Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Berduka


__ADS_3

Selesai di kafankan kini seluruh anak dan juga keluarga berkumpul untuk melihat ayah Emil untuk uang terakhir kalinya sebelum di sholat kan dan di kuburkan.


''Ayo, bagi yang ingin melihat nak Emil untuk yang terakhir kalinya silahkan!'' ucap Bilal yang memandikan jenazah ayah Emil.


Bunda Zizi maju, ia mencium kening jenazah ayah Emil yang sudah terbungkus kain kafan. Di susul Syakir, Arta dan Bella.


Setelahnya baru di susul dengan Kak Ira, bang Lana dan Annisa. Annisa yang paling terakhir tetapi dialah yang paling lama mencium seluruh wajah ayah Emil.


Semua yang melihat nya semakin tersedu. Mereka sangat iba melihat Annisa yang begitu terpukul. Tetapi wajah itu terlihat tegar. Sudah tidak ada lagi mengeluarkan air mata seperti tadi malam. Suara nya pun sudah habis.


Kini ia hanya bisa berbicara dengan bibir bergerak tanpa suara. Selesai dengan urusan terakhir mereka, kini jenazah ayah Emil di sholatkan diruang besarnya.


Ruang tamu yang lumayan luas bisa menampung hingga empat puluh orang lebih. Annisa terharu. Ia yang tadinya tidak lagi menangis, kini malah menangis kembali.


Tama mengelus lembut tubuh Annisa. Setelah nya mereka mulai menyolatkan ayah Emil. Baru setelahnya menuju ke tempat peristirahatan terakhir nya.


Di bagian depan ada Lana, Tama, Papi Gilang bagian tengah dan Ragata bagian kaki. Semuanya kebagian. Sedangkan Syakir dan Arta mereka berdua memegangi bunda Zizi yang juga ikut ke makam ayah Emil yang hanya berjarak lima belas meter dari rumahnya saja.


Pemakaman keluarga ayah Emil. Disana sudah ada Atok Ibra, Nenek Rima dan keluarga yang lainnya. Dan sekarang ayah Emil yang di kuburkan disana.


Lana masuk ke liang kubur dan berdiri di kepala ayah Emil. Ada Syakir dan Tama yang sudah menunggu di samping Lana.


Dengan segera Lana mengadzani jenazah ayah Emil setelah ia baringkan di liang lahat. Suara merdu Lana bergetar. Syakir pun ikut bergetar.


Sungguh, sakit karena pisau masih bisa di obati dengan obat. Tetapi sakit karena kepergian orang yang kita sayangi begitu sakit terasa. Rasanya dunia itu runtuh seketika.

__ADS_1


Seluruh keluarga besar ayah Emil sedang berduka saat ini. Mereka semua tidak menyangka jika ayah Emil pergi secepat itu. Padahal masih terlihat jelas saat makan malam kalau ayah Emil masih tersenyum dan tertawa melihat seluruh keluarga nya.


Tapi pagi ini? Seluruh keluarga begitu shock kala melihat ayah Emil yang sudah terbujur kaku di musholla rumahnya bersama Annisa.


Selesai dengan mengadzani dan menutup ayah Emil dengan papan, kini mereka bertiga mulai mengubur jenazah itu.


Bunda Zizi tak kuasa menahan rasa sakit dihati nya. Pantas saja kemarin ia ingin meminta hak nya untuk yang terakhir kalinya. Bunda Zizi mengizinkan.


Kata ayah Emil, itu haknya yang terakhir ia berikan untuk Bunda Zizi. Bunda zizi hanya tertawa saja. Tidak taunya pagi ini ia pergi untuk selama-lamanya dan tidak akan kembali lagi kedunia ini.


Bunda Zizi jatuh pingsan. Syakir dengan sigap memegangi Bunda Zizi. Dan juga bang Lana. Papi Gilang memapah Mak Alisa yang juga sama seperti Bunda zizi. Ia pun tidak menyangka tadi malam itu merupakan pertemuan terakhir mereka.


Sempat ayah Emil meminta maaf padanya atas kejadian di masa lalu yang dulu pernah melukai dan mengecewakan nya. Mak Alisa sudah maafkan sedari dulu. Dan ayah Emil tersenyum sangat manis padanya. Membuat Mak Alisa tertegun sesaat.


