Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Jebol sudah tanggul Surga


__ADS_3

Tama mulai mengecup dan memaguut kembali putik ranum yang semakin membuatnya candu dengan tangan terus saja bergerak menyentuh setiap jengkal tubuh sang istri.


''Ughh..'' Annisa melenguh


Tama semakin terbakar hasrat. Hasrat yang tidak pernah ia salurkan selama enam bulan ini. Biasanya ada juga ia keluarkan di kamar mandi. Ck. Dasar Tama.


Maklumlah saja lah kalau Tama itu pria dewasa. Pria yang memang sudah membutuhkan kebutuhan biologis nya. Apalagi ia sudah menikah. Tetapi semua itu tidak bisa terjadi lantaran Annisa masihlah sekolah.


Tetapi malam ini, Tama ingin memuaskan diri Sampai sepuasnya walau tidak pernah puas sih. 🤣


Putik ranum keduanya terus berpagut dengan lembut hingga dirasa Annisa kehabisan nafas Tama melepaskannya.


Annisa terengah-engah. Tetapi tidak dengan Tama. Lelaki dewasa itu semakin gencar mengecup dan menyentuh setiap jengkal tubuh sang istri.


Ah..


Uh..


Annisa melenguh setiap saat bibir hangat itu menyentuh setiap lekuk tubuh halusnya. Hingga Tama membuka saringan tahu itu dan membuangnya asal.


Tama tersenyum puas kala melihat tubuh Annisa yang polos seperti itu. Sama seperti satu tahun yang lalu saat pertama kali ia menyentuhnya.


Annisa semakin malu kala Tama menatap tubuhnya seperti itu. Ia memalingkan wajahnya. Sedangkan Tama terkekeh, ia kembali mendekatkan wajahnya dan mulai memaguut lagi putik ranum yang selalu membuatnya candu itu.


Turun ke bawah ia buat bintang berkelipan disana yang membuat Annisa semakin panas saja. Mereka berdua mereguk manis madu pernikahan untuk pertama kali hingga tiba pada gundukan buah sintal yang selalu Tama sukai.


Ia kecup dan mainkan seluruh puncak madu yang terasa nikmat itu. Semakin lama semakin bersemangat.


Lama kelamaan ia semakin turun hingga ke perutnya. Annisa menggelinjang hebat. Tubuhnya terasa seperti di sengat listrik saat bibir hangat itu menyentuh tubuhnya.


Rasa yang belum pernah ia rasakan saat ini. Tama semakin semangat saja. Ia semakin turun dan turun. Tiba di Palung surga milik sang istri, ia lepas segitiga Bermuda itu dan membuangnya asal.


Tama kembali pada putik ranum Annisa dan kembali memaguut nya dengan tangan terus bergerak menyentuh apapun yang ia jumpai hingga membuat tubuh Annisa melengkung bak busur panah.


Ia menggelinjang hebat. Tama tersenyum puas. Annisa sudah mencapai puncaknya. Kini gilirannya. Ia membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh nya dan membuangnya asal.


Annisa masih dengan mata terpejam. Hingga Tama mendekatkan pisang boma miliknya di Palung surga milik Annisa.


Annisa tersentak kaget saat sesuatu yang lembut tapi tak bertulang itu menyentuh tanggul surgawi miliknya. Ia melihat Tama sedang melihat nya saat ini.

__ADS_1


Annisa menelan ludahnya. Belum lagi terasa sakit, karena Tama masih mengenalkan diri masing-masing. ''Sekarang giliran Abang! Kalau Abang kalah, kamu boleh meminta apapun sama Abang. Asal jangan berpisah. Itu tidak akan pernah terjadi. Tetapi jika yang lain, akan Abang penuhi. Uhh...'' desaah Tama semakin ingin menumbuk Palung surga itu.


Annisa semakin pucat bibirnya. Ia sudah siap siaga. ''Kalau sakit, awas saja Abang! Akan aku tendang itu si Jun Jun hingga tidak berdiri lagi kayak tiang listrik! '' Batin Annisa ketakutan.


''Kita mulai! Ingat? Jangan kamu tendang Abang!''


Deg, deg, deg..


Jantung Annisa berdegup kencang ia menelan salivanya. Hingga...


''Arrrrghhh... sakiiiiiittt... Abang! Awas ih! adek nggak mau! Awas Abang!'' pekik Annisa membuat Tama yang sedang menikmati membuka paling surga itu blank seketika dengan hasrat yang sedang naik-naik nya.


