Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Ziarah ke makam Ayah Emil


__ADS_3

Dua minggu berlalu sejak pertemuan itu. Hari ini mereka ingin mendatangi Rumah Bunda Zizi dan juga ingin ke makam Ayah Emil. Sudah lima tahun berlalu Annisa belum sekalipun berziarah ke makam sang Ayah.


"Sudah siap?" tanya Tama pada Annisa yang saat ini sedang menyusun rantang makanan hingga tiga rantang khusus masakan dirinya yang akan ia bawakan untuk ketiga adiknya itu.


"Sudah, kembar sepasang kita mana? Kok nggak ada sama Abang?" tanya Annisa pada Tama dengan segera mengangkat satu rantang sedang dua lagi Tama yang membawanya.


"Mereka sudah bersama Om dan Tante nya. Tau lah kamu si bocil kita itu? Kalau udah ketemu sama adik sepupunya pastilah tidak ingat kita lagi. Yang kayak jarang ketemu, aja. Mana rusuh nya bukan main!" keluh Tama pada Annisa


Annisa yang mendengar pun tertawa, "Seperti itulah Tia dan Sarah saat menjaga kedua anak kita saat adek kuliah dulu. Mereka pusing tujuh keliling saat melihat tingkah kedua anak kita itu. Maka dari itu, saking kesalnya mereka berdua sampai memberi gelar kedua anak kita dengan duo tuyul biang rusuh!"

__ADS_1


Tama tertawa hingga kepalanya terdongak ke atas sambil berjalan. Anisa pun ikut tertawa. Mereka berdua menuju ke mobil yang saat ini sudah ada Mita dan Anto di dalamnya.


Begitu juga dengan si kembar. Mereka sangat antusias saat Tama mengatakan akan kerumah Om syakir. Om mereka berdua.


Keduanya bersorak begitu senang. Tama pun ikut senang melihatnya.


Cukup satu jam perjalanan mereka sudah tiba di kediaman Bunda Zizi. Si kembar langsung ingin turun saat melihat Syakir dan Arta datang menyambut mereka dengan mengulurkan tangannya.


"Sudah adzan. Sebaiknyakita sholat dulu diatas kak, Bang. Baru setelahnya nanti kita ziarah ke makam Ayah, ya?" kata Syakir pada Tama dan Annisa.

__ADS_1


"Tentu, kita sholat dulu baru setelahnya Ziarah ke makam ayah," sahut Annisa mendadak sendu.


Tama mengelus lembut punggungnya. "Ayo! Kita harus segera. Setelah dari sani kita kan harus mampir lagi ke rumah Mak?"


"Ya," sahut Annisa dengan segera berlalu menuju tempat wudhu di kamar mandi bawah. Setelhnay mereka semua melakukan sholat dhuhur berjamaah bersama.


Pukul dua siang setelah tadi mereka makan siang dulu, kini mereka semua menuju ke makan Ayah Emil untuk Ziarah.


Tiab disana, mata Annisa mengabur. Buliran bening itu sudah mengumpul di kelopak matanya. Tama semakin erat memeluk dirinya.

__ADS_1


"Jangan menangis. Jika kamu merindukan Ayah, kamu berdoa di pusara nya. Ayo. Assalamu'alaika ya ahhlal kubur.." ucap Tama semabri melangkah amsuk ke dalam pemakaman sebelumnya mereka semua membuka sendalnya terlebih dahulu.


Annisa berjalan perlahhan dan duduk tepekur dihadapan makam Ayah Emil. "Ayah, sudah lama sekali ya kita tidak bersua? Terakhir satu bulan sebelum ayah pergi untuk selamanya.. Maaf Ayah.. Kakak terpaksa pergi lantaran tugas sekolah. Bukan karena menghindar. Kakak pergi untuk menuntut ilmu agar Kakak bisa layak bersanding dengan Bang Tama. Ayah tenang saja. Semua hhasalah kami sudah selesai. Kami sudah bahagia Yah.. Sangat bahagia. Semoga Allah pun memberikan tempat yang layak untuk Ayah di surga Nya, amiinn..." Batin Annisa dengan segera mengirimkan doa untuk Ayah Emil yang telah berpulang ke pangkuan Allah tepat dua hari pesta pernikahan keduanya.


__ADS_2