
Saat ini seluruh keluarga sedang makan malam bersama setelah tadi siang mereka berbicara dan bersenda gurau bersama. Ada saja ulah Syakir dan yang lainnya hingga membuat kediaman Tama menjadi riuh karena ulah adik Annisa dan di tambah dengan kedua adik Tama yang sebaya dengan Annisa. Lebih tua Annisa setahun dari mereka berdua.
Semua keluarga malam ini akan menginap dirumah Tama dan dirumah Mitha. Karena kamar yang ada diruamh Tama udah penuh, jadi mereka akan menginap dirumah Mitha yang bersebelahan dengan Tama.
Si kembar pun begitu menikmati kebersamaannya dengan kedua keluarga besar. Walau sesekali bibir mungil itu masih juga menyebut nama Mutia dan Sarah.
Tetapi setelahnya, si kembar kembali bermain kembali dengan ceria setelah Annisa menjelaskan secaar perlaan kepada mereka berdua. Keduanya pun mengangguk patuh. Semuanya merasa gemas dengan anak Annisa dan Tama ini begitu patuh kepada Annisa.
Malam semakin larut, kini seluruh keluarga sudah tidur di kamar masing-masing. Syakir dan Arta memilih tetap dirumah Tama dan tidur diruang tivi yang sudah di bentangi ambal beludru oleh Annisa tadi.
Sedang si kembar bersama Mak Alisa satu dan satu lagi bersama Mam Linda. Mereka terpaksa tidur satu kamar karena si kembar tidak ingin pisah. Kedua Opa itu terpaksa mengalah demi kedua cucu baru mereka.
Dan disinilah keduanya berada saat ini. Duduk diranjang dengan saling beradapan dan baru saja selesai melaksanakan sholat isya dan disambung dengan sholat sunnah setelah lima tahun mereka berpisah.
Tama menatap Annisa dengan dalam, Annisa pun demikian. "Bisakah Abang menyentuhmu sebelum masalah kita selesai sayang?" tanya Tama pada Annisa dengan hati-hati.
Annisa menatap lekat pada Tama, "Kenapa Abang meminta izin untuk menyentuhku? Bukankah tubuh dan jiwaku ini milikmu?"
Deg!
deg!
Tama tertegun dengan ucapan Annisa. "Abang tidak ingin membuatmu terluka karena Abang memaksamu meminta hak Abang padamu. Bukankah kamu belum tau seperti apa yang sebenarnya terjadi di showroom lima tahun yang lalu??" jawab Tama membuat Annisa semakin menatapa mata Tama dengan dalam.
Lama ia menatap Tama yang juga kini sedang menatapnya. Setelahnya Annisa tersenyum lembut pada Tama.
"Adek percaya kok sama Abang. Tanpa Abang jelaskan pun adek sudah tau jika itu bukan Abang pelakunya!" ucap Annisa menatap lembut pada Tama. Ia memegang tangan hangat yang sedari tadi ingin sekali menyentuh pipinya.
Annisa tau itu. Ia membawa tangan itu ke pipinya dan ia kecup lembut dengan bibirnya membuat darah Tama berdesir. Tama menyentuh pipi halus yang sangat ia rindukan itu.
"Bagaimana kamu tau, jika itu bukan Abang?" tanya Tama semakin mengikis jarak diantara mereka berdua.
__ADS_1
Annisa tersenyum, ia bangkit dan duduk di pangkuan Tama. Hal yang dulu pernah ia lakukan saat mereka ingin bercinta. Inilah yang Annisa lakukan padanya.
Cup.
Cup.
Cup.
Dan Cup!
Annisa mengecup kening, kedua mata, hidung mancung Tama dan terakhir putik ranum yang dulu begitu ia rindukan saat hamil si kembar.
Bukan hanya mengecup tetapi Annisa memaguut putik ranum itu dengan lembut membuat tangan Tama kini sudah memegang pinggang serta tengkuknya untuk memperdalam pagutaan keduanya hingga rasanya ingin meminta lebih.
Dirasa kehabisan nafas, Annisa melepaskan pagutaan keduanya. Annisa menyatukan kening mereka berdua dengan nafas memburu.
"Kita selesaikan ini dulu, besok. Panggil Ustadzah Azura ke Showroom kita! Hadirkan Anto dan Mitha disana. Akan adek jelaskan kenapa adek tau jika bukan Abang pelakunya ya?"
