Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Keluarga Terpandang


__ADS_3

''Baiklah, karena hari sudah sore, kami harus segera kembali bang Emil. Zi, kami pulang. Syakir, Arta, Bella? Papi sama Mak pulang ya? Kami harus kembali. Kapanpun kalian butuh bantuan, hubungi Papi sama Mak. Kalau kalian keberatan, maka hubungi Kak Ira atau kak Annisa. Mereka selalu bisa di andalkan kok.''


''Huhuhu.. terimakasih Papi! Love you so much!! Mmmuuuaacchh!!'' ucap Annisa menggoda Papi Gilang.


Mak Alisa melotot. Papi Gilang tertawa. ''Tentu honey... apapun untukmu!'' jawabnya dengan mengedipkan mata sebelah menggoda Annisa.


Lagi dan lagi Mak Alisa melototkan matanya. ''Apa sih? Mata kamu itu lama-lama copot sayang kalau selalu melotot kayak gitu!''


Plakk..


Hahahaha...


Papi Gilang tertawa terbahak. Ayah Emil pun ikut tertawa. Sungguh, selama ia mengenal Gilang. Pemuda itu selalu bisa membuat humor receh untuk Alisa. Berbeda dengan nya dulu. Begitu kaku dan datar kayak triplek. Seperti kata Bunda Zizi tiap kali marah padanya.


Tapi saat ini ia sudah berubah. Semua itu karena Bunda Zizi. Benar kata orang, jika kita memiliki pasangan yang lebih tua, maka kita yang muda inilah yang menjadi penghibur nya. Begitu pun sebaliknya. Jika sang wanita yang tua, maka sang pria lah yang menjadi penghibur bagi wanita itu. Seperti Mak Alisa ini.


Hidupnya selalu berwarna setelah menikahi Papi Gilang yang masih sangat muda. Bagaimana tidak muda kalau umur Papi Gilang saat menikah dengan Mak Alisa itu berumur dua puluh lima tahun lebih sedikit. Masih usia sangat muda.


Sedang Mak Alisa saat itu sudah berumur tiga puluh dua tahun. Jauh selisihnya. Tapi Papi Gilang bisa mengimbangi nya. ( Sama seperti bapak sama Mak Othor! Bapak othor masih muda saat menikahi Mak othor yang sudah janda waktu itu 🤣 )

__ADS_1


''Ya sudah, kalian hati-hati di jalan ya? Semoga selamat sampai tujuan..''


''Amiin..'' sahut semuanya.


Mereka semua berpamitan kepada keluarga bunda Zizi dan juga keluarga ayah Emil yang baru saja datang. Pada saat tadi acara ulang tahun Bella, mereka masih sibuk dengan pekerjaan mereka.


Beruntung nya Keluarga ayah Emil tidak mendengar perdebatan mereka. Kalau sempat, entah apa yang akan terjadi dengan bunda Zizi nanti. Karena mereka tau, bunda Zizi itu wanita yang baik.


''Ayah, Bunda.. kakak pulang ya? Kalau butuh sesuatu, hubungi aja Kakak. Nomor Kakak ada sama Syakir! Kalau nggak masuk, maka hubungi Bang Tama atau Kak Ira. Ke empat nomor kami plus nomor Mak dan Papi, udah ada sama Syakir. Jangan sungkan-sungkan Bunda. Kalau Bunda menganggap Kakak ini anak Bunda juga!'' tegas Annisa.


Bunda zizi memeluk erat tubuh Annisa. Ia tersedu. ''Terimakasih Nak.. Terimakasih.. kamu sudah menyelamatkan adikmu dari masalah. Sekali lagi terimakasih.. maafkan bunda Nak..'' lirih bunda Zizi di telinga Annisa.


''Iya Kak?''


''Ingat pesan kakak tadi. Hem??'' kata Annisa pada Syakir.


Syakir tersenyum dan mengangguk. ''Iya Kak. Tenang saja!'' Annisa tersenyum, ia mengelus kepala Syakir dan memeluk adik tirinya itu.


''Kakak pulang Dek. Jaga diri baik-baik, hem? Hubungi kakak jika terjadi sesuatu pada kalian!'' peringat Annisa lagi pada ketiga adiknya yang saat ini memeluk tubuh nya.

__ADS_1


Ketiga adiknya itu mengangguk patuh. ''Ayo Dek, hari semakin sore. Kita sholat dijalan aja nanti bersama yang lain. Kami pamit Yah, Bunda.. Syakir, Arta, Adek?? Abang pulang ya?''


''Ya, kapan-kapan Abang sama Kakak kesini lagi ya? Bawa kami jalan-jalan dengan mobil Abang!'' sahut Bella


Tama dan Annisa tertawa. ''Tentu sayang. Kami pulang. Assalamualaikum...'' ucap Tama pada semuanya.


''Waalaikum salam Nak.. hati-hati di jalan!''


''Ya,'' sahut mereka semua kompak.


Satu persatu pulang meninggalkan kediaman ayah Emil. Kini yang tersisa hanya keluarga inti saja. Tidak ada yang berbicara sepatah katapun.


Mereka semua masih termangu dengan ucapan dan hadiah dari keluarga mantan istri ayah Emil.


''Mereka bukan keluarga sembarangan ya Andi? Gilang itu bukan nya bos kamu ya di kantor??'' tanya Uwak Kasman pada Uwak Andi.


''Iya Wak. Bos Gilang lah yang selama ini membiayai hidup kami hingga kami satu persatu sukses. Hahh.. aku malu sekali tadi. Keluarga kita jadi buruk di hadapan nya. Bos Gilang tidak mau mengungkit. Tapi jika mbak Alisa terluka. Maka kita semua akan mendapatkan masalah. Mereka bukan keluarga sembarangan Wak. Mereka keluarga terpandang! Semoga saja bos Gilang tidak marah padaku besok,'' imbuhnya dengan menunduk sedih.


Uwak Ema mengusap lembut pundak nya. Uwak Andi menoleh dan tersenyum. Benar, keluarga Bhaskara bukanlah keluarga biasa. Mereka keluarga terpandang. Dan sangat di segani dan dihormati di kota Medan ini.

__ADS_1


__ADS_2