Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Ana uhibbuka fiillaahh, sayang..


__ADS_3

Empat hari berlalu setelah kunjungan ke empat saudaranya. Hari ini Annisa sedang di dandani oleh Mitha. Adik iparnya.


Bukan Annisa tidak bisa berhias. Tetapi Annisa hanya ingin riasan nya terlihat natural karena hari ini adalah hari perpisahan sekolah nya.


Tama yang melihat Annisa memakai gamis berwarna putih gading dicampur dengan jingga itu begitu cantik di tubuhnya yang semakin chubby saat ini.


Untungnya baju itu Annisa pesan dua Minggu sebelum perpisahan sekolah nya. Dan baju itu lumayan pas di tubuhnya. Walau terasa sesak di bagian dadanya.


''Hah. Enggak Abang! Kok bisa sesak gini sih? Ini lagi si melon menggantung? Kok bisa segede ini coba?!'' gerutu Annisa pada tubuhnya dihadapan Tama dan Mitha.


Mitha terkekeh, sedang Tama menatapnya dengan dalam. ''Iya sih. Abang tuh heran sama melon kamu itu. Kok bisa jadi sebesar itu? Dulu aja sedikit kecil? Lah ini? Melon jumbo euuyy!!''


Plak..


Annisa menepuk lengan Tama. Tama dan dan Mitha tertawa. ''Diem ih! Semua ini gara-gara Abang tau! Kalau bukan karena tangan nakal Abang itu, mana mungkin melon ku bengkak kayak gini!'' sungut Annisa lagi.

__ADS_1


Tama dan Mitha tertawa lagi. Annisa melirik Mitha. ''Kamu juga Tha. Lihat tuh melon kamu. Pastilah si Anto sering meras melon itu kan ya?''


Plak..


Kini gantian Mitha yang menepuk lengan Annisa. Membuat Annisa tertawa terbahak bahak. Tama hanya terkekeh saja.


''Udah ih! Jangan dibahas itu! Malu tau!'' sewot Mitha malu pada Abangnya sendiri.


Tama hanya terkekeh saja. ''Udah selesai! Sekarang, Kakak pakai liontin berlian pemberian Abang. Agar menambah tunjangan penampilan mu. Abang, pasangkan!'' katanya pada Tama.


Tama tersenyum melihat jika istri kecilnya begitu cantik saat ini. ''Sangat cantik! Abang beruntung bisa memiliki bidadari surga dari langit yang khusus di turunkan untuk Abang ke bumi ini. Kamu sangat cantik sayang. Ana uhibbuka fiillaahh.. Sayang..''


Blusssh..


Pipi Annisa merona seketika ketika di puji dan ucapan cinta yang tulus dari Tama untuknya. Annisa tersipu malu. Mitha yang tau langsung aja keluar dari kamar Abangnya dan Kakak iparnya itu.

__ADS_1


Ia tersenyum mendapati kebersamaan dan kemesraan saudaranya itu. Sekilas, ia pun memikirkan ucapan Annisa.


Ia melirik melon miliknya. ''Bener ya? Kok kakak ipar bisa tau sih? Memang sih dulunya melon ku ini kecil. Tetapi ini?? Kok bisa sebesar semangka non biji ya? Mana lagi kantungnya nggak muat? Meluber-luber dah isinya?'' Kelakar nya pada diri sendiri.


Mitha terkekeh sendiri. Ia menuju dapur rumah Tama dan mulai berkaca-kaca disana. Hingga kedatangan Anto mengejutkan nya. Keduanya pun tertawa bersama.


Sedangkan di kamar utama, Annisa dan Tama kini saling pandang dengan tatapan hangat yang penuh cinta.


Tama mengecup dahi Annisa dengan sangat lama. Entah kenapa rasa itu terus menghantui perasaan nya kini. Semakin kesini semakin terasa gelisah.


Namun, ia menepisnya. Demi membahagiakan Annisa. Ia rela menutupi rasa gelisah dihatinya saat ini. Bibir itu terus saja menyunggingkan senyum manis.


Begitupun dengan Annisa. ''Terimakasih.. karena sudah mau menerima cinta gadis kecil ini. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan pada akhirnya. Walau sempat kecewa dengan hal itu. Tetapi sekarang tidak. Abang segalanya untukku. Hidupku dan mati ku. Tanpa mu mungkin aku bisa hidup tetapi hanya raga. Sedang separuh jiwaku ikut bersama mu.. aku hanya ingin tetap bersama ini. Sampai ajal menjemput kita nantinya. Kamu segalanya untukku bang Tama.. segalanya.. jangan pergi dariku walau sedetikpun. Jika sampai itu terjadi, maka diri ini tidak bisa menjadi Annisa yang seperti ini lagi. Tetapi akan menjadi Annisa yang hidup tanpa hati. Yang dingin dan kejam dimana pun ia berada. Jaga hatimu untukku bang Tama jika kamu tidak ingin hatiku seperti itu..'' lirih Annisa sembari memeluk erat tubuh hangat Tama yang sangat ia butuhkan saat ini.


Entah kenapa hatinya begitu gelisah tidak menentu saat ini. Begitu pun dengan Tama. Ia membalas pelukan Annisa tidak kalah eratnya.

__ADS_1


''Bagiku, kamulah duniaku. Kamulah duniaku yang telah berhasil masuk ke dalam relung hatiku terlalu dalam sejak pertama kali tangan ini menyentuh tubuh kecilmu. Dan saat bibir ini mengecup keningmu untuk pertama kali, disaat itu juga rasa cinta itu sudah hadir di hatiku untukmu. Tetapi aku menolaknya. Tapi tidak dengan sekarang. Kamu hidup dan mati ku. Seluruh duniaku ada padamu. Segalanya hanya ada kamu. Jika sampai kamu pergi.. mungkin diri dan hati ini akan mati ikut bersamamu.. untuk apa aku hidup jika hidup dan cintaku pergi meninggalkan ku. Sedang kamu sudah tidak ada lagi di sisiku.. Abang sangat mencintai mu istriku.. sangat..'' lirih Tama semakin erat dan enggan untuk melepaskan pelukan hangat itu.


__ADS_2