
Satu malam Tama berada di showroom miliknya dengan di temani Anto dan Mitha. Pagi ini Tama dan Mitha pulang kerumahnya. Sedang Anto yang mengurus showroom.
Sepanjang perjalanan, Tama terus melamun. Melamun kan kejadian kemarin siang yang begitu membuat hidupnya dalam masa yang kelam.
Belum lagi kabar kepergian Annisa yang mendadak tanpa memberikan kabar padanya. Membuat pria dewasa itu merasakan sakit yang tiada Tara.
Disaat Tama membutuhkan Annisa, istri kecilnya itu malah pergi meninggalkan nya tanpa sepatah katapun. Ia ingin menghubungi ustadzah Hanim, tetapi Mitha melarang nya.
Karena dari informasi yang ia dapat dari satpam disana, bahwasanya para murid yang mendapat surat undangan itu akan berangkat ke Bandung pagi ini.
Ustadzah Hanim dan salah satu dewan guru di sekolah itu sudah berangkat ke bandara. Begitu informasi yang Mitha dapatkan tadi malam saat menyusul Annisa ke pesantren nya.
Mitha yang sedang mengemudi kan mobil, terisak melihat Abang kandung nya. Ia tidak sanggup melihat pria dewasa itu begitu terpukul kala mengetahui jika Annisa sudah tau tentang kajedian di showroom itu.
Mitha yang mengatakan nya. Tama hanya bisa menangis sekarang. Mengejar pun percuma. Tubuhnya begitu letih saat ini akibat efek obat yang ia minum kemarin siang saat di showroom.
''Abang..'' lirih Mitha dengan mata menatap lurus ke depan.
''Kenapa Dek? Kenapa kakak mu pergi disaat aku sedang terjatuh seperti ini? Apakah hanya sampai disini saja cintanya untukku?? Apakah cintaku selama ini tidak bisa menguatkan hatinya??'' ucap Tama dengan air mata yang terus beruraian di pipinya.
__ADS_1
Mitha tidak bisa berbicara. Lidahnya tercekat untuk mengatakan sesuatu. Ia kembali terisak. Begitupun dengan Tama.
Sepanjang perjalanan itu Tama terus saja menangis. Tetapi tanpa suara. Suara tangisan yang teredam karena dirinya tidak bisa bersuara. Lehernya seperti terkunci untuk mengeluarkan suara Isak tangis.
Tama hanya bisa menangia dalam diam. Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah Tama.
Tama turun dari mobil dengan langkah gontai. Ia menuju saksh satu pit dan mengambil kunci dari sana. Sakit. Sangat sakit. Bahkan Annisa meninggalkan kunci rumah itu disana.
Padahal ia tau, bahwa Tama pun memiliki satu kunci serap untuk rumah itu. Kunci yang Annisa pegang adalah kunci utama.
Tama masuk kerumah yang terasa sepi dan hampa setelah ia tau Annisa pergi meninggalkan nya tanpa sepatah kata.
Hingga Tama berada di depan pintu itu kembali berdiri mematung. Mitha pun ikut mematung. Tama menghela nafasnya.
''Pulang lah Dek. Abang bisa kok. Kalau mau makan nanti Abang masak sendiri..'' lirihnya begitu lemas tak bertenaga.
Mitha menurut. ''Baik, adek ada di rumah. Abang hubungi aja ya kalau butuh sesuatu?''
''Ya,'' sahut Tama dengan segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu itu dengan rapat.
__ADS_1
Mitha menghela nafasnya. Lagi, air mata itu turun di pipinya. Ia harus kuat demi Abang nya. Hanya Mitha dan Anto yang saat ini ada bersama Tama.
Mitha pun berlalu pergi meninggalkan Tama seorang diri. Sedangkan Tama melangkah gontai menuju kamar mandi dan mengambil handuk yang tersampir disana.
Handuk Annisa.
Tama memegangi handuk itu dan mencium bau khas Annisa uang tertinggal disana. Setelah nya ia berlalu masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya yang sudah sangat gerah ia rasa.
Bukan Rama tidak mandi. Ia sudah mandi di showroom. Tetapi ketika pulang kerumah Tama tetap ingin mandi lagi. Karena ingin mencium aroma wangi tubuh Annisa yang tertinggal di setiap sudut kamarnya itu.
Lima belas menit Tama selesai dengan ritual mandinya. Ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar.
Kulit putih mulus tanpa cacat dengan dada bidang yang lebar dan juga otot perut yang membentuk kotak itu membuatnya semakin tampan.
Andai Annisa disana pastilah Mata cantik itu tidak berkedip melihat nya. Itulah kebiasaan Annisa setiap kali Tama selesai mandi.
Mengingat Annisa, lagi. Hati itu terasa d iris sembilu. Ia membuka lemari dan mengambil bajunya.
Deg!
__ADS_1
''Sayang...''