
Pukul sepuluh pagi keluarga besar Bhaskara tiba di kediaman nenek Alina dan Kakek Yoga. Dua paruh baya yang sudah lanjut usia itu begitu senang akan kehadiran putri tersayang nya.
''Assalamu'alaikum, Mama.. Papa...''
''Waalaikum salam, nak.. kalain sudah datang? Oh.. putriku! Kenapa sekarang baru kesini, hem? Kamu juga Gilang! Kenapa Alisa sibuk kamu bawa kesana kemari tapi tidak kesini??'' Ucap Nenek Alina pada Papi Gilang. Bibirnya mencebik kesal melihat menantu tersayang nya itu.
Papi Gilang tertawa. ''Nggak gitu Mama ku sayang.. kami itu sibuk bertugas mencari nafkah. Demi siapa? Kalau bukan Mama dan Papa? Kami tidak ingin selama kalian hidup, kehidupan kalian itu kekurangan. Kalian berdua segalanya bagi kami. Kalian berdua tidak boleh bekerja lagi. Masih ingat kan apa yang pernah Gilang katakan dulu sama Mama?'' tanya Papi Gilang pada Nenek Alina.
Mata nenek Alina berkaca-kaca. ''Ya, Mama masih ingat. Kalian berdua sudah sukses. Sudah sepantasnya kalian berdua yang memberi kami makan. Dan kami hanya perlu beribadah saja tidak perlu bekerja lagi. Untuk apa anak sukses, jika kedua orang tua kalian masih saja banting tulang walau hanya sesuai nasi?? Kalian merasa seperti anak yang tidak tau diri. Setelah sukses membuang orang tua! Kalian bukan anak durhaka! Putrakuuuu...'' Nenek Alina tersedu.
Ia memeluk erat tubuh Paling Gilang. Sedang Mak Alisa memeluk Kakek Yoga dengan erat. Ia labuhkan kecupan sayang di dahi sang putri.
''Terimakasih sayang, karena kalian berdua masih mengingat manusia renta seperti kami ini. Kami sekarang hanya menunggu sesuap nasi dari kalian saja. Tanpa kalian apalah kami..'' lirih Kakek Yoga begitu merendah diri.
Papi Gilang mendekati Kakek Yoga. Ia memeluk tiga orang yang begitu ia sayangi setelah Oma Dewi dan Opa Angga. Kasih sayang Papi Gilang sama rata.
''Sssttt.. Papa nggak boleh ngomong gitu. Gilang dan Alisa ikhlas kok memberikan kalian makan. Semua itu belum sebanding dengan pengorbanan kalian selama mengurus Alisa kecil hingga ia menikah dengan Gilang. Semua itu tidak bisa kami balas. Hanya dengan cara ini kami bisa menyenangi kalian berdua selagi kalian masih hidup. Jangan katakan seperti itu lagi. Gilang nggak suka! Bagi Gilang, kalian berdua juga merupakan Mama dan Papa Gilang. Selamanya. Kalian berdua surga kami di dunia ini. Jadi... jangan pernah menolak apapun yang kami berikan untuk kalian berdua, hem?'' ucap Papi Gilang begitu dalam.
Membuat semua yang ada disana terharu. Annisa dan Tama saling berangkulan. Begitu juga dengan kedua adik kembarnya.
''Hemmm.. jadi kami dibiarkan diluar aja nih? Nggak di izinin masuk gitu?'' ketus Rayyan pura-pura kesal kepada dua paruh baya lanjut usia itu.
Nenek Alina Terkekeh begitu juga dengan Kakek Yoga. ''Maaf cucu ku.. Nenek melupakan kehadiran cucu tampan nenek ini. Ayo sayang, apa perlu nenek gendong? Sama kayak sepuluh tahun yang lalu??'' goda Nenek Alina sembari mendekati Rayyan.
__ADS_1
Rayyan mencebik lucu. Namun tak ayal ia menerima pelukan nenek Alina. ''Jangan Gendong Abang lagi Nek! Yang ada Abang bakalan di timpuk sama Papi, kalau itu sampai terjadi! Papi galak!'' adu nya pada Nenek Alina.
Papi Gilang melototkan matanya menatap Rayyan. ''Apa?? Nggak suka?? Makanya jangan galak-galak sama anak! Iya kan Nek??'' kata Rayyan pada Papi Gilang dan nenek Alina.
Nenek Alina tertawa begitu juga dengan Kakek Yoga. Mak Alisa mengusap dada Papi Gilang dengan dramatis. ''Sabar sayang.. itu keturunan mu! Si tukang usil! Bukankah kamu dulu pernah bilang padaku? Jika suatu saat kamu memilki anak, kamu ingin putra seperti Lana dan didik dirinya seperti Lana mu? Dan ya! Itulah Lana mu versi Kedua!''