Ayah Emil semua berpamitan dengan keluarga nya. Termasuk Papi Gilang saat mereka baru saja datang kerumah ayah Emil sore kemarin sebelum mereka makan malam.


''Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh..'' sahut seluruh keluarga dan juga keluar yang ikut menguburkan ayah Emil.


''Terimakasih bagi seluruh warga dan tetangga yang sudah membantu keluarga kami untuk mengurus jenazah ayah kami dan juga mengubur kan beliau dengan layak. Bagi warga yang punya sangkutan dengan Almarhum, misal hutang. Boleh datang pada saya. Dan juga mana tau ada ucapan ayah saya yang menyinggung kalian semua saya mohon maaf untuk yang sebesar besarnya. Saya hanya bisa memohon agar Sudi kiranya kalian memaafkan kesalahan ayah saya ketika beliau masih hidup dulunya.''


''Kami sudah memaafkan semua kesalahannya nak Lana. Semoga almarhum di berikan tempat yang layak dan diampuni segala dosanya. Dan diberikan surga yang indah untuknya di akhirat kelak. Amiin..'' jawab salah satu tetangga Ayah Emil.


''Amiiin..'' sahut semuanya.


''Terimakasih semuanya. semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada kalian semua. Amiin.. akhiru Kalam, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.'' Ucap Lana menutup sedikit ucapan terakhir nya sebelum mereka pulang kerumah masing-masing.

__ADS_1


''Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh..'' sahut semuanya.


Mereka semua mulai bubar. Satu persatu mulai pulang kerumah masing-masing. Kini tinggal lah keluarga inti saja disana.


Lana duduk berjongkok dan mulai mendoakan ayah Emil sekali lagi. Walau tadi sudah, tetapi tetap saja ia ingin mendoakan sang ayah di makamnya.


Semuanya pun ikut mengaminkan. Setelah selesai, mereka berdiri dan mulai meninggalkan gundukan tanah bertabur bunga mawar yang dibawahnya ada ayah Emil.


Annisa berbalik sebelum ia meninggalkan pemakaman itu. Sekilas Annisa melihat ayah Emil melambaikan tangannya padanya dengan bibir terus tersenyum manis padanya.


Annisa tersedu. Tubuh itu berguncang kembali di pelukan Tama. Tama memegang erat tubuh sang istri. ''Ayah... ayah... ayah...'' lirih Annisa tanpa suara.


Tama tau itu. Ia pun ikut menangis lagi saat melihat sang pujaan hati kini begitu rapuh saat kehilangan sang ayah yang baru saja tadi malam mereka temui untuk makan malam bersama.


Annisa hampir saja ambruk jika tidak Tama memegangi nya dengan erat. Annisa sudah tidak sanggup lagi berjalan. Ia melihat bayangan putih itu semakin menghilang seiring angin yang berhembus.


Annisa memeluk erat tubuh Tama. Semua yang sudah berjalan duluan kini berhenti melihat ke belakang dimana Annisa semakin tersedu tanpa suara.


Mereka pun ikut tersedu lagi. Dengan segera Tama menggendong Annisa ala bridal style untuk dibawa pulang dan istirahat. Ia tau jika sang istri tidak tidur satu malaman.


Entah bagaimana bisa hanya Annisa yang tau kepergian ayah Emil, Tama pun tidak tau. Yang jelas semua itu seperti sudah diatur oleh yang maha kuasa untuk Annisa dan ayah Emil.


Tiba dirumah, Tama langsung membawa Annisa ke kamar. Ia menutup pintu itu dan menguncinya.


Semuanya kini sedang berduka saat ini. Tanpa terkecuali. ''Ssstt .. udah jangan nangis lagi. Nggak baik menangisi ayah, sayang. Doakan kepergian nya agar beliau di terima di sisi Allah, hem?'' ucap Tama sambil mengusap lembut tubuh Annisa.

__ADS_1


Annisa tidak menjawab. Ia semakin memeluk erat tubuh Tama saat ini. Lama kelamaan Annisa mata semakin berat dan akhirnya terpejam. Tama pun ikut terpejam kembali bersama Annisa.


Sementara diluar pun demikian. Mereka semua beristirahat diruang tamu. Papi Gilang membawa Mak Alisa menuju kamar Bella seperti kata Ira tadi. Begitu pun dengan bunda Zizi. Wanita paruh baya itu begitu terguncang karena kepergian sang suami dengan. tiba-tiba.


__ADS_2