Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Bonchap End


__ADS_3

Annisa segera membawa Tama kerumah sakit Kak Ira. Disana sudah menunggu Kak Ira dan Bang Raga untuk menyambut kedatangan Annisa dan Tama. Abang angkat sekaligus adik ipar mereka. Ck.


Tiba dirumah sakit, Annisa memapah Tama yang kini semakin pusing saat mencium bau obat dirumah sakit itu.


Tama langsung dibawa keruang inap yang sudah di persiapkan oleh Kak Ira dan Bang Raga. Ia langsung dipasangkan infus oleh seorang perawat.


Setelah Selesai, Tama membuka kedua matanya yang kini menatap datar pada Annisa dan Bang Raga. Wajah itu begitu dingin saat ini. Kak Ira memalingkan wajahnya ke arah lain sedangkan Bang Raga menghela nafasnya.


"Sebaiknya kamu, dek yang ngomong. Lihat tuh wajah Abang kayak monster yang ingin memakan kita secara hidup-hidup!" sindir Bang Raga saat melihat wajah Tama yang tidak bersahabat kepada mereka bertiga.


Bukannya takut, Annisa malah terkikik geli. Tama menghela nafasnya. "Abang jangan marah! Bukankah ini sudah menjadi perjanjian kita seminggu yang lalu?" Annisa memotong Tama yang ingin berbicara terlebih dulu kepadanya.


Ia menghela nafasnya lagi. "Tetapi bukan dengan cara berbohong sayang! Apapun itu kamu tetap bersalah disini." Lirihnya mendadak sendu.


Tama sudah tau jika Annisa sedang hamil. Semua itu ia terka sendiri dengan dirinya yang sama seperti hamil si kembar sulung dulunya.


Annisa tersenyum, "Adek tau, Adek salah sama Abang. Semua ini Adek lakukan demi keluarga kita. Adek ingin punya anak satu lagi. Setelah ini boleh Abang ingin mengikat atau apapun agar Adek tidak hamil lagi, Adek janji! Ini yang terakhir!" ujarnya meyakinkan Tama yang saat ini berwajah sendu.


Annisa mendekati Tama dan memeluk sang suami yang begitu takut kehilangannya. "Abang harus ingat. Semua itu sudah menjadi kehendak takdir! Hidup dan mati kita ada di tangan Allah. Kita berjuang bersama ya? Adek janji sama Abang. Kita akan bersama-sama lagi setelah ini. Yakinlah, Allah tidak tidur dan selalu mendengar setiap doa kita!" ucapnya menangkan Tama yang sedang bersedih takut kejadian saat si kembar dulu akan terulang lagi.


Tama tidak mau itu terjadi.


*


*


*


Hari-hari yang mereka lewati rasanya begitu cepat. Tidak terasa kandungan Annisa saat ini sudah menginjak sembilan bulan lebih sepuluh hari.


Sedari hamil hingga saat ini, jika soal makan Annisa tetap ratu nya. Terbukti ketiga anak mereka sangat kuat makan sama sepertinya.


Seperti pagi ini, ia begitu lahap memakan makanan dari tangan Tama tetap seperti dulu disuapi olehnya. Kadang ia di ejek oleh anaknya sendiri.


Mereka bilang, kalau Annisa lebih manja sama Papi mereka ketimbang si kembar yang saat ini sudah bisa makan sendiri.


Annisa mencebik saja mendengar ucapan kedua anak sulungnya itu. Tama hanya bisa terkekeh, ia memaklumi semua keinginan Annisa yang sama saat ia mengandung si kembar sulung delapan tahun yang lalu.


Annisa meringis ngilu saat merasakan perut bagian bawahnya semakin sakit. Tetapi ia pura-pura tetap makan dan selalu tersenyum pada semuanya.


Ia tidak berbicara, tetapi terus menerima suapan dari tangan Tama hingga habis. Setelah habis barulah dirinya membuang nafas dengan kuat hingga piring yang ada di tangan Tama jatuh ke lantai saat melihat ada air yang merembes membasahi baju batik yang saat ini ia kenakan.


Deg!


Pyaarr..


"Sssttt.. Huffttt.. Bawa Mami kerumah sakit, Pi! Anak kita akan segera lahir!" ucap Annisa di sela rasa sakit yang terus menderanya.


Seketika Tama Blank. Mata itu menatap terkejut pada baju batik Annisa yang sudah basah itu. Tania dan Danis pun terkejut.

__ADS_1


Secepat kilat mereka kerumah Anto untuk menyampaikan hal itu. Dan Anto pun bergerak cepat dengan menyalakan segera mobil milik Tama dan Berlari masuk ke dalam untuk menemui kedua orang itu.


Tiba di dalam, ia berdecak sebal saat melihat wajah Tama yang pucat pasi lagi. Sama saat Annnisa melahirkan dulunya. Geram, ia ingin segera mengangkat Annisa hingga membuat Tama terkejut.


