
Selly mematung ketika Tama melewati dirinya tanpa menoleh padanya sedikit pun. Ada rasa tidak enak dihatinya.
Ingin melarang, tapi tak punya hak seperti kata calon Tama tadi. Ia hanya bisa menatap saja pada pasangan beda usia itu.
Sementara Annisa terus dibawa naik kelantai dua rumah mereka. Dimana kamar utama berada. Selly pun tidak tinggal diam. Wanita itu mengikuti Tama dan Annisa dengan berlari menaiki tangga.
Tiba di depan pintu kamar utama yang bertuliskan logo, TamAn. Selly mematung di tempat.
Braaakkk..
Pintu tertutup dari dalam yang sengaja Tama tendang dengan kakinya. Annisa tersentak kaget.
Ia melihat ke sekeliling kamar mereka berdua.
Deg, deg, deg.
Jantung keduanya berdegup tak beraturan saat berada dalam satu kamar. Kamar mereka. Mata Annisa mental figur yang terpasang cantik di atas kepala ranjang mereka.
Foto pernikahan mereka berdua.
Tanpa sadar, seutas senyum kecil terbit di bibir tipis Annisa. Tama menatapnya dengan dalam. Ia menatap lekat pada sang istri.
Ia mendekatkan wajahnya pada Annisa yang masih dalam gendongan nya. Annisa menoleh saat merasakan deru nafas Tama menyentuh wajahnya.
Cup.
Kecupan hangat ia labuhkan di bibir tipis sang istri. Annisa terkejut, dengan segera ia melepas paksa pagutan Tama.
Tama terkejut. Annisa menatap jutek padanya. ''Keluar Abang! Aku mau istirahat!'' ketusnya pada Tama.
Dengan segera ia turun paksa dari gendongan Tama. Tama tertarik ke depan karena Annisa memaksa turun.
''Hati-hati sayang! Kamu masih sakit loh..'' tegur Tama dengan lembut pada Annisa.
Annisa tidak peduli. Ia ingin tidur, kepalanya masih pusing saat ini. Dengan sedikit sempoyongan, Tama memapahnya agar berbaring di ranjang mereka.
Annisa tak menolak, saat Tama memegangi tubuhnya dengan erat. Karena ia memang belum lah sembuh.
__ADS_1
''Istiraharatlah, Abang akan masak sebentar ya? Untuk makan siang kita. Jangan pikirkan Selly. Abang bisa mengurus nya. Pejamkan matamu. Cup.'' Tama mengecup kening Annisa dengan sayang.
Setelah itu ia berlalu meninggalkan Annisa yang sudah memejamkan kedua matanya. Sedangkan di bawah sana, Selly berdiri sambil mondar-mandir di ruang tamu rumah Tama.
Melihat Selly berjalan seperti orang yang sedang khawatir, Tama menggelengkan kepalanya.
''Yang kayak istri aku aja khawatir kayak gitu. Emang dia pikir, aku suka apa sama dia? Gadis sok cantik, tapi pemaksa! Ck! Kenapa sih nasib hidupku begitu tidak menyenangkan?? Selalu saja di kelilingi oleh gadis-gadis tukang pemaksa seperti mereka. Berbeda dengan istri ku. Dia gadis kecil yang mengerti akan diriku! Hah! harus aku apakan gadis ini ya?'' gumam Tama sambil terus menuruni tangga rumahnya untuk menuju ke dapur.
Tap.
Tap.
Tap.
Mendengar suara derap kaki dari atas tangga, Selly menoleh. Terlihat Tama berjalan santai, seperti tidak terjadi apapun pada hubungan mereka.
Tiba di bawah, Selly mencagat Tama. ''Tunggu Dri!'' katanya pada Tama.
''Ada apa??'' tanya Tama dengan wajah datarnya.
Tama tak menyahuti nya. Ia berlalu meninggalkan Selly yang masih dalam keadaan khawatir dan bingung.
Melihat Tama berlalu ke dapur, Selly pun mengikutinya. ''Tunggu Dri! Jelaskan dulu padaku. Apa maksud nya dengan semua ini? Siapa gadis kecil itu? Apakah dia adikmu? Tapi.. setauku, kamu tidak punya adik perempuan bukan? Siapa dia? Jawab Dri!'' seru Selly di belakang tubuh Tama.
Tama tak peduli. Dengan segera tangan kekarnya itu menghidupkan kompor dan memanaskan sedikit air kedalam panci untuk membuatkan teh dan susu hangat untuk Annisa.
