ini pun, Annisa sudah kelas dua satu semester. Tinggal satu semester lagi untuk naikke kelas dua.


Sedari pagi ia terus sibuk berkutat dengan wajan dan Panci. Jangan ragukan keahlian Annisa dalam hal memasak. Ia menuruni bakat Mak Alisa yang begitu jago memasak dalam segala bentuk makanan.


Annisa sangat lihai dalam mengolah makanan menjadi enak. Makanya Tama lebih suka makan dirumah dibandingkan di luar.


Tama rela hanya makan roti saja saat siang hari karena tidak ingin makan di luar. Ia hanya ingin makan masakan Annisa. Entahlah, ada apa dengan Tama.


Semenjak ada Annisa dirumahnya, Tama lebih sering makan dirumah. Padahal selama ini, Tama bukanlah orang yang suka pilih-pilih soal makanan. Yang penting bisa mengenyangkan itu sudah cukup untuknya.


Tapi semua itu berbeda saat Annisa pulang ke rumahnya dua hari yang lalu. Dan hari ini pun, Tama ingin cepat pulang. Agar bisa menemui Annisa, istrinya.


Saat ini Annisa baru saja siap memasak makan kesukaan Tama. Yaitu rendang jengkol ikan asin, dan juga balado udang.


Annisa memasak makanan itu sembari terkekeh-kekeh saat mengingat kedua Abang nya itu berebut ingin menghabiskan rendang jengkol dan ikan asin buatan khusus tangan Mak Alisa yang terkenal begitu enak di seluruh keluarga besar nya dan Keluarga besar Papi Gilang.


Annisa terkikik geli saat memasakkan rendang jengkol itu. "Hihihi.. Abang pasti suka dengan masakan ku ini. Secarakan, abang dan bang Lana suka banget sama rendang jengkol dan goreng ikan asin. Hihihi.. Mereka berdua pasti berebut jika Mak masak rendang jengkol dan goreng ikan asin!" kata Annisa pada diri sendiri


Tangannya terus sibuk membolak balikkan rendang jengkol yang hampir matang itu di dalam wajan.


Sambil menunggu rendang jengkol matang sempurna, Annisa mengambil ikan asin yang sudah ia cuci bersih tadi dan sudah ia tiriskan terlebih dahulu.


Ia nyalakn kompor sebelahnya dan meletakkan wajan satu lagi disana untuk menggoreng ikan asin.


Satu persatu ia celupkan ke dalam minyak panas sambil sesekali ia membolak balikan rendang jengkol yang hampir mengering itu.


Bau semerbak dari aroma ikan asin yang Annisa goreng, tercium hingga keluar rumah mereka. Tama yang baru saja pulang dari bengkel, dengan perut yang begitu lapar jadi bertambah lapar karena aroma ikan asin goreng kesukaannya.


Ia bergegas masuk dan membuka pintu rumah mereka dengan kunci serap yang selalu ia bawa kemana pun selama ada Annisa dirumah mereka.

__ADS_1


Tama masuk kerumah langsung ke dapur mencari keberadaan sang istri yang sedang sibuk dengan wajan dan spatula.


Tiba di pintu tengah penghubung ruang tamu dan dapur, Tama menghentikan langkahnya untuk langsung masuk kedapur.


Ia sengaja berdiri menyender di tepi dinding dapur mereka. Ia ingin mendengar suara merdu Annisa yang sedang bernyanyi saat sedang memasak rendang jengkol kesukaannya.


Manalah ku tahu Engkau suka


Dimata tak ada cinta..


Bagai di terik mentari


Hujan datang tiba-tiba


Tama tersenyum saat mendengar senandung lagu kesukaan Mak Alisa dan Papi Gilang. Lagu yang pernah mereka nyanyikan saat pesta pernikahan mereka puluhan tahun silam.


Keputusan mu memilih si dia


Membuat aku terluka


Pertunanganmu hancurkan mimpiku


Sreeengggg...


Suara ikan asin yang ia jatuhkan ke dalam wajan panas yang berisi minyak panas. Harum semerbak memenuhi seluruh ruangan dapur mereka.


Tama tersenyum lagi saat mendengar suara spatula dan wajan yang saling bergesekan. "Issh.. kok lengket sih? Ishh.." gerutu Annisa sambil menggesek wajan itu hingga berbunyi suara berisik seperti di gesek.


Tama terkekeh.


Sedangkan Annisa melanjutkan senandungnya. Walau sambil menggerutu. "Ishh, ishh.. Lagi enak-enaknya nyanyi lagu kesukaan Mak, eh malah ikan asinnya jadi lengket begini! Hadeuuhh.. Kalau Abang tau ikan asin kesukaan nya gosong, pastilah aku akan habis di ledek olehnya! Ishh.. Dasar tangan nggak ada akhlak! Bisa-bisanya nggak bisa balik ikan asin! Padahal mah, ikan asin ini kan ringan ya? Hem.. Nyanyi lagi ah.." ucapnya lagi tanpa tau jika Tama sudah berdiri dan terkekeh melihat tingkahnya.


Lama ku pendam rasa ini


Engkau yang tak pernah peduli


Bukan bukanlah maksud hati


Maaf cintamu tak ku sadari

__ADS_1


*


Kini tiada harapan lagi


Sampai aku mati pun sendiri


Jangan jangan kau patah hati


Jodoh hanya Tuhan yang tau pasti


*


Haaa.. Ini serbab gerhana cinta


Haaa.. Sembunyi di hati yang lara


Haaa.. TErlambat menyatakan cinta


Haaa..Tinggallah aku yang merana..


Tama tersenyum saat mendengar suara lembut Annisa yang begitu mengalun lembut mendayu di telinga Tama.


Tanpa sadar kaki jenjangnya itu mendekati Annisa. Tapi belum lagi Tama mendekat padanya, Annisa sudah menjerit heboh karena ikan asin di dalam wajan itu meletup-letup dan keluar dari wajan hingga mengenai tangan Annisa.


Ttuuarr..


Tttuuaar..


Tttuuarrr..


"Aaaaaa... Abaaaanggg.. Tolongiiiinn.. Ikan asinnya ngamuk!!! Aaaaa..." pekik Annisa begitu heboh.


Annisa lari kesana kemari tidak tentu arah. Tama yang melihatnya melongo karena melihat gaya Annisa yang sedang melihat ikan asin di dalam wajan itu terbang melewati Annisa dan di tepis olehnya hinngga terjatuh di piring yang terletak di atas meja.


Bak lagak atlit professional yang terlatih, Annisa menepis semua ikan asin itu dengan berbagai macam gaya.


"Ciaaattt.. Hiaaa.. Husshh.. Wushh.." ucap Annisa sambil terus menepiskan asin terbang itu hingga masuk ke dalam piring.


Tama yang melihat itu bertambah terperangah. Gaya tepisan Annisa begitu cantik, persis seperti gaya kungfu seorang master wanita yang sering Tama nonton di film fantasi tentang kerajaan.

__ADS_1


__ADS_2