Tidak melupakan sejengkal pun dari lekuk tubuh yang selama ini begitu ia rindukan. Bahkan sangat ia rindukan.
Annisa pun menerimanya dengan senang hati. Karena inilah yang ia rindukan. Annisa tidak munafik jika ia memanglah sangat merindukan setiap sentuhan tangan serta tubuh Tama yang begitu memabukkan.
Begitu pun dengan Tama. Ia pun tidak munafik, jika dari seminggu yang lalu ia sangat ingin menyentuh Annisa saat dirinya di Bandung.
Tetapi tidak. Ia mencoba untuk bersabar sedikit lagi. Padahal ketika di Bandung, Annisa terang terangan menggoda dirinya dengan sengaja memakai baju saringan tepung itu dan berelenggak lenggok dihadapannya.
Siapa yang tidak terpancing jika ikan di depan mata itu begitu menggiurkan? Tetapi Tama berusaha sabar. Ia ingin mendengar secara langsung dari mulut Annisa tentang masalah lima tahun yang lalu.
Tama mencoba membuka sedikit celah agar Annisa mau berbicara padanya. Tetapi istri kecilnya itu tetap keukeuh pada pendiriannya. Ia ingin berbicara tetap besok pagi.
Tama menyentuh setiap jengkal tubuh yang dulunya selalu ia sentuh setiap malam. Tak tertinggal satu pun.
__ADS_1
Melewati gunung mendaki lembah. Hingga tiba di muara surga milik Annisa. Dengan segera ia melesatkan pisang boma nya itu ke pusat tubuh sang istri hingga terdengar suara desisan rasa sakit keluar dari mulut Annisa.
Tama berhenti. Ia menatap Annisa yang kini terpejam dan sedikit meringis. "Sakit?" tanya Tama pada Annisa yang kini masih terpejam.
Annisa membuka kedua matanya dan menatap Tama dengan tersenyum, "Sedikit sih. Udah, lanjutin aja!" sahutnya sembari menggoda Tama dengan mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
Tama tertawa. Ia pun mulai mendayung dan mengayuh untuk mencapai puncak kenikmatan nirwana yang selama lima tahun ini tidak pernah ia rasakan lagi lantaran Annisa yang pergi darinya.
Pertarunagn di atas ranjag itu terus saja terjadi. Entah berapa lama mereka bertempur, waktu pun sudah menunjukkan tengah malam.
"UUhh.. Terimakasih sayang. Kamu masih sama seperti yang dulu. Tetap lincah dan nakal tentunya!"
Annisa tertawa. "Ya iyalah Abang. Lagipun menyenangkan suami itu 'kan tidak ada salahnya?"
Tama tersenyum dengan mata terpejam, "Hem, tidurlah. Abang ingin tidur dengan nyenyak setelah puas menyentuhmu," katanya pada Annisa
Annisa mencebik, "Nggak jamin aku kalau Abang akan tidur nyenyak setelah ini! Begadang iya!"
Tama tertawa. "Ya.. Jangan salahkan Abang dong? Siapa suruh apem kamu itu begitu legit dan menggigit, hem?"
Annisa melengos. Tama tertawa lagi. "Lima tahun Abang puasa. Sekali buka ya.. Seperti kita pertama kali saat merasakannya dulu. Mau lagi dan lagi. Punya mu bikin nagih! Dan membuat Abang selalu Candu! Terimakasih sayangku.." ucap Tama kini yang semakin erat memeluk tubuh polos Annisa yang sudah membuatnya ingin lagi. Padahal baru saja berhenti.
"Abang mau lagi, boleh?" tanya Tama yang kini sedang menatap Annisa yang terpejam.
"Hem? Hadeuuuhhhhh.. Capek deehh.. Baru aja kan di bilangin? Tuh! Si pisang boma udah tegak aja kayak tiang listrik! Kalau lurus mah tak apa. Ini mah dianya bengkok!''
Tama tertawa, "Bengkoknya 'kan sama kamu sayang? Bukan sama yang lain??"
Annisa berdecak, "Terserah Abang lah.. Aku mahh apaa atuuuh? Cuma bisa pasrah atuuhh.. Di kekepin kamu, suamikuuuu.." jawab Annisa sedikit mendrama dn membuat Tama semakin tertawa dan gemas kepada istri kecilnya ini.
Mereka pun kembali bertempur untuk yang kesekian kalinya setelah sekian lama berpuasa. Khususnya Tama.
__ADS_1