Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Tamu jauh keluarga Bunda Zizi


__ADS_3

Keesokan harinya.


Annisa sedang memandikan ayah Emil di kamar mandi. Karena beliau begitu ingin mandi. Sejak datang kerumah sakit itu, ayah Emil tidak boleh mandi karena masih terpasang jarum infus.


''Sudah nak. Sudah sudah segar sekarang.'' Ucap Sudah Emil pada Annisa.


Annisa mengangguk patuh. ''Oke, sebentar! Kakak ambilkan handuk dulu. Ayah jangan bergerak. Disini saja!'' tegas Annisa pada ayah Emil.


Ayah Emil terkekeh. ''Iya sayang. Ayah disini saja. Mau kemana pun sudah nggak bisa kok kalau nggak di tuntun Tama?''


''Itu lebih baik! Sudah, ayo kakak papah ayah keluar.'' Imbuh Annisa pada Ayah Emil.


''Ya, hati-hati nak. Jarum infus nya sakit banget nusuk daging kurusnya ayah!'' seloroh ayah Emil membuat Annisa tertawa.


Mendengar suara tawa Annisa, Tama bangkit dan bergantian memapah Ayah Emil untuk dibawa ke bangkar kembali. Setelah tiba disana, Annisa mengeringkan tubuh ayah Emil dengan handuk yang ada di tangannya.


Sementara Syakir sudah berangkat sekolah diantarkan langsung oleh Tama ke sekolah nya. Ponsel yang tadi malam ia pelajari bersama Annisa saat subuh tadi tidak ia bawa.


Karena ada hal yang harus Annisa kerjakan melalui ponsel itu. Dan Syakir tau itu. Lagipun peraturan di sekolah Syakir tidak boleh membawa ponsel ke sekolah. Maka dari itu Syakir meninggal kan nya bersama Annisa.


''Sudah. Ayah duduk aja dulu di temani bang Tama. Kakak mau mandi.''


''Ya, pergilah. Kayaknya kita bakalan kedatangan tamu nanti kesini.'' Kata ayah Emil pada Tama saat Annisa sudah berlalu masuk ke kamar mandi di ruangan itu.


Tama menoleh pada ayah Emil. ''Tamu Yah? Tamu dari mana??'' tanya Tama sembari mendekati bangkar Ayah Emil.


Ayah Emil menunduk. ''Tamu-,''


''Assalamu'alaikum Emil!!''

__ADS_1


Deg!


Deg!


''Hah. Mereka sudah tiba nak. Lindungi Annisa sebisa mu. Mereka itu kerabat jauh Bunda kamu. Kemarin mereka sempat menghubungi Bunda mu. Katanya mereka akan datang hari ini. Ayah mohon nak.. lindungi Annisa..'' lirih ayah Emil dengan menunduk ketika kelurahan jauh bunda Zizi sudah datang.


Tama menoleh saat seseorang berbicara pada seluruh kelurahan yang lain. Tanpa tau dan tanap bertanya mereka langsung aja duduk di tilam tahu tempat tidur Annisa dan Tama disana.


Tapi menatap datar pada mereka semua. Semua tamu mereka itu begitu sombong. Maklum, semuanya itu orang kaya. Ayah Emil menatap Tama dengan tatapan mengiba.


Mereka bercakap-cakap ria tanpa mengikuti sertakan Tama dan ayah Emil. Ayah Emil menunduk lagi. Wajah paruh baya itu begitu sendu.


Sementara Annisa yang baru saja siap mandi keluar dari kamar mandi itu setelah berpakaian lengkap. Dirinya begitu terkejut ketika melihat ada sepuluh orang tamu yang tidak ia kenal sama sekali.


''Loh? Ini dengan siapa Yah??'' tanya Annisa pada ayah Emil. Ayah Emil diam. Tidak mau menyahuti ucapan Annisa.


Takut jika ucapan nya nanti akan memancing huru hara disana. Apalagi ia sangat kenal dengan seluruh keluarga istrinya itu.


Ayah Emil menatap Annisa dengan sendu. Sedangkan seseorang dari mereka menatap sinis pada Annisa. ''Kenapa kau sangat ingin tau siapa kami? Yang seharusnya kami tanya itu kau! kau itu siapa?! kenapa pula kau ada dikamar ini?! Emil! Siapa gadis tidak tau diri ini?! Berani-beraninya dia berbicara seperti itu kepada kamu? Kamu ingat Emil! Kamu itu di terima di keluarga kami karena Zizi. Jika bukan karena permintaan nya, maka kami tidak akan pernah merestui pernikahan mu dengan nya! Siapa yang mau menikah dengan duda kere kayak kau ini?! Heh! Sudah susah! Belagu lagi! Apa sih yang di lihat Zizi hingga putri kami itu lebih memilih pria tua seperti mu dan juga miskin!!!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Tersentak Annisa dan Tama mendengarnya. Tama mengepalkan kedua tangannya. Annisa menatap datar pada seseorang keluarga jauh bunda Zizi itu.


