
''Jangan sekali-kali kalian ingin mengeruk harta ku yang makin sedikitpun pernah memberikan nya! Mak ku mengemis pada kalian semua, tapi tak ada satupun yang membantu kami hingga bang Andi hampir mati gara-gara menjual barang dagangan nya di daerah yang terkenal dengan preman jalanan nya! Apa kalian ada membantu kami saat itu?!''
Semuanya diam. Tidak ada yang menyahut. Annisa dan Tama tetap dijaga menjaga sang Bunda dan Ayah mereka yang sudah di kelilingi oleh keluarga sepupu jauh bunda Zizi.
Annisa melihat kondisi semakin tidak aman. Tiga lawan sepuluh pastilah mereka akan kalah. Annisa mencari ide. Bagaimana caranya apa yang sudah di ambil oleh keluarga bunda Zizi ini bisa kembali lagi pada nya dan juga seluruh keluarga ini akan mendapatkan hukumannya.
Annisa tersenyum begitu manis saat melihat Syakir dan Arta. Seakan paham kedua adik Abang itu mendekati Annisa dan memeluknya.
Annisa pun tidak tinggal diam. Ia kemudian membisik kan sesuatu di telinga kedua adiknya itu membuat mereka mengangguk setuju.
''Oke!'' sahut Syakir saat Annisa sudah selesai berbisik ria di telinga nya.
Syakir dan Arta segera mendekati tas Annisa dan mengambil ponsel Annisa. Begitu pun dengan Arta. Ia pun segera mengambil ponsel milik Bunda Zizi dan mendial beberapa nomor yang sudah ia gabungkan menjadi sebuah grup Video call.
Begitu pun dengan Syakir. Adik Abang itu kompak memegangi ponsel sementara Mak dan sepupunya itu masih sibuk adu mulut dan adu otot.
''Lepaskan Zi! Kamu bisa membunuhnya!''
__ADS_1
Bunda Zizi terkekeh, ''Kenapa? Kau yakin Nyonya Sasmita?! Takut jika putri perawan tua mu yang memilki lidah setajam silet ini tidak akan memilki jodoh nantinya????''
''Zi!!!''
''APA?!?!'' balas Bunda Zizi tak kalah sengit dari Mak Sasmita yang menatap garang padanya.
''Ingatkan aja dulu saat kalian mendorong Mak ku ketika ingin meminjam uang untuk makan. Apa kalian merasa kasihan pada kami saat itu?! Apa kalian merasa kasihan pada kami yang tidak makan selama hampir satu Minggu????'' lanjut bunda Zizi membuat Mak Sasmita terkekeh sinis padanya.
''Kamu lupa Zi! Kalian dulu itu susah! Tidak memiliki apapun! Kalau saya memberikan pinjaman uang kepada kalian, dengan apa kalian membayarnya?! Jangan kan untuk membayar, untuk makan pun kalian tidak bisa! Jangan salah kan saya dong, salahkan Mak kamu itu! Kenapa memilih menikah dengan pria tua penyakitan dan blangsak seperti Bapak mu itu!!''
Deg!
Deg!
''Sasmita Jaya Prayoga...'' ucap sesworanh dari sambungan ponsel yang saat ini di pegangin d atas dan syakir. Suara itu seperti auman Suara hantu di dalam sebuah film horor.
Mak Sasmita terkejut. Annisa pura-pura menatap datar padanya. Syakir dan Arta pun pura-pura sibuk dengan ponselnya yang ada ditangan mereka.
__ADS_1
Ingin sekali tertawa tapi belum saatnya. Mereka ingin tau, apalagi yang akan di ungkapkan oleh Bunda Zizi disana kepada seluruh keluarga jauh Mak Butet itu.
''Oh ya? Bapakku pria tua bangkotan ya? Lalu, bagaimana denganmu? Bukankah anda juga memilki suami tua bangkotan yang sudah seumuran dengan bapakku??? Saya heran dengan kamu Nyonya Sasmita! Jangan-jangan.. kamu menerima pernikahan itu karena suami bangkotan mu itu kaya bukan?! Jika tidak, mana mungkin kamu mau dengannya kalau bukan karena hartanya!''
''Hahaha... kamu benar sekali Zi! Aku memang menikah dengannya karena di kaya raya! Dan kamu lihat bukan sat ini keadaan ku? Kami senang bukan?!'' cibirnya pada Bunda Zizi yang dibalas dnegn kekehan sinis bunda Zizi.
Tanahnya itu masih mencekik leher sepupunya itu tapi tidak sekuat tadi lagi. Ia sengaja mengendorkan cekikan tangannya itu. Amarahnya saat ini sudah melemah seiring dengan matanya menangkap siluet senyum tipis terbit dari bibir Annisa saat menoleh pada Syakir dan Arta saat ini sedang memegang ponsel miliknya.
Bunda Zizi tersenyum dalam hati. ''Ya, anda senanh Nyonya Sasmita! Saking senangnya Anda, anda ingin mengeruk uang arisan ku yang akan jatuh dua bulan lagi sebanyak dua ratus lima puluh juta! kalian ingin mengeruk sumaiku lagi bukan? Makanan lain datang kesini?! Kenapa?! Kenapa kalian begitu tega sama kami?! Apa saja suamiku hingga kalian tega mengeruk harta orang sudah seperti kami! Sudah puluhan tahun kalian menjalani profesi ini! Bukan sekali dua kali! Sudah ratusan kali! Setiap kali kalian datang, kalian selalu meminta uang pada suamiku sepuluh juta satu orang! Saya pikir kalian semua Hanya bergurau padanya. Ternyata... kalian benar-benar memintanya! Hingga ia berhutang di bank selama lima tahun ini! Cih! Kaya! Kaya tapi mengeruk harta orang! Bisa ditaksir berpakaian banyak uang yang sudah kami habiskan untuk menyenangi kelurahan kaya sepeti kalian!''
''Memang nya berapa Bunda? Dua milyar kah? Atau satu satu milyar kah??'' pancing Annisa membuat semua orang yang ada disana ketakutan.
''Kalau satu orang sepuluh juta, dikalikan selama tiga belas tahun berarti satu orangnya sekitar seratus tiga puluh juta rupiah Nak. Dikalikan dengan mereka ini yang berjumlah Lima belas orang. Jumlahnya mencapai... 2.2 Milyar selama tiga belas tahun ini nak!''
Deg!
Deg!
__ADS_1