Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Hari yang kelam


__ADS_3

Sementara Annisa sudah bergerak ke bandara tanpa seizin Tama, showroom Tama saat ini sudah mulai sepi.


Saat ini sudah malam. Sudah memasuki waktu isya. Mitha melangkah masuk ke dalam showroom yang kini masih ada Tama dan Anto di dalamnya.


Mitha melangkah gontai. Sebelum pulang ia sempat sholat Maghrib dan juga sholat isya. Saat ini pikiran nya begitu kalut karena melihat Annisa tadi pulang dalam keadaan menangis tersedu.


Sempat ia melihat Annisa jatuh tersungkur di depan pintu dengan terus tersedu. Anto yang melihatnya pun jadi tidak tega.


''Sayang..'' Mitha menoleh pada sang suami.


Mitha semakin menangis. Ia segera berlari memeluk Anto yang saat ini masih terduduk di sajadahnya dengan mata sembab karena baru saja menangis. Mengingat kondisi Tama.


''Hiks.. Abang.. hiks.. dia hiks.. pergi.. hiks.. dia su hiks dah pergi... hiks..'' Isak Mitha dengan tersedu


Anto memeluk erat tubuh chubby Mitha. Ia pun ikut tersedu. ''Sabar.. ini ujian untuk Abang. Ujian kesetiaan dan ujian rumah tangga mereka agar kelak mereka lebih kuat lagi.. sudah. Jangan menangis.. hapus air matamu. Saat ini Abang membutuhkan kita. Ayo. Kita lihat dirinya saat ini. Kamu tunggu diluar saja. Bahaya. Nanti kamu dikira Annisa pula olehnya?''


Mitha mengangguk walau masih tersedu. Mereka berdua berjalan menuju ke sisi ruangan lain. Kamar dimana Annisa tadi tersedu.


Mereka berdua berjalan masih sambil berpelukan. Tiba disana, Anto masuk ke kamar yang gelap itu. Mitha berdiri di depan pintu.


Anto meraba saklar lampu.

__ADS_1


Cetak.


Lampu menyala. Terlihat Tama sedang bergelung dalam selimut tebalnya sedang gelisah lagi. Sedari tadi inilah yang terjadi.


''Sssssttt...'' desis Tama begitu lirih tapi masih terdengar oleh Mitha yang berdiri di depan pintu sana.


Anto mendekat dan duduk di sisi ranjang. Mata Tama terpejam erat dengan sekujur tubuh mengeluarkan keringat dingin. Anto tidak sanggup melihat nya.


''Abang, makan dulu ya? Baru setelahnya minum obat yang dari dokter tadi untuk meredakan rasa itu. Kakak ipar tidak ada di mana pun Abang.. maaf.. kami terlambat..'' lirih Anto tanpa suara. Bibir tampan itu bergetar


Sungguh, ia tidak sanggup melihat Tama seperti itu. Sudah berulang kali Anto memaksa nya meminum obat agar hawa di tubuhnya itu berkurang, tetap saja Tama menolaknya.


Anto tidak menyahut, tetapi beralih mengambil obat dan memberikan nya pada Tama. Entah kenapa tatapan mata itu kini sendu. Tama menelan pil pahit itu yang sangat menyiksa diri dan batinnya.


Anto memberikan air padanya. Tama meminumnya sedikit saja. Setelah nya ia kembali berbaring. Lambat laun, efek obat itu membuatnya tenang kembali dan terlelap.


Anto memilih keluar. Mitha jatuh terduduk di depan pintu. Anto merengkuhnya. ''Hiks.. Abang Tama... hiks.. Abang...'' lirihnya dengan tersedu.


Ia menangis di pelukan Anto yang kini ikut tersedu di dalam pelukan nya. Entah apa yang akan terjadi saat Tama tau kalau Annisa pergi. Entahlah. Inilah adalah hari yang kelam untuk Tama.


Hari dimana Annisa mendapati kenyataan pahit dari seseorang yang berniat buruk padanya.

__ADS_1


Sedangkan untuk Annisa, hari ini adalah hari terkelam di dalam hidupnya saat mengetahui kenyataan jika sang suami melakukan hubungan terlarang dengan guru sekolahnya sendiri.


Saat ini Annisa sedang berada di Bandara. Ia baru saja tiba setelah perjalanan yang melelahkan. Annisa meminta izin untuk masuk keruang VIP untuk bisa beristirahat.


Tetapi petugas itu bilang, Annisa tidak memiliki kartu aksesnya maka tidak bisa kecuali Annisa harus membayar nya karena ruangan itu memang khusus untuk orang-orang penting saja.


Annisa sanggup membayarnya asalkan ia di izinkan masuk keruangan itu tanpa ada yang menggangu nya sama sekali.


Satpam itu pun setuju. Walau Annisa harus membayar cukup mahal demi bisa menginap disana, Annisa tidak masalah.


Ia duduk di kamar itu dengan termenung. Sedari sore perutnya sudah terlalu lapar. Tetapi terasa kenyang saat melihat kenyataan yang begitu melukai hati dan perasaan nya.


Satpam itu tidak tega melihat Annisa. Ia berpikir, pasti Annisa ini sedang ada Masalah. Ia bisa menebak dari wajah Annisa yang begitu sembab dan juga memerah karena terus saja menangis.


Ia berinisiatif untuk membelikan makanan untuk diberikan kepada Annisa. Annisa masih terduduk diruang tunggu itu dengan tatapan kosong nya.


Separuh hatinya kini kosong. Seperti tertinggal bersama Tama. Yang saat ini mungkin sedang menikmati waktunya bersama gurunya itu.


Ini adalah scandal untuk nya dan gurunya itu. ''Kamu benar-benar bang Tama. Aku tak menyangka kamu menduakan aku sepwryi ini. Tidakkah terpikir oleh mu kalau ada aku yang masih disamping mu? Jika kamu sudah tidak menginginkan ku, seharusnya kamu ngomong Bang. Agar aku tau, kamu itu sudah tidak menginginkan ku lagi..'' lirihnya dengan dada yang sesak.


Satpam yang baru saja masuk itu pun tertegun mendengar ucapan lirih Annisa yang begitu menyayat hati.

__ADS_1


__ADS_2