Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Flashback end


__ADS_3

Melihat reaksi Azura yang sudah terpengaruh dengan obat yang Tama berikan, Anto secepat kilat kembali ke ruangannya dan mengambil ponsel untuk menghubungi kedua orang tua Azura dan Tian.


Sementara Tama sudah masuk ke kamar yang ada di dekat taman. Ia harus menuntaskan hasrat itu sendiri. Karena Annisa belum datang dan juga belum mengetahui keadaannya itu.


Entah apa yang akan terjadi jika Annisa sampai tau kala ia di jebak, pastilah Annisa akan menghajar Azura sampai wanita itu mati. Tetapi tidak, wanita malang itu sedang menunggu Tama yang katanya akan datang setelah mengantar Azura ke rumahnya.


Sambil berjalan sempoyongan, Tama masuk ke kamar dan segera menghidupkan AC untuk meredakan rasa panas di tubuhnya. Tetap saja, tidak mengurangi rasa itu.


Tama mendesis, "Ssstt.. Ssayanghh.. Abang butuh kamu, dek. Cepatlah.. " lirihnya dengan mata terpejam melihat bayangan wajah cantik Annisa yang semakin membuat tubuhnya terbakar hasrat.


Belum lagi saat ini ia masih dalam pengaruh obat. Pastilah yang Tama inginkan hanyalah pelepasan yaitu bersama Annisa. Sedang yang ia mau, sedang tidak berada di tempat. Tama meneteskan air matanya menginngat Annisa. Ia begitu tersiksa saat ini.


Sementara diluar sana sudah datang kedua orangtua Azura, kedua orangtua Tian dan juga Pak penghulu yang Anto hubungi. Mereka cepat datang karena Anto mengatakan jika Tama lah yang meminta mereka datang. Untuk saksi, Anto memanggil orang showroom guna menjadi saksi pernikahan Azura dan Tian.


Dan saat tiba disana, mereka sangat shock melihat putri kedua mereka saat ini sedang bergelayut manja di leher Tian.


Anto meminta Pak pengulu untuk menikahkan Tian secepatnya agar Azura tidak bertindak diluar batas pada Tian. Kedua orang tua itu tidak bisa berkata apapun.


Mereka memang tau, jika Tian saat ini sedang menyukai seseorang yang merupakan kenalan Tama, bos di tempatnya bekerja. Yang mereka tidak duga ialah kalau Azura terlihat begitu agresif pada putra bungsu mereka.


Pak penghulu menikahkan mereka berdua dengan Tian masih menggenakan pakaian bengkel yang begitu banyak bekas oli nya.


"Ingin menikah, masa' mempelai pria nya penuh oli begitu? Ganti dulu lah bajunya. Berwudhu saja kalau tidak mandi. Cepat! Sebelum calon istrimu itu meminta lebih yang merupakan haram untuk kamu kerjakan!" kata Pak penghulu membuat Tian kebingungan.

__ADS_1


Bagaimana tidak bingung jika ia sendiri tidak membawa baju ganti ke bengkel? Karena pekerjaan nya memanglah berkutat dengan oli dan segala perlengkapan mobil?


Anto yang melihatnya pun merasa kasihan. Ia berlari masuk kekamar Tama yang saat ini sedang bergelung didalam selimut menahan rekasi obat itu. Anto kasihan melihat Tama tetapi ia tidak bisa berbuat apapun saat ini.


Ia sudah di perintah untuk menyelesaikan masalah Azura terlebih dahulu barulah Annisa yang berada di sekolahnya. Annisa 'kan tidak kemana-mana pikirnya.


Dengan cepat ia masuk kembali keruangan Tama dan memberikan kemeja batik berwarna hitam yang tadi Tama pakai saat acara perpisahan Annisa pada Tian.


Azura tidak melepaskan Tian sedikitpun. Kemana pun Tian pergi, Azura mengkutinya dengan tubuh yang semakin meliuk-liuk tidak karuan. Hingga membuat Tian menahan serta menghela nafas dengan kasar.


"Inilah buah dari kejahatan mu! Dan sekarang, kamu harus menanggungnya! Tak apa jika aku menikah denganmu. Tetapi bagaimana dengan kedua orang tuamu??" tanya Tian pada Azura yang kini sedang berjongkok di bawahnya dengan tangan meraba-raba entah kemana.


"Ssstt.. Tolong aku bang.. Aku udah nggak tahan.. Tolong.." lirihnya pada Tian yang kini sedang mengenakan pakaian batik Tama yang berwaran hitam itu.


Tiba di depan penghulu, Tian dan ayah Azura segera berjabat tangan untuk menghalalkan Azura untuk ia sentuh setelah itu.


Tian tidak memberiakan apapun selain cincin mendiang sang ibu yang selalu ia bawa dan akan ia jadikan mahar untuk istrinya kelak. Itulah yang menjadi mahar untuk Azura.


Setelah menikah secara sah dan Pak penghulu pun mendaftarkan pernikahan mereka berdua, kini Tian langsung saja membawa Azura ke kamar pribadi Tama dan Annisa untuk menuntaskan apa yang menjadi keinginan Azura. Yaitu menyentuhnya yang terjadi karena reaksi obat.


Sedangkan diluar sana, ke empat orang tua itu Anto bawa ke restoran yang ada di depan showroom untuk menjelaskan kejadian yangsebenarnya.


Saat mereka masuk ke restoran seberang jalan Annisa pun baru saja tiba dari sekolahnya dan lagsung menuju keruanganTama.

__ADS_1


Tetapi nihil. Tidak ada seorang pun disana. Karena begitu panik memikirkan Tama, ia langsung saja menuju ke ruang pribadi mereka.


Karena yang Annisa tau, jika Tama tidak berada di ruangan showroom pastilah berada di ruangan pribadinya.


Hal yang Annisa tidak duga ialah ia melihat Tian dan Azura yang sedang bercumbu dengan panasnya. Annisa semakin tergugu kala melihat baju batik milik Tama yang terletak di lantai bersama dengan tumpukan baju Azura yang sangat ia kenal.


Karena tadi di sekolah, mereka bertemu dan Azura memakai baju yang sama. Dan saat ini pun, ia melihat baju itu dan baju suaminya berada di dalam ruangan pribadi Tama tidak menjemputnya pastilah karena sedang sibuk bercumbu dan berbagi keringat dengan wanita lain yang bukan istrinya.


Annisa hancur saat itu. Ia melipir di tepi dinding dan berlari ke samping taman bunga yang ia tanam. Sampai disana, ia meraung-raung untuk meluapkan rasa sesak dihatinya karena melihat kelakuan Tama dengan Azura di dalam ruangan pribadi mereka selama sebulan ini.


Suara raungan Annisa itu sampai terdengar ke telinga Tama, sampai- sampai Tama terlonjak dari tidurnya dan terduduk.


Ia mencari sosok Annisa tetapi tidak ada. Tetapi kenapa suara nya begitu dekat dengan nya? Begitu pikir Tama saat itu. Ia kembali merebahkan diri saat menyadari jika itu hanya halusinya dan bertepatan dengan Anto membawa seorang dokter untuk menangani Tama.


Dokter itu mengatakan, "Hanya istrinya yang bisa membantunya saat ini. Panggil istrinya segera jika ingin ia kembali normal. Efek obat dosis tinggi ini akan sangat terasa hingga berhari-hari lamanya. Walau ia sudah mendapatkan apa yang ia mau, tetap saja obat itu akan bereaksi di tubuhnya secara permanen karena obat ini langsung memicu kinerja otak untuk mendapatkan apa yang ia mau. Saran saya. Panggil istrinya. Ini obat penenang jika ia kembali mersakan reaksi obat itu. Ini hanya bersifat sementara. Berikan segera saat ia sadar nanti. Hanya orang yang mampu mengendalikan situasi seperti ini. Tetapi saya salut dengan Tama."


"Ia mampu bertahan saat godaan itu datang padanya. Sungguh, saya salut padanya. Saya permisi keluar. Pesan saya, jika ia memiliki adik atau keponakan, sebaiknya tidak usah datang untuk mengunjunginya demi menjaga dirinya dari reaksi obat itu." Jelas dokter yang ternyata teman sekolah Tama itu.


Anto mengangguk patuh. Ia segera keluar untuk mengantar dokter itu da masuk keruangan Tama. Ia termenung disana seorang diri. Dan kebetulan saat itu, Mitha sang istri pun datang.


Dengan segera ia menyuruh Mitha untuk menyususl Annisa di sekolahhnya karena melihat Mitha ia baru teringat dengan kakak ipar kecilnya yang saat ini Tama butuhkan.


Flashback end.

__ADS_1


__ADS_2