Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Henna pilihan Tama


__ADS_3

Annisa dan Tama sedang duduk dengan saling berhadapan dengan seluruh keluarga besar Tama dan juga keluarga besarnya dari Aceh.


Mereka bergabung menjadi satu. Karena waktu sudah masuk makan siang, mereka memilih duduk lesehan di lantai yang sudah di bentangkan Ambal beludru untuk mereka semua duduk.


Dari sebelah Tama ada sekitar dua puluh orang di hitung dengan anak-anak mereka. Semuanya hadir. Mulai dari Uwak, saudara sepupu dan juga saudara kandung Papa Fabian. Sedang Mama Linda tidak memiliki saudara di Medan karena ia orang perantauan dari Jawa barat.


Semua keluarga nya berada disana. Dan untuk keluarga Annisa sendiri, berjumlah tiga puluh orang. Ada nenek Alina dan Kakek Yoga yang saat ini duduk dengan Papi Gilang, Lana , Rayyan, Tama, Algi, Syakir, ayah Emil dan Arta.


Sedangkan Annisa di kelilingi oleh tiga adiknya. Empat kakak sepupu dan juga nenek mereka dari sebelah Kakek Yoga. Mereka makan bersama sambil bercanda ria.


Ada Kak Ira yang saat ini begitu riwehnya mengurus si kembar bersama bang Raga. Pemuda tampan beda satu tahun dengan kak Ira itu pun dibuat sibuk oleh kedua anak nya kembar sepasang.


Sambil bercakap-cakap ria dan juga saling lempar ejekan mereka semua bergembira semua. Ini kali keduanya mereka menghadiri pernikahan mewah setelah dulunya Kak Ira dan Bang Raga.


''Setelah ini, kamu dan Tama istirahat dulu. Nanti malam ada acara pengajian dan juga pemakaian Henna di tangan seperti kakak mu dulu,'' ucap Mak Alisa pada Annisa.


''Iya Mak. Kakak sudah selesai, Kakak duluan ya? Abang udah nunggu tuh sama kopernya!'' Tunjuk Annisa pada Tama yang saat ini sedang menarik koper miliknya dan sedang menunggu nya di samping pintu menuju kamar mereka yang sudah di persiapkan.


''Ya, pergilah! Mak pun mau istirahat sebentar! Ayo Dek! Kamu pijat Mami sebentar!'' katanya pada Kinara.


Kinara mengangguk patuh. Semua yang ada disana bubar ke kamar masing-masing sebelum acara di mulai habis ashar untuk pengajuan dilanjut dengan mengukir Henna di tangan Annisa.


''Ayo, kita istirahat sebentar. Abang sangat lelah.. dari kemarin belum istirahat penuh. Hanya dua jam dalam setiap harinya,'' ucap Tