Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Lepaskan aku!


__ADS_3

Tama keluar dari rumah itu dengan hati yang panas. Ia melajukan mobilnya begitu kencang.


Hampir saja terjadi kecelakaan jika ia tidak menghindar. Beruntungnya Tama, ia cepat menguasai stir kemudi. Jika tidak, pastilah saat ini ia sudah tinggal nama.


Ia mengusap wajahnya dengan kasar. ''Astaghfirullah.. ya Allah.. hampir saja!'' gumamnya pada diri sendiri.


Pikiran yang sedang kalut, hati yang sedang terluka karena perkataan Annisa tadi menjadikan Tama di kuasai oleh amarah.


''Tega kamu sayang mengatakan hal seperti itu sama Abang. Tidak ada maksud hatiku untuk menduakan mu. Abang sering bertemu dengan Selena karena dia sering datang ke bengkel sejak dulunya. Apakah kamu tidak menyukainya? Baik, Jika itu yang menjadi keinginan mu, hari ini juga Abang akan bawa Selena untuk menjelaskan hal yang sesungguhnya pada mu.'' ucap Tama pada diri sendiri.


Dengan segera ia pergi kerumah Selena. Tiga puluh menit cukup untuk sampai kerumah Selena.


Melihat mobil Tama datang, Selena begitu senang. ''Abang datang? Kan baru aja tadi kita jalan-jalan nya? Ih kok mau lagi sih? Kangen ya sama aku??'' goda Selena.


Tama Hanya diam saja. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Ada Luka di balik tatapannya itu. Selena terdiam.


''Ada apa? Ada masalah?'' tanya Selena.


''Ikut Abang.. kamu harus menjelaskan kedekatan kita selama sebulan ini kepada Annisa. Annisa salah paham padaku. Karena dia tau Jika aku sering kali jalan dengan mu. Ayo, kita kerumah Abang. Kita berdua harus jelaskan tentang hal itu kepada Mama dan Papa. Agar tidak ada kesalahpahaman lagi diantara kami berdua.''


Selena mengepalkan tangannya. ''Segitu cintakah kamu terhadap adik angkat mu itu? Sampai-sampai kamu takut Annisa salah paham padaku. Percuma saja yang aku lakukan selama sebulan ini untuk memikatnya lagi. Sial!'' gumam Selena dalam hati.


''Baiklah, Ayo.'' jawab Selena.


Tama mengangguk. Mereka berdua menaiki mobil kembali dan menuju ke kediaman Papa Fabian dan Mama Linda.


Karena disanalah Annisa berada.


Tiga puluh menit kemudian, Tama dan Linda sampai dikediaman Papa Fabian dan Mama Linda.


Ia turun dan menunggu Selena terlebih dahulu. Selena merasa takut masuk kedalam ruang besar itu.


Ia menghela nafas berulang kali untuk mengulangi rasa gugupnya. ''Ayo. Mereka ada di dalam.'' Selena mengangguk.


Tama dan Selena melangkah masuk kerumah besar tiga lantai itu. Tiba disana, Tama melihat Mama Linda sedang menuntun Annisa untuk duduk di sofa.


Sementara Mama Linda membawa Annisa ke kursi depan. Namun, belum lagi mereka bertiga duduk sudah terdengar suara derap langkah kaki masuk kerumah itu.


Terlihat Jika Tama sedang bergandengan tangan dengan Selena. Dengan Selena memegang tangan Tama dengan erat.


Lagi, jantung Annisa seperti ditusuk ribuan jarum melihat tangan Selena begitu erat di pegangi oleh Tama. Suaminya.


Buliran bening itu mengalir lagi di pipinya. Mama Linda yang melihat itu semakin geram. Wajahnya datar dan begitu seram.


Sangat marah. Lava dari gunung Merapi siap menyembur. Siap memuntahkan amarahnya hingga akan membakar Tama dan Selena.


Tanpa merasa bersalah sedikitpun Tama datang dengan santai dan tenang.


''Assalamualaikum, Mama.. Papa.. aku membawa Selena kesini untuk-,''


Plak!


Plak!


Plak!

__ADS_1


Plak!


Suara tamparan berulang kali terdengar di dalam ruangan itu. Mama Linda menatap berang pada Tama dan Selena.


Selena semakin takut. Ia semakin erat memeluk tangan Tama. Mama Linda menoleh padanya dengan wajah memerah.


Plaakk..


Plaakk.


Plaakk..


Plaakk..


''Mama...'' panggil Papa Fabian.


Tama berdiri mematung di depan Mama Linda. Selena terkejut dengan tamparan yang didapat di pipi mulusnya.


Plaakk..


''Itu untuk kau yang tidak tau diri! Sudah menikah tapi masih berhubungan dengan wanita lain! Aku menikahkan mu dengan Annisa karena aku tau, Annisa yang pantas menjadi istrimu!''


Plaakk..


''Ini untuk rasa sakit hati putriku yang telah kau lukai berulang kali karena telah menduakan nya!''


Plaakk..