"Apa yang kamu lakukan Anto!" serunya dengan suara menggelegar


Anto berdecak lagi, "Abang pilih! Pilih aku yang gendong, atau Abang yang gendong? Kakak ipar sudah mengedan berulang kali! Sebentar lagi anak kalian lahir di mobil!" ketus Anto sangat kesal kepada Tama.


Tama terkejut mendengar ucapan Anto, secepat kilat Tama menggendong Annisa dan sedikit berlari menuju ke mobil. Di ikuti Anto di belakangnya. Ada juga si kembar sulung yang sudah tanggap membawa keperluan sang Mami saat dirumah sakit nanti.


Annisa sudah menyiapkan semuanya. Dan ia pun berpesan kepada kedua anaknya untuk membawa tas perlengkapan itu di saat dirinya akan melahirkan adiknya nanti.


Cukup Dua puluh menit mereka sudah tiba dirumah sakit Kak Ira. Dimana Bang Raga dan juga bidan yang dulunya pernah menolong Annisa melahirkan kini bidan itu lagi yang akan membantunya.


Tama masih blank. Anto yang melihatnya pun hanya bisa menghela nafasnya. Tama di panggil masuk keruangan bersalin setelah Annisa menginginkan sang suami untuk mendampinginya.


Lagi dan lagi Tama menangis melihat Annisa yang semakin kesakitan saat mengedan untuk mengeluarkan anak terakhir mereka.


Sama seperti si kembar dulu, kali ini pun anak mereka tetap tidak menunjukkan jenis kelaminnya kepada uwaknya, bang Raga. Sampai-sampai dokter kandungan itu begitu kesal kepada penerus kerajaan bisnis Pratama itu.


Hingga hitungan terakhir kalinya dari Bidan Wulan, Annisa berhasil melahirkan anak mereka dengan selamat kedunia.


"Oeekk.. Oeekk.. Oekk.." suara tangisan anak bungsu Pratama begitu nyaring terdengar hingga Mak Alisa dan Kinara yang baru saja datang dengan berlari menangis seketika.


Mereka dikabarkan oleh si kembar tentang Mami mereka yang saat ini sedang melahirkan dirumah sakit Uwak mereka.


Annisa di bersihkan terlebih dahulu baru setelahnya di bawa keruang inap dimana seluruh keluarga sudah berkumpul menanti kehadiran Prince Pratama.


Annisa dibawa masuk setelah selesai di bersihkan bertepatan dengan bayi yang kini di gendong oleh Tama tadi di ruang bersalin menyusul di belakang bangkar Annisa.


Ia terharu. Hingga berulang kali mengecup dahi putranya itu. Ya, anak terakhir mereka adalah seorang putra yang sangat mirip dengan Tama.


Semua yang melihat itu begitu senang. Apalagi Kinara. Ia pun memiliki seorang putra yang sangat mirip dengan sang suami yang sudah di nyatakan meninggal dunia.


Hingga saat ini ia masih sendiri. Tidak ingin memiliki ikatan dengan pria lain karena dirinya memiliki janji dengan sang suaminya. Menanti kepulangannya hingga di akhir usia nya. Annisa pun tau itu.


Tama dan Annisa begitu bahagia, ia menatap haru pada Tama sang suami yang telah mengizinkan nya untuk hamil yang terakhir kalinya.


"Terimakasih karena Abang sudah mengizinkan adek untuk mengandung anak kita lagi. Janji adek sudah selesai." Imbunya sambil menatap Tama dengan lekat yang kini sedang berbaring di sampingnya.


Mereka tidak peduli dengan seluruh keluarga yang ada disana. "Sama-sama sayang. Cukup ini saja. Abang sudah bilang 'kan. Abang tidak sanggup melihat kamu sakit seperti itu lagi. Cukup. Sudah cukup enam anak. Melebihi slogan keluarga berencana!" seloroh Tama sambil memeluk Annisa yang kini sedang tertawa karena ucapannya.


Selamat berbahagia Tama dan Annisa. Semoga kisah cinta kalian berdua akan menurun kepada ke enam anak kalian kelak.


Dan sang Prince yang sudah mendapat gelar Pangeran Pratama itu pun sudah di berikan nama oleh Tama dan Annisa tanpa menunggu aqiqahan nya enam hari lagi.


KELUARGA KECIL ADRIAN PRATAMA DAN ANNISA PRATAMA


__ADS_1



Danis Prawira Pratama




Sritania Puteri Pratama




Yusuf Putera Pratama




Almaira Puteri Pratama




Alzana Puteri Pratama




Aggam Putera Pratama ❤




Lengkap sudah keluarga kecil mereka.


💕💕💕💕


Sampai jumpa di sekuel mereka nantinya. Follow akun menulis othor agar kalian tau jika sekuel anak Tama dan Annisa akan segera rilis.


...Jangan lupa mampir di karya othor yang lainnya ye? ...


...Salam hangat, Author...


...Melisa 😘😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2