''Hah? Lepas?? Ini belum masuk sayang! Baru salaman doang dianya!'' jawab Tama dengan raut wajah bingung tetapi di penuhi kabut gai rah.


''Enggak! Adek nggak mau! sakit! Awas ih!'' ucapnya lagi hingga membuat Tama bertambah kebingungan.


''Nggak bisa sayang! Ini aja baru dimulai! Belum yang sesungguhnya!''


''Enggak! Adek takut sakit!'' Annisa menggeleng takut.


Tama memperhatikan raut wajah Annisa. Benar, istri kecilnya itu sedang ketakutan. Ia terkekeh, Tama kembali mendekatkan dirinya ke wajah Annisa.


Ia semakin kuat memaguut, mengecap dan menghisap seluruh madu yang ada disana hingga tanpa sadar Annisa melenguh lagi. Tama yang sadar tidak menyia-nyiakan kesempatan.


Ia langsung mendekat kan Pedang miliknya untuk membelah tanggul surga milik Annisa.


''Uummmm..ummm..'' pekik Annisa dengan suara terbungkam di putik ranum Tama.


Tama kebingungan. Ia semakin kuat memaksa masuk pedangnya itu. ''Kenapa sulit sekali? Anto bilang, sangat mudahnya. ini kok? Ishh.. uhhh.. sempit banget punya kamu sayang?? '' batin Tama terus berlomba dengan hasrat di ujung tanduk.


Annisa meronta, tapi kalah kuat dengan tenaga Tama. Tama memegangi kedua tangannya yang menggenggam sprei. Dengan pedang dibawahnya terus saja berusaha membelah Palung surga yang terkunci begitu rapat.


Satu kali, gagal!


Dua kali, gagal.


Annisa menangis. Buliran bening itu mengalir di sudut matanya. Tama tau itu. Tapi ia tidak bisa berhenti.


Lagi, ia coba lagi. Annisa terisak. Sudah empat kali ia mencobanya hingga membuat Annisa menangis.

__ADS_1


Hilang akal, Tama mengeluarkan sedikit kepala pedang itu dan juga putik ranumnya ia lepaskan. Annisa terdiam. Hingga... ia dorong paksa dan..


Bluusshh...


Dorongan terakhir, jebol seketika tanggul surga milik Annisa.


''Ahhhh....''


''Aarrgghhttt... abaaaaaaaaaangggg... sakiiiiiittt....'' pekik Annisa seperti merasakan ada sesuatu yang robek tetapi entah apa. Yang jelas sangat sakit.


Annisa menangis tersedu. Tama terpejam. Dirasa cukup, ia membuka mata dan melihat Annisa yang terus menangis saat ini.


''Maaf... pedang Abang kebesaran ya? Maaf sayang.. maaf...'' ucapnya berbisik lirih di telinga Annisa.


Ia kembali mengecup dahi Annisa hingga membuat sang istri berhenti dari raungan pilunya. Ia terdiam walau masih terisak.


Tama tidak berani bergerak. Ia takut bisa membuat Annisa terluka lagi. Annisa melepas kan tangannya yang di genggam Tama begitu erat.


''Hiks.. maaf.. adek cengeng ya? Maaf.. mari kita lanjutkan!'' katanya pada Tama.


Tama menoleh, ''Beneran??''


''Ya! Ayo kita selesaikan! Adek punya permintaan sama Abang kalau adek nggak kalah!'' ucapnya menantang Tama. Padahal mah, ia sudah tidak sanggup.


Sungguh sakit menurutnya.


Tama tersenyum, perlahan ia bergerak dengan pelan. Membuat Annisa meringis. ''Sungguh, sempit banget sayang!'' ucapnya dengan mata terpejam.


''Sempit? Tapi adek sesak Abang! Serasa penuh itu Palung ku!'' gerutu Annisa dengan sedikit menepuk lembut tubuh Tama.


Tama yang sedang terpejam dan menikmati penyatuan mereka pun terkekeh, ia kembali semangat saat sang istri sudah kembali seperti semula.


Ia menghentak tubuh itu dengan lembut hingga sang istri terbuai dengan perlakuan lembutnya. Entah kemana rasa sakit itu. Kini yang terdengar hanyalah lenguhan dan desahaan yang saling menyahut di kamar pengantin baru itu.


Tama begitu semangat menggempur Annisa hingga kalah. Kita lihat besok, siapa yang akan kalah? 🤣


💕💕💕💕


Maaf ye kalau tidak hot? othor tak pandai membuat yang hot hot pop! Makin gaya makin ngepop! Eh? 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2