Papi Gilang bertambah melototkan matanya pada Mak Alisa. Ia sampai berkacak pinggang kepada Mak Alisa. Mak Alisa tertawa dan memilih kabur duluan.
Papi Gilang menggeleng kan kepala nya dan terkekeh-kekeh. Ia masuk berdua dengan Kakek Yoga. Disusul Annisa dan Tama.
Tapi belum lagi Annisa melangkahkan Tama menariknya hingga Tama memeluk tubuh berisi Annisa.
Grep!
''Jangan tidur terpisah dari Abang. Tiga bulan loh.. kita nggak bersama? Tega kamu sama Abang??'' pinta Tama dengan wajah memelas nya.
Annisa tertawa. Ia mengangguk. ''Tentu, kita akan tidur bersama di kamar yang sama. Tapi dibawah mau?''
Tama mengangguk setuju. Annisa tertawa lagi.
''Ehemm... hadeuuhh.. mau cari angin malah ketemunya sama orang yang lagi sibuk pacaran!'' ketus Rayyan dengan segera berlalu menyalakan motor tua milik Kakek Yoga dan meninggalkan saudaranya yang melongo melihat tingkahnya itu.
''Itu beneran Rayyan, sayang?'' tanya Tama dengan mata masih menatap Rayyan yang sedang mengendarai motor tua milik Kakek Yoga.
__ADS_1
Annisa mengangguk dan tergelak. ''Hahaha.. itulah sifat Rayyan yang sebenarnya. Sifatnya itu sebelas dua belas dengan bang Lana. Diluar terlihat datar dan dingin. Coba kalau dirumah? Itulah sifat asli Rayyan! Sama persis kayak bang Lana!'' Annisa tertawa mengingat tingkah Rayyan yang begitu mirip dengan Bang Lana.
Lana tidak bisa ikut karena ia masih dalam tugas abdi negara nya. Ia masih bertugas di Papua saat ini. Ia akan kembali lima tahun lagi. Saat umur Nara Tujuh belas tahun. Begitu katanya dulu.
Entah apa maksudnya, Annisa pun tidak tau. Yang jelas, saat ini Lana belum bisa pulang. Lagi pun Maura juga masih kuliah. Belum selesai.
Semua keluarga berkumpul bersama. Duduk lesehan dilantai. Mereka menikmati makan siang bersama-sama setelah tadi tiga orang wanita muda itu membantu nenek Alina untuk masak banyak.
Hanya masakan biasa tapi begitu nikmat dirasa. Ayam goreng sambal terasi. Lengkap dengan lalapannya. Ada timun, daun kemangi, tempe goreng, terong goreng, dan juga sambal terasi buatan nenek Alina. Begitu enak.
Tama yang baru pertama kali makan makanan pedas buatan nenek Alina sampai berkeringat seluruh wajahnya. Rayyan dan Papi Gilang kompak menertawakan nya.
''Hahaha.. Abang muka nya merah banget! Gimana? Nampol nggak sambal buatan nenek Alina??'' kata Rayyan pada Tama.
Tama terkekeh sambil mengusap keringat di dahinya. Annisa menyerahkan sapu tangan yang ia ambil dari saku celana Tama.
Ia pun ikut terkekeh. ''Hehehe.. Abang tau? Dulu bang Raga juga seperti ini. Ia juga kepedasan seperti Abang. Tapi tetap ingin makan. Katanya sambal buatan nenek sangat enak. Nampol katanya!''
Semua yang ada disana tertawa bersama. ''Ssstt.. fiuuhh.. hooh. Betul betul nampol ini! Pedas mantap! Tapi pingin makan lagi! hehehe..'' Tama terkekeh lagi di sela-sela kunyahan nya.
Nenek Alina Terkekeh. Begitu juga dengan Kakek Yoga. Dua paruh baya lanjut usia itu sudah tau, jika Annisa sudah menikah dengan Tama empat bulan yang lalu.
Mak Alisa sudah mengabari mereka semua. Pas saat hari Annisa resmi menjadi istri Tama. Makanya saat melihat kehadiran Tama disana, paruh baya lanjut usia itu tidak terkejut ataupun bertanya lagi pada Annisa tentang Tama.
__ADS_1
Mereka makan siang bersama setelah beberapa waktu mereka tidak bersua. Terutama Annisa. Ia yang selalu di pesantren sangat sulit untuk mendapatkan jatah libur.