
Mereka berdua berjalan melewati ruang tamu yang sudah bertaburan bunga mawar merah dan putih itu. Entah kemana larinya sofa milik Tama, Annisa pun tidak bisa menebaknya.
Tama menyeringai ketika melihat Annisa yang terpejam lagi saat menaiki tangga. ''Tunggu kamu sayang! Kamu jangan menantang pria tua ini! Kalau masalah ini Abang masih muda!'' batin Tama tersenyum puas saat melihat Annisa terlelap kembali karena masih mengantuk.
Ceklek.
Pintu kamar mereka terbuka lebar. Lagi, ruangan itu gelap.
Cetak.
Tama menghidupkan lampu kamar mereka. Annisa membiak matanya. Lagi, ia melongo. ''I-ini.. kamar kiat Bang??'' tanya Annisa pada Tama.
Tama terkekeh, ia berjalan mendekati ranjang dan mendudukkan Annisa disana. Tangannya dengan terus bergerak membuka kancing jas nya.
Kamar tidur yang sedikit berbeda dari yang lain. Tama menginginkan kamar itu tidak dibuang sedikit pun. Ia hanya ingin di ubah sedikit saja dengan cara menggantung kan tirai putih sebagai kelambu tipis untuk mereka tidur nantinya.
Mengenang tidur, Tama terkekeh lagi. ''Ayo, buka baju mu. Biar Abang bantu. Sekalian mandi air hangat, ya? Abang akan bantu kamu untuk mandi,''
Annisa yang masih terdiam itu pun tersenyum kini. ''Tentu, kita mandi berdua. Setelah nya sholat dulu. Kan belum sholat isya??''
Tama tersenyum dan mengangguk. Ia mbantu Annisa untuk mbuka seluruh pakaian mau hingga tersisa pakaian dalam saja. Tama menelan salivanya saat melihat tubuh mulus Annisa.
__ADS_1
''Ehem...'' ia berdehem untuk menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba datang menghampiri nya.
''Abang kenapa??''
''Nggak... ayo kita mandi. Ini handuk mu. Ayo!'' ajaknya pada Annisa.
Annisa mengangguk, ia berjalan lebih dulu di ikuti Tama di belakang nya. ''Astaghfirullah! Baru melihat nya saja, pusat tubuhku sudah bereaksi seperti ini. Sabar Jun.. sebentar lagi kamu pasti akan merasakan nya! Haisshh.. kenapa pula itu badan mulus kayak porselen sih?!''' batin Tama terus menggerutu tidak jelas.
Tama pasrah. Ia ahatia mandi segera untuk menghangatkan rasa itu. Mereka berdua mandi bersama.
Cukup sepuluh menit saja mereka sudah selesai. Kemudian, mereka berdua sholat isya berjamaah dan disambung dengan sholat Sunnah sebelum memulai ritual malam pengantin mereka.
Cukup lima belas menit, kini ibadah mereka telah usai. Tama berbalik menghadap Annisa dengan duduk bersila.
Annisa menunduk. Tama mengulurkan tangannya untuk disalimi oleh Annisa. Annisa menerimanya. Ia memejamkan matanya saat Tama mengecup keningnya.
Annisa menunduk. Pipi itu mendadak panas hingga ke telinga nya. Tama mencapit dagu lancip Annisa dan menengadahkan padanya. ''Boleh??'' tanya Tama lagi
Annisa tersenyum dan mengangguk malu-malu. Tama terkekeh, ''Baiklah.. Bimillahi allahumma jannibissyaithoonaa wa jannibissyaithoonaa maarozak thonaa..''
Artinya : ''Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkan lah kami dari ( gangguan ) setan dan jauhkanlah setan dari rizki yang akan Engkau anugerah kan kepada kami.''
Tama berbisik lirih di telinga Annisa. Tubuh Annisa bergetar. Tama mengangkat annisa menuju pembaringan sembari membuka satu persatu kain yang melekat di tubuhnya salah satu mukenah nya.
__ADS_1
Tama melotot saat melihat baju yang Annisa kenakan saat ini seperti baju dinas perang malam yang selalu Anto ceritakan padanya.
''Haisshh... darimana pula Annisa mendapatkan baju saringan tahu kayak begitu?? Maulah Tidak tidur malam kalau begini?? Mana merah lagi warna nya? sesuai dengan kulit putih halusnya.. ya Allah.. godaan mu berat banget sih untukku?? Eh? Tapi kan Annisa sudah sah menjadi istrikuu?? Oh ya ampun Adrian Pratama! Benar kata Annisa, kamu sudah tua! Ck! '' Batin Tama mendadak kesal sendiri.
''Abang??''
Tama terkejut dari menatap Annisa. ''Eh? I-iya. Kita mulai ya?'' Annisa menunduk malu. ''Tapi tunggu dulu! Kamu dapat baju kayak gini dari mana??'' tunjuk Tama pada seragam malam Annisa yang begitu mengundang syahwat.
Annisa tersipu malu. ''Kak Ira yang ngasi ini. Katanya adek harus pakai ini malam ini.. biar Abang senang.. gitu katanya!'' jawab Annisa dengan menunduk. Ia menutup kedua wajahnya karena malu.
Tama tertawa keras. Ia tertawa melihat Annisa dan juga mendengar kalau baju itu berasal dari Afrika perempuan nya yang satu lagi. Kakak kandung Annisa. Ira Sarasvati.
''Hahaha... Abang suka! Sungguh sayang! Abang akan memberikan hadiah untuk kakak nakal mu itu! Pantas saja tiga tahun sekali kakak kamu itu brojol aja! Tak taunya?? Haha.. gegara saringan tahu ini rupanya! Hahaha...'' Tama tergelak keras membuat Annisa malu sekaligus kesal.
Tama terus tertawa hingga terjatuh di ranjang. Gambar, Annisa bangkit dan ingin keluar tetapi tangannya di cegat oleh Tama.
Ia menarik tangan halus itu dan terjatuh di pangkuan nya. Cup!
Tanpa aba-aba Tama langsung saja mengecup putik ranum milik Annisa yang sedari tadi begitu menggoda dirinya.
Tama memaguut lembut putik ranum itu. Mengecap, melahap habis putik ranum yang selalu ia rasakan saat ini.
Tubuh keduanya terasa panas seketika. Hingga tidak kuasa untuk menahan nya lagi. Tama merebahkan tubuh kecil itu diranjang dan mulai menguasai permainan.
__ADS_1
Tanpa melepaskan pagutan nya tangan Tama terus bergerak cepat memegang dan menyentuh sesuatu yang begitu kenyal di sebalik baju saringan tahu itu.
Annisa menggeliat. Tama semakin ingin menjamah seluruh tubuh yang selama ini pernah ia sentuh tetapi tidak sepenuhnya. Mereka terus berperang untuk mereguk manisnya madu pernikahan mereka berdua.