''Tamparan itu untuk menyadarkan statusmu ADRIAN PRATAMA BIN FABIAN PRATAMA!! JIKA KAU SUDAH MENIKAHI ADIK ANGKATMU, ANNISA BINTI MILHAM SYAHPUTRA SEKARANG SUDAH MENJADI ISTRIMU! BUKAN WANITA LAIN!!!'' Pekik Mama Linda begitu lantang diruangan itu.


Ia menatap dengan dalam pada Tama. Sedangkan Tama menatap terkejut pada Mama Linda.


''Papa kecewa padamu Adrian! Papa pikir, kamu tidak menuruni kelakuan Papa. Tapi semua yang terjadi ini, sudah membuktikan Jika kamu memanglah putraku. Sikap burukku pun menurun padamu. Aku kecewa pada diriku sendiri!''


Deg!


''Papa...'' panggil Tama dengan wajah datar.


''Cukup sampai disini Tama! Pergi kau dari rumahku! Mulai sekarang dan seterusnya, kau bukanlah putraku lagi! Aku mencabut fasilitas yang selama ini telah ku berikan padamu! Dan akan kuserahkan pada Annisa!''


Ddddduuuaaarrrr...


''Apa?!'' pekik Selena tanpa sadar.


Mama Linda terkekeh sinis. ''Kenapa? Kamu tidak suka?''


''Ta-tante...''


''Apa?! Kamu ingin bilang apa?! Kamu ingin bilang jika itu tidak adil untuk Tama? Kenapa harus Annisa? Kenapa bukan kamu begitu?!'' ketus Mama Linda sembari terkekeh mengejek Linda.


''Ta-tapi.. I-itu...''


''Mama! Papa! Aku tak berhak dengan harta kalian! Kembalikan kepada yang berhak. Aku tidak berhak untuk harta yang bukan menjadi milikku! Bang Tama cocok dengan Selena. Yang satu cantik dan satu lagi tampan. Tapi tidak denganku! Aku hanya anak kecil biasa yang tidak memilki kualitas apapun dimatanya. Bang Tama.. aku meminta kamu untuk menjatuhkan talak padaku. Sekarang juga!''


Ddddduuuaaarrrr ..

__ADS_1


Lagi Tama tersentak dengan ucapan Annisa. Begitu juga dengan Mama Linda dan Papa Fabian.


''Apa?!'' pekik dua orang itu bersamaan.


Selena tersenyum manis melihat Annisa berwajah datar. Mama Linda menggeleng. ''Nggak! Kamu tidak boleh berpisah dengan Tama. Sampai kapanpun, Mama tidak akan merestui pernikahan mereka berdua, jika mereka berdua nekat menikah! Mama hanya menginginkan kamu menjadi menantu Mama! Bukan wanita gila harta itu!''


Deg!


Deg!


Jantung Selena seperti di tusuk sebilah pisau. Selena terkejut melihat Mama Linda mengetahui kebusukan nya.


''Sayang...''


''Berhenti memanggilku dengan kata sayang Bang Adrian Pratama!''


Deg!


Lagi, jantung Tama berdegup tak beraturan. Sakit sekali Annisa adik kesayangannya yang telah menjadi istrinya berubah dengan sekejap.


''Cukup sampai disini. Mama. Aku balik lagi ke asrama. Terimakasih karena telah menerimaku selama ini. Aku pamit. Assalamualaikum..'' ucap Annisa.


Dengan segera ia mengecup kedua tangan paruh baya itu dan pergi dari hadapan mereka berdua.


Tanpa pamit pada Tama.


Annisa berlalu pergi. Namun, belum lagi kaki Annisa melangkah jauh, suara Tama menghentikan nya.


''Berhenti Annisa binti Milham Syahputra! Abang melarang mu untuk keluar dari rumah ini walau satu langkah saja!!''


Deg!


Deg!


Annisa berhenti di tempat. ''Jangan pergi sebelum masalah ini selesai! Abang berhak atas mu! Kembali!'' tegas Tama.


Annisa mengepal kan kedua tangannya. ''Urusanku dengan Abang sudah selesai! Tinggal urusan Abang dengan calon istri Abang! Bukan aku!''


Deg!


Lagi, ucapan Annisa begitu menusuk hati Tama. ''Kembali, atau..??''


''Atau apa?? Atau ingin mengikatku dan mengurungku didalam sangkar emas ini begitu?! Sementara Abang bebas melakukan apapun yang Abang inginkan dengan Wanita itu begitu?!''


''Astaghfirullah.. dengarkan dulu sayang..'' suara Tama melemah saat melihat tubuh Annisa berguncang.


''Hiks.. cukup Bang! Cukup sampai disini! Aku tau aku masih kecil, aku tidak pantas bersanding denganmu yang sudah dewasa. Kamu cocok dengannya! Pergilah! Urus pernikahan mu dengan nya. Tapi sebelum itu, lepaskan aku dulu!'' tegas Annisa dengan suara bergetar.


Tama mengepalkan tangannya. ''Sampai kapanpun, Abang tidak akan melepaskan mu! Sampai matipun, kamu akan tetap menjadi istri Abang! Bukan yang lain Annisa!''


Deg!


Deg!


💕💕💕💕

__ADS_1


Huuufftt... panas... bantu kipasin euuuyyy!


__ADS_2