
Satpam itu mendekati Annisa memberikan sekotak makanan padanya untuk ia makan. ''Makan dulu nak. Bapak yakin, kamu pasti belum makan kan?'' ucapnya pada Annisa yang kini menyender di tepi dinding kaca tembus pandang itu.
Annisa bergeming. Ia tetap pada dirinya. Tidak ingin mendengar dan melihat apapun. Jangankan makan, untuk berbicara saja Annisa tidak ingin.
Satpam itu paham. Ia lebih memilih keluar dan meletakkan makanan itu di meja kaca yang tersedia di sana. Annisa masih saja duduk di lantai nan dingin itu.
Di kamar VIP itu tersedia kamar mandi agar orang yang menunggu bisa mencuci wajah ataupun buang air kecil.
Cukup lama Annisa berdiam diri disana. Dirasa cukup, ia berdiri dan membuka koper nya. Ia mengambil baju ganti dan juga handuk. Annisa ingin mandi. Untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa gerah saat itu.
Satpam itu tersenyum saat melihat nya. ''Bapak tau nak. Kamu gadis yang kuat. Kamu pasti bisa melewati semua ini dengan baik. Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.'' Ucapnya dengan mata terus memandangi Annisa yang saat ini sudah memasuki kamar mandi.
Cukup lima belas menit saja Annisa mandi, ia pun kembali masuk keruangan itu dan kembali duduk di lantai nan dingin diruangan tunggu VIP itu.
Annisa mengambil ponselnya yang ia matikan sejak dalam perjalanan menuju ke bandara tadi. Ia membukanya. Mata Annisa berkaca-kaca saat melihat ada puluhan panggilan tidak terjawab dari nomor Tama dan Mitha.
Lagi, buliran bening itu mengalir lagi di pipinya. Ia mengusap nya dengan kasar. Ia melirik kantung kresek yang berisi makanan itu.
Annisa bangkit dan duduk di sofa. Ia membuka kotak itu dan mulai memakan nya dengan sangat lahap. Walau sesekali air mata itu menetes, tapi ia tidak peduli. Yang penting makan. Pikirnya.
Padahal yang ia inginkan saat ini ialah disuapi oleh Tama langsung dari tangannya. Mengingat itu, Annisa kembali tersedu.
''Hiks.. Abang.. hiks.. adek mau hiks.. Abang.. hiks..pingin disuapi hiks.. Abang.. hiks.. hiks..'' lirih Annisa tersedu lagi.
Tiada rasa apapun dari makanan itu. Makanan itu terasa sangat hambar. Berbeda ketika Tama yang menyuapinya rasanya sangat enak. Annisa terus menangisi Tama yang kini juga sedang memikirkan nya.
Ia tidak bisa berbicara saat ini. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Kejadian tadi siang yang menimpanya itu membuatnya entah seperti apa.
__ADS_1
Annisa terus memakan makanan itu dengan terpaksa. Dirasa sudah habis, Annisa membuang kotak nasi itu ke kotak sampah yang ada di sudut ruangan VIP itu.
Ia merebahkan tubuhnya di sofa empuk itu untuk mengistirahatkan tubuh nya yang begitu lelah. Lelah hati dan pikiran membuat tubuhnya tidak berdaya. Belum lagi kejadian tadi siang yang begitu menguras hatinya.
Annisa sudah menyetel alaram untuk bisa bangun pagi. Karena para murid yang mendapat undangan itu akan segera berkumpul sebelum subuh di Bandara.
Mata terpejam tetapi buliran bening itu terus mengalir di pipinya. Ia tidur dalam keadaan hati dan pikiran yang terluka akibat kejadian tadi siang.
Bahkan di dalam tidurnya pun perbuatan Tama yang sedang melakukan hubungan terlarang itu terus menerus muncul di dalam mimpinya. Annisa tersedu. Sangat sakit baginya mendapati kenyataan seperti ini.
Keesokan paginya.
Di Bandara sejak pukul tiga dini hati sudah ada murid yang datang. Annisa tau itu. Namun, ia lebih memilih diam.
