
Selesai dengan berziarah, kini mereka akan bersiap pulang ke rumah Mak Alisa. Karena wanita kesayangan Papi Gilang itu sudah sedari tadi bertanya tentang keberadaan mereka semua.
Annisa memeluk erat Bunda Zizi, "Bunda... Kakak pamit ya? Mak udah nelpon kita sedari tadi. Kalau Bunda dan Adik-adik butuh sesuatu, segera hubungi Kakak ya? Seperti yang sudah-sudah?"
Bunda Zizi tersenyum, ia membalas pelukan Annisa tidak kalah erat. "Tentu sayangnya Bunda.. Mana pernah Bunda tidak menghubungi mu? Hem? Selama lima tahun ini siapa yang selalu Bunda repotkan jika bukan kamu? Terimakasih sayang.. Karena bantuan darimu. Ketiga adikmu bisa sekolah hingga ke perguruan tinggi. Hasil dari menulis Syakir untuk membiayai kehidupan kami sehari-hari. Terimaksih, Nak. Benar dulu kata Ayahmu. Kamu bisa menjadi ayah untuk ketiga adikmu.. Terimaksih sayang.." bisik Bunda Zizi di telinga Annisa.
Annisa tersenyum, "Sudah menjadi kewajiban Kakak untuk melindungi dan memberi nafkah untuk ketiga adikku yang lain. Bunda tidak usah khawatir. Semuanya akan baik-baik saja, hem? Kakak harus segera pulang. Jaga diri baik-baik. Hubungi Kakak-,"
"Iya sayang, iya Nak. Bunda tau. Pergilah." Potong Bunda Zizi pada ucapan Annisa yang terus menerus mengingatkannya.
"Kakak pamit, Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam, hati-hati di jalan. Salam untuk Mak Alisa ya?"
"Tentu Bunda. Dek, Kakak pulang ya? Hubungi Kakak seperti biasa jika kalian butuh sesuatu,"
"Tentu kak. Pasti itu!" sahut Syakir dan Arta bersamaan.
Setelahnya pun mereka berlalu dari rumah Bunda zizi dan menuju kediaman sang Papi yang begitu cerewet padanya setelah kepulangannya dari Bandung dua minggu yang lalu.
__ADS_1
Dua jam kemudian.
Waktu sudah menujukkan pukul enam lebih lima menit saat mereka tiba di kediaman Mak Alisa dan Papi Gilang.
"Kakak!!" seru si cantik Kinara yang sama persis seperti dirinya. Bak pinang di belah dua. Mereka berdua begitu mirip. Bahkan Kinara disangka saudara kembar Annisa. Mak Alisa dan Papi Gilang sampai tertawa mendengar orang-orang yang mengatakan mereka berdua begitu mirip dan kembar.
"Assalamu'alaikum Adek.. Itu sapaan yang benar! Gimana sih?" tegur Annisa pada Kinara.
"Hehehehe..." Kinara hanya menjawabnya dengan cengiran saja. Annisa yang gemas memeluk lagi tubuh chubby adik bungsunya itu.
"Yang lain nggak ikut Kak?" tanya Kinara sambil menggandeng tangan Annisa untuk masuk kerumah. Sedang si biang rusuh langsung saja berhambur masuk kerumah Oma dan Opa nya.
"Ho, iya ya? Adek lupa kak! Ayo, kita masuk! Sedari tadi, Papi ngomel- ngomel aja! Takut banget Kakak sama Abang nggak jadi nginap disini!" ketus Kinara begitu kesal kepada sang Papi.
Annisa tertawa mendengarnya. Begitu pun Tama yang mengekor di belakang Annisa. Sedang Mitha dan Anto langsung pulang karena ia harus ke Showroon besok pagi-pagi sekali menggantikan Tama yang sedang berlibur selama dua minggu dirumah Mak Alisa dan Papi Gilang.
Selama lima tahun ini Tama tidak pernah cuti sedikitpun. Baru sekali inilah ia mengambil cuti. Itu pun saat menyusul Annisa dan sang istri sudah pulang kerumah nya seperti dulu lagi.
"Kok bisa?" tanya Annisa pada Kinara yang kini semakin cemberut karena melihat seseorang dari dapur langsung datang saat mendengar suara Annisa dan tama.
__ADS_1
Annisa yang paham langsung saja tertawa tatkala melihat wajah sang papi yang dingin padanya. "Jadi pulang juga kamu?!" ketus papi Gilang sembari mengulurkan tangan nya pada Annisa dan Tama.
Annisa terkekeh, "Ya, jadilah Papi! Siapa tadi yang sangat ribut dan heboh menyuruh kakak secepat mungkin untuk kesini saat Kakak tadi ada di makam Ayah??" tanya Annisa
Membuat pria paruh baya diatas Tama itu pun melengos ke arah lain dengan bibir mencebik. Annisa tertawa melihatnya. Dengan cepat ia memeluk tubuh hangat yang dulu sangat ia sukai dan ia inginkan.
"Jangan marah Papi.. Kakak kan udah datang kesini? " ucapnya dengan sedikit mendongak melihat wajah sang papi yang masih kesal kepadanya.
Tama terkekeh, ia mendekati Mak Alisa yang baru turun dari kamarnya. "Mak? Sehat?" tanya Tama saat mengecup tangan serta dahi Mak Alisa dan dibalas pelukan hangat oleh wanita paruh baya yang sudah tidak muda lagi itu.
"Alhamdulillah, Mak sehat! Itu tuh yang kurang sehat!" tunjuknya pada Papi Gilang yang kini memeluk Annisa dengan sayang. Tama terkekeh melihatnya.
"Gimana nggak sakit sih? Lima tahun Papi selalu mengawasinya dari jauh. Papi dekati dianya malah Lari. Dan papi bujuk untuk pulang, ia malah sembunyi! ternyata ia menyembunyikan harta nya selama ini. Pantas saja dia tidak mau pulang!" ketusnya lagi, Annisa tertawa di dalam pelukan hangat itu.
Tama pun ikut tertawa.
Untuk malam ini, mereka berempat akan menginap dirumah Mak Alisa karena rencananya dua minggu dari sekarang, mereka akan bertamsya ke taman kota Medan bersama saudara nya yang lain.
Satu bab lagi meluncur! Tungguin ye? Hadiah untuk malam minggu! 😅😅
__ADS_1