Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Tahlilan


__ADS_3

Sebenarnya bab ini udah othor ketik tadi malam. Tetapi entah gimana ceritanya hilang gitu aja. Pas pula ketika bocil othor ngamuk mau bobok.


Hadeeeuuhh.. pasti beda dah sama yang tadi malam?


🏵️🏵️🏵️🏵️


Tama terkekeh saat melihat Lana berwajah masam diatas sana karena ulah sang Papi. ''Bukan disitu Abang! Disana! Kalau disitu jadi miring tendanya!'' ucap Papi Gilang pada Lana yang saat ini sedang mengikat tenda itu dengan tali yang memang sudah ada disana.


Lana mendengus. ''Papi gimana sih? Disana salah! Disitu pun bukan! Lalu Abang harus dimana?? Pegal ih Papi!'' gerutu Lana pada Papi Gilang.


Ia bersungut-sungut tidak terima dengan perkataan sang Papi. Tama terkekeh. Begitu pun dengan Ragata. ''Ya.. kan Papi ngomongnya beneran nak. Coba kalau kamu ikat di tepi sana, pastilah ujungnya tidak akan sama. Pastilah akan ketarik tendanya ke sebelah sana,'' jelas Papi Gilang membuat Lana semakin berwajah masam.


Tama terkekeh-kekeh melihat wajah masam Lana. Lelaki tampan berparas tampan mirip ayah Emil dan Mak Alisa itu terus saja menggerutu pada sang Papi.


Tama mendekati Ragata dan menepuk lembut bahu Ragata.


Puk.


Puk.


''Eh, astaghfirullah kodok lompat kodok lambe!'' seru Ragata karena terkejut.


Tama, Papi Gilang, dan Lana melongo melihat nya. ''Kodok lompat kodok lambe?? Apaan tuh?'' tanya Lana pada Ragata.


Papi Gilang terkekeh kala melihat wajah terkejut menantu sulungnya itu. ''Kamu itu Bang! Kok bisa latah kayak gitu kamu?'' tanya nya masih dengan kekehan kecil di bibirnya.


''Iya sih.. Abang kaget aja tadi. Karena melihat Lana serius banget ngikatnya tapi mulutnya itu mencebik dan menggerutu pada Papi. Abang teringat saat Ira mengomel karena Abang salah menaruh gula dalam sayurnya. Haha.. saking kesalnya Ira, ia sampai mencubit pinggang Abang. Ya.. pinggang kan area sensitif kan ya? Abang geli kalau bagian pinggang. Apalagi Ira mencubitnya disitu. Jangan salahkan Abang kalau Abang jadi latah kayak gitu!'' ceritanya membuat ketiga orang itu terkekeh-kekeh.


''Hoo .. pantas saja kamu jadi latah Bang!'' ucap Lana dari atas sana yang sudah selesai dengan mengikat tenda itu dengan benar dan tepat.


Papi Gilang pun tersenyum puas. Setelahnya mereka bertiga bersiap untuk sholat ashar yang sebentar lagi akan masuk. Tama masuk ke kamarnya dan melihat Annisa terlelap lagi disampingnya ada Syakir yang menemani.

__ADS_1


Tidak saling memeluk. Tetapi saling berhadapan satu sama lainnya. Dengan Syakir memegang tangan Annisa dengan erat. Tama tersenyum, ia berlalu keluar kembali dan menuju ke musholla bagian atas rumah ayah Emil.


Baru sehari ayah Emil pergi, rumah itu sudah terasa sunyi sekali. Tama menghela nafasnya.


Ia berwudhu terlebih dahulu sebelum adzan di musholla kecil rumah Ayah Emil.


Malam harinya.


Selepas Maghrib para tetangga sudah datang dan masuk kerumah untuk mengadakan tahlilan mengirimkan doa untuk ayah Emil selama tujuh malam.


Dan ini malam pertama ayah Emil di kuburkan. Semua tamu sudah mulai berdatangan. Acara pun segera di mulai.


Annisa sudah turun sedari selesai sholat Maghrib tadi dibantu Tama untuk ia dudukkan di dapur dimana Mak Alisa dan uwaknya berkumpul disana.


Acara tahlilan berlangsung dengan lancar. Tetapi Annisa duduk sendiri dengan melamun. Ia duduk melamun seorang diri dengan tatapan mata kosong melihat seluruh tamu yang sedang mengaminkan doa.