Sedangkan Sarah dan Mutia terus saja menghubungi Annisa. Tetapi nomor yang dituju didalam aktif. Hingga beruang kali tetapi tetap sama.
''Ishh.. kita sudah datang sedari tadi, dia nya malah belum datang juga! Apa bang Tama tidak mengizinkan Annisa?? Atau bang Tama Berta kali ya melepaskan Annisa untuk sekolah di Bandung??'' gerutu Sarah pada Mutia.
Setengah jam lagi pesawat mereka akan lepas landas. Annisa tau bahwa sahabatnya itu sedang gelisah karena menunggu dirinya yang tak kunjung muncul.
Tetapi ia tetap belum bisa keluar karena saat ia sedang mengompres matanya yang membengkak akibat menangis dari kemarin hingga tadi malam.
Annisa tidak ingin kedua sahabatnya itu tau tentang permasalahan rumah tangga nya. Itu urusan pribadinya. Mereka berdua Tidka berhak tau.
Dirasa sudah cukup untuk mengompres matanya dengan air dingin, Annisa keluar dari ruang VIP itu. Sebelum nya ia berterima kasih kepada Pak satpam yang telah mengizinkan nya untuk menginap bahkan sampai memberikan makanan dari malam hingga pagi ini.
Annisa memberikan sedikit uang untuk satpam itu membuat Pak satpam itu tertegun melihat nya. Bagiamana tidak. Jika Annisa memberikan uang sebanyak lima belas lembar uang berwarna merah padanya.
__ADS_1
Setelah nya Annisa berjalan menuju kedua sahabatnya yang saat ini terus gelisah dan sesekali menggerutu karena dirinya yang belum juga muncul.
Annisa tersenyum, ''Assalamu'alaikum..''
Keduanya menoleh bersamaan. ''Waalaikum salam! Nis! Ishh.. kamu dari mana aja sih? kok baru datang? Kamu dari mana kok udah ada aja disini?'' tanya Sarah mental Annisa dengan sedikit memicingkan matanya.
Annisa terkekeh, ''Aku sudah sejak tadi malam diruangan itu. Ayo, ustadzah Hanim memanggil kita tuh, ayo!'' ajaknya pada kedua sahabatnya yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.
''Kalau kamu dari tadi malam di ruangan itu, lalu bang Tama mana? Apakah bang Tama tidak mengantar mu? Apakah kamu ke Bandara sendiri Nis??''
Deg!
Deg!
Annisa yang sudah berjalan di hadapan keduanya pun berhenti. Ia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa gugup dihatinya karena pertanyaan kedua sahabatnya itu.
Ia berbalik dan tersenyum, ''Ada. Abang Tama ngantar aku kok. Pagi ini ia sudah pulang duluan karena baru saja dapat kabar dari Anto, adik iparnya bahwa showroom kedatangan tamu pagi ini,'' jelas Annisa menggigit bibir dalamnya saat mengatakan tamu.
Sarah dan Mutia terus memperhatikan wajah Annisa. Tetapi Annisa tetap menunjukan wajah ceria pada mereka semau. Padahal hatinya saat ini sedang terluka.
''Ya sudah, ayo. Pesawat kita kan segera berangkat!'' ucap Sarah pada keduanya.
Mereka pun berjalan menuju ustadzah Hanim dan guru yang lainnya sebagai pengantar mereka ke Bandung nantinya. Perwakilan dari sekolah Annisa.
Annisa menoleh ke belakang berharap sang pujaan hati muncul disana. Tetapi sayang, yang di tunggu-tunggu oleh nya Tidka juga terlihat.
Pasrah. Akhirnya Annisa masuk ke dalam pesawat dan pesawat itu mulai bergerak setelah semua penumpang masuk dan duduk di kursi masing-masing.
__ADS_1
Pukul tujuh lebih tiga puluh menit pesawat yang menawarkan rombongan Annisa kini lepas landas dari bandara Kuala namu menuju bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.
Meninggalkan sesosok hati yang sedang patah Karena kepergian nya.