''Kenapa?! kau tidak suka jika aku menghina ayahmu?! Asal kau tau ya! Pria tua ini sudah membuat Zizi kami berubah gara-gara menikahinya! Zizi berubah menjadi perhitungan sama kami! Tidak seperti dulu! Ia sangat baik jika kami datang! Tapi tak apa. Aku dengar, kalau dua bulan lagi Zizi akan menang arisan?? Aku akan datang kepadanya untuk meminta hak yang seharusnya menjadi milik kami! Bukan milik lelaki kere seperti pria blangsak dan penyakitan ini!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Lagi, Tama dan Annisa semakin meradang mendengar hinaan demi hinaan yang dilontarkan untuk sang Ayah tercintanya. Siapa mereka berani menghina ayahnya, sedang mereka saja tidak tau seperti apa pengorbanan ayah Emil selama ini untuk keluarga nya.

__ADS_1


Tama ingin berbicara membalas ucapan orang itu, tapi kalah cepat dengan Annisa. ''Waaauuwww... hebat! Hebat! Sangat hebat! Keluarga kaya dan terpandang ini begitu pintar dalam menghina orang lain ya? Bagus, bagus sekali! Aku tak menyangka saja, orang kaya tapi bermulut pedas! orang kaya tapi congkak! orang kaya tapi tidak punya etika dalam berbicara!''


Deg!


''Kau....!!''


''Ya, aku! Aku Annisa! putri bungsu dari istri pertama ayah Emil yang bernama Alisa. Yang bersuamikan seorang pengusaha terkenal di mana keponakan kalian yang lain pun mencari makan padanya! Anda ingin tau siapa dia??''


Semua menatap sinis pada Annisa. Mereka ingin sekali menghajar mulut pedas Annisa itu. Begitu pikir mereka. ''Jangan marah padaku nenek tua! Seharusnya kau sadar! Jika kau itu sudah tua! Harus banyak bertaubat sebelum masuk liang lahat! Jangan menghina ayah ku! Kau tidak tau apapun tentang nya! Ayahku, pria tua terbaik yang pernah aku temui! Keponakan kalian yang bernama Azizah itu begitu beruntung mendapatkan suami penyayang dan bertanggung jawab seperti nya!''


''Buat apa kaya! Kalau keseharian nya hanya main judi, kelayapan! Masuk hotel berganti-ganti pasangan! Belum lagi mabuk-mabukan! Lebih baik blangsak tapi bermoral tidak seperti kalian para orang kaya!''


''Halah... jangan banyak omong kau! Kau itu hanya anak dari istri Emil yang saat ini sudah hidup senang dengan pemuda kaya! Kalau bukan di guna-guna, mana mungkin pemuda itu mau dengan wanita yang sudah memilki anak dari lelaki kere seperti nya! Lelaki itu pasti matanya sudah katarak, makanya tidak bisa membedakan mana yang layak dipakai dan mana tidak layak dipakai! Seperti Mak kau! Janda sialan!!!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Lagi, Tama tersentak mendengar hinaan untuk Mak Alisa. Tapi tidak dengan Annisa. Gadis kecil Tama itu malah tertawa sumbang menatap semua tamu jauh bunda Zizi itu.


''Heh! Gila ya tuh anak!''


''Ya, aku gila karena kalian yang telah menghina ayah dan Mak ku? Tau apa kalian tentang Mak ku? Sedang kau sendiri tidak pernah mengenalnya! Tau apa ksu tentang ayah dan Papi ku? Sedang kau saja tidak pernah tau pengorbanan apa yang telah mereka lakukan untuk kami sebagai anaknya! kau harus tau nenek peyot! Putra mu Andi Prajaditya dan Aldi Prajaditya merupakan pesuruh di kantor Papi ku! Mereka berdua merupakan tangan kanan yang makan dari gaji yang dibayarkan oleh Papi ku setiap bulannya yang sibuk kalian keroyok setiap tahunnya!''


''Asal kau tau, lelaki katarak yang kau sebut tadi itu merupakan CEO terkenal di kota Medan ini. Begitu juga dengan Mak ku! GILANG BHASKARA DAN ALISA BHASKARA! PEMILIK SAH BHASKARA GROUP DAN MALL ALISA DI KOTA MEDAN INI! YANG SERING KALIAN KUNJUNGI SETIAP SATU BULAN SEKALI!!!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


''APA?!??!''


💕💕💕💕

__ADS_1


Besok lagi ye?


__ADS_2