Sebelum adzan isya, tahlilan itu pun selesai. Lana, Ragata, Papi Gilang dan Syakir mengeluarkan seluruh makanan itu untuk mereka hidangkan di depan para tetangga yang ikut tahlilan.


Tama masuk langsung menuju ke dapur dimana Annisa berada. ''Sayang?''


Tama tersenyum, ''Enggak. Kita makan dulu ya? setelah ini kamu harus segera istirahat. Obatnya dibawa keluar nggak tadi?''


Annisa mengangguk, ''Ada. Ini!'' tunjuknya pada obat yang terletak di sudut kirinya.


''Ya sudah, kita makan. Setelah ini kita sholat isya dan kamu istirahat ya?''


Annisa mengangguk patuh. ''Besok, kamu tidak usah membantu kami dulu untuk masak makanan untuk acara tahlilan. Kamu istirahat aja. Pulihkan dulu dirimu. Suara kamu pun masih serak kayak begitu.'' Ucap Mak Alisa pada Annisa sambil menyodorkan dua piring nasi untuk Tama dan Annisa.


''Betul nak. Sebaiknya kamu istirahat saja. Uwak memang tidak ada saat ayah mu pergi. Tetapi kamu lah disana yang tau seperti apa dan bagaimana kepergian ayahmu. Satu malaman kamu tidak tidur. Dan malam ini kamu harus tidur. Istirahat kan dirimu, hem?'' timpal Uwak Rita pada Annisa


Annisa mengangguk patuh. ''Ya, kakak akan istirahat,'' sahutnya sedikit lesu.

__ADS_1


Tama mengelus lembut tubuh belakang nya. Annisa tersenyum tapi sendu. Tama hanya bisa menghela nafasnya.


Selesai makan mereka masuk ke kamar dan orang tahlilan pun sudah pulang. Annisa sholat terlebih dahulu sebelum tidur.


Butuh beberapa saat baginya untuk bisa menenangkan dirinya. Selama ini ia terlihat begitu kuat dan tegar. Tetapi ketika kenyataan dihadapkan padanya tentang kepergian ayah Emil, Annisa seperti kehilangan separuh jiwanya.


Siapa yang tidak merasa kehilangan kalau orang yang kita sayangi pergi untuk selama-lamanya.


Annisa sedang berduka bukan kecewa. Ia hanya sedang bersedih saat ini. Tetapi ada satu anugerah untuk Annisa. Di saat hatinya sedih ada Tama yang selalu berada disampingnya.


Entah apa yang terjadi jika sampai Tama Tidak ada di sisinya saat ini. Tama merupakan dirinya yang lain yang saat ini sudah menyatu dengan tubuhnya.


Tama hidupnya. Tanpa Tama mungkin Annisa akan hancur. Inilah yang Annisa rasakan saat ini.


''Abang?''


''Hem, apa? Kamu menginginkan lagi?'' tanya Tama dengan mata terpejam.


Saat ini mereka berdua sudah berbaring di ranjang mereka. Annisa menepuk ringan dadanya. Tama terkekeh. ''Kenapa? Abang salahkah?'' goda Tama lagi pada Annisa.


Annisa mencubit perut Tama. Tama tergelak tapi masih batas wajar. ''Diem ih! Abang jangan tertawa seperti itu! Nanti orang diluar pada dengar ih!'' tegur Annisa pada Tama yang saat ini sedang tertawa terbahak karena berhasil menggoda Annisa.


Annisa jadi malu sendiri. Ia menepuk-nepuk dada Tama saking kesalnya. ''Diem Abang! Atau Abang nggak adek kasih jatah selama satu bulan! Mau?''


Deg!


Tama melotot. ''Enak aja Abang di suruh puasa lagi! Nggak! Abang nggak mau! Sehari tidak menyentuh kamu saja Abang pusing! Gimana kalau sebulan? Nggak! Abang nggak mau!'' tolak Tama pada Annisa.


Annisa terkekeh, ''Makanya jangan tertawa seperti itu. Nggak enak di denger sama keluarga kita diluar. Apa kata mereka kalau kita tertawa sedang Keluarga kita sedang berduka?''


Tama berhenti tertawa. Ia tersenyum dan memeluk Annisa dengan erat. Dadanya terbuka karena Annisa tidak ingin Tama memakai baju saat tidur. Hanya kain sarung saja.

__ADS_1


''Nggak akan terdengar sayang. Kamar kita ini dilengkapi dengan peredam suara!''


''Heh?''


__ADS_2