Selly masih terdiam di belakang tubuh Tama. Ingin sekali ia memeluk tubuh kekar itu. Tapi tak berani. Ia tau seperti apa Tama. Tama tidak mengizinkan siapapun menyentuh tubuhnya terkecuali karena terpaksa.
Merasakan Selly masih berdiri mematung di belakang nya, Tama berbicara. ''Duduklah dulu Selly. Aku sedang buat susu untuk Annisa. Ia sedang tidak sehat. Silahkan duduk,'' titah Tama pada Selly.
Selly mengangguk, dengan segera ia duduk di meja makan. Dengan tatapan tak putus dari gerakan Tama yang begitu lincah dalam membuat susu dan teh sekaligus.
Selly tersenyum membayangkan jika dialah kelak yang akan menjadi nyonya Adrian Pratama.
Namun, khayalan itu lenyap saat mengingat gadis yang bernama Annisa ada di rumah Tama. Dan dia juga mengakui jika ini adalah rumahnya.
Mendadak membuat wajah Selly menjadi kesal. ''Ini teh, mu. Aku ke atas sebentar!'' ucap Tama pada Selly.
__ADS_1
Melihat Tama ingin ke atas lagi, Selly menghentikan langkah Tama dengan mencekal pergelangan tangan kekar itu.
Deg!
Tama terkejut, ia menoleh pada tangan Selly yang sudah menyen tuh tangannya tanpa lapisan apapun. Tama menatapnya dengan dingin.
Selly terkejut, dengan segera ia melepaskan cekalan tangannya dari tangan kekar Tama. ''Ma-maaf Dri! A-aku hanya-,''
''Tunggu disitu! Aku ingin keatas untuk mengantar susu hangat ini. Apa kau tidak dengar?!'' ucap Tama dengan suara rendahnya namun, terkesan dingin pada Selly.
Selly menciut mendengar suara rendah Tama namun, terkesan dingin padanya. ''Ma-maaf..'' cicit nya dengan menunduk.
Tama berlalu meninggalkan Selly yang mematung lagi di samping meja makan dekat dapur.
Tama naik keatas, dengan nampan di tangan nya. Ia membuka pintu dengan pelan, agar tidak mengganggu Annisa yang sedang terlelap.
Ia mendekati ranjang dan menatap Annisa yang tertidur begitu pulas dengan hijab masih membalut mahkota nya.
Tama tersenyum, ia mendekati Annisa dan meletakkan nampan di atas meja nakas. Setelah nya ia duduk di tepi ranjang. Tepat nya di perut Annisa.
Ia mengusap lembut wajah ayu itu. Senyumnya terus saja terukir saat mengingat kejadian tadi saat melihat Selly mendatangi rumah baru mereka.
Entah dari mana Selly tau tentang rumah barunya itu. Tama pun tak tau. Nanti akan ia tanyakan pada wanita itu.
Untuk sekarang, ia ingin membujuk sang istri yang sedang merajuk padanya gegara wanita yang baru saja mereka bicarakan tadi di rumah sakit sebelum mereka pulang kerumah.
Tama terkekeh, ''Kamu sangat manis sayang kalau sedang merajuk begini sama Abang. Sedari dulu, Abang sangat suka melihatmu merajuk sepeti ini. Kamu cantik kalau sedang merajuk. Abang suka! Hemmhh.. maaf sayang.. Abang selalu membuatmu terluka Karena perlakuan Abang dan juga orang-orang dari masa lalu Abang. Tapi percaya lah. Hanya kamu seorang sayangku, yang ada di hati dan pikiran Abang. Tidak ada yang lain lagi. Sedari dulu, hingga sekarang. Rasa ini tetap sama. Abang sangat mencintai mu sayangku, Annisa. Cup,'' Tama mengungkapkan isi hatinya pada Annisa yang sedang terlelap.
Ia mengecup dahi Annisa lagi. Sudah menjadi kebiasaan nya untuk selalu mengecup kening Annisa. Semua ini terjadi, pada saat hari pernikahan mereka.
Untuk pertama kalinya ia mengecup dan menyentuh tubuh Annisa secara sah. Tidak takut akan dosa lagi.
Sejak itulah, Tama selalu saja melabuhkan kecupan sayang di dahi Annisa. Kecupan hangat menyalurkan rasa sayangnya pada Annisa.
💕💕💕💕
Like dan komen!
__ADS_1