Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Jalan-jalan ke tepi pantai


__ADS_3

Keesokan harinya.


Hari ini Annisa dan Tama akan jalan-jalan keluar. Sedari kemarin mereka terus saja di dalam rumah. Annisa bosan. Ia meminta di ajak jalan-jalan ke pantai tanpa mengajak pengantin baru yang sibuk belah duren itu.


Mengingat itu Tama kepala sendiri. Tapi dasar Annisa, mana pernah membiarkan Tama marah gara-gara hal itu. Ada saja bahasan nya hingga membuat Tama tertawa terpingkal karena leluconnya tentang hal itu.


''Sudah siap??'' tanya Tama pada Annisa.


''Alhamdulillah sudah. Hanya tinggal uang saja yang belum siap!''


''Uang??''


Annisa mengangguk, ''Ya, uang! Takutnya ada yang anti kram perutnya gara-gara nggak kuat tahan ketawa lagi kayak kemarin siang sampai karam kualitas itu perut!''


Buhahahaha...


Tama tertawa lagi. Annisa terkekeh. ''Udah ih! Ayo kita ke pantai! Abang udah lama juga nggak ke pantai! Pantai mana nih? Pantai cermin? Atau Sri Mersing??'' tanya Tama sambil memutar kemudi dan keluar dari pekarangan rumah mereka.


''Hem.. Sri Mersing aja ya? Tempatnya kan bersih? loh? Kalian??'' tanya Annisa pada Mitha dan Anto yang saat ini sedang memasuki mobil milik Tama.


Mitha mencebik. ''Ingin tinggalin kami gitu?? Curang!''


Anto dan Tama terkekeh. ''Siapa yang ninggalin kamu Mitha?? Kamu itu lagi sibuk bercocok tanam! Kakak nggak mungkin ganggu! Siang malam kalian bercocok tanam! Andai rumah kami tidak kedap suara, pastilah suara indehoy kamu itu terdengar sampai ke kamar kami! Mengganggu saja!''


Mitha terdiam. Ia menjadi malu. Benar seperti kata Annisa. Suaranya kemarin itu begitu kuat. Saat Mama Karin lebih memilih pulang kerumahnya, disaat itulah Anto dan Mitha bereaksi diruang tamu.


Annisa yang kebetulan ingin mengantarkan lauk untuk mereka makan siang, malah dikejutkan dengan suara racauan Mitha yang begitu kuat.

__ADS_1


''Kenapa kamu diam?? Malu??? Untuk apa kamu malu?? Memangnya kamu punya urat malu???'' sindir Annisa pada Mitha.


Anto dan Tama terkekeh. ''Kamu diam Anto! Kalau bukan saya menghargai kamu yang sudah tua, sudah dari kemarin rumah kamu saya bakar! Seenaknya saja main kuda-kudaan di ruang tamu! Mana tirai jendela nggak di tutup lagi! ingin pamer siapa yang paling besar begitu?! Heh! Pisang Ambon kamu itu kalah sama bang Tama! Bang Tama itu pisang raja plus boma! Puas saya!'' ketus Annisa pada Anto.


Membuat penangantin batu itu kicep dari terkikik geli. Tama terkekeh-kekeh melihat wajah jutek Annisa pada kedua adiknya itu.


''Sudahlah sayang...''


''Sudah apanya?! Nggak ingat kemarin siapa yang maksa aku? Hingga hampir saja kebobolan?! Ishh.. kalau aku sudah Tamat sekolah, akan ku balas kalian berdua! Aku mengutuk kamu Mitha! Sebelum aku tamat sekolah dan sebelum aku bersatu dengan Abang mu! Jangan harap kamu bisa cepat memiliki keturunan! Aku dulu yang akan memiliki keturunan! Satu tahun kemudian baru Kamu!''


Deg!


Deg!


''Ishh.. Kakak! kok gitu amat sih doanya??'' sungut Mitha tidak terima.


''Biarin! Siapa suruh manas-manasin aku kemarin! tanggung sendiri resikonya! Jangan pernah main-main dengan ucapan Annisa!!''


''Ya jadilah!'' sahut Mitha


Sementara Annisa lebih memilih memejamkan kedua matanya tidak ingin mendengar ucapan Mitha lagi. Mitha dan Anto saling pandang.


Mereka akhirnya memilih diam. Tama tau, Annisa sedang kesal. Ia memberi kode pada Anto untuk gantian membawa mobilnya. Anto mengangguk setuju.


Mereka bertukar posisi. Annisa yang sudah terlelap tidak sadar jika dirinya diangkat ke belakang oleh Tama. Tama membaringkan kepala Annisa di pangkuan nya.


Di sepanjang perjalanan menuju pantai Sri Mersing Annisa tertidur pulas. Begitu pun dengan Tama. Tapi tidak dengan Mitha dan Anto. Mereka asik sibuk melempar canda berdua.

__ADS_1


Dua jam kemudian mereka tiba di pantai yang dituju. Deru ombak yang sahut menyahut membuat Annisa dan Tama sadar dan terbangun dari tidur mereka.


''Sudah tiba kah??'' tanya Tama pada Mitha dan Anto.


''Sudah. Baru saja. Ayo turun. Kayaknya ramai sekali pengunjung deh. Ini kan waktu liburan ? Lihatlah hampir semua pondok penuh dengan orang-orang! Ayo Bang! kamu keluar duluan! Kamu sewa satu pondok untuk kita berempat! Ayo!'' titah Mitha pada Anto.


''Iya. Jangan lupa makanan kita dibawa keluar. Abang udah lapar. Setelah ini gantian kita pula yang tidur!''


''Oke!'' jawab Mitha.


Dengan segera mereka berdua turun dan menuju sebuah pondok dimana Anto sudah duduk disana bersama seorang wanita pemilik pondok itu.


Tama dan Annisa menyusul. Annisa bukannya datang ke pondok, ia malah menuju tepi laut yang saat ini sedang memperlihatkan ombak yang bergulung-gulung hebat.


Annisa berdiri dengan mensidekap tangan di dada. Tatapannya lurus ke tengah laut dimana sang nelayan sedang mencari ikan di tengah ombak yang menggulung.


''Sayang...''


Tama datang dan memeluk Annisa dari belakang. ''Kenapa??'' tanya Tama lagi pada Annisa


Seseorang disana membidik kamera nya pada Annisa dan Tama yang sedang berpose begitu romantis.


Annisa menoleh dan tersenyum.


Cekrek!


Orang itu tersenyum. ''Pas Sekali!'' celutuknya.

__ADS_1


''Nggak ada Bang... hanya melihat kebesaran Allah SWT saja. Lihatlah nan jauh disana. Seorang nelayan sedang mencari ikan demi menghidupi keluarga nya. Ia bertaruh nyawa demi bisa menghidupi keluarga kecilnya. Nasibnya tidak seberuntung kita...'' lirih Annisa dengan dada sesak.


Tama mengeratkan pelukannya. ''Semua itu sudah menjadi goresan takdir kita sayang. Memang seperti itulah takdir mereka. Kita belum tau, seperti apa takdir kita nantinya. Selagi kita belum bersatu walau sudah menikah, ujian itu tetap belum terlihat. Tapi jika kita sudah bersatu, ujian itu pasti akan datang tanpa kita duga.''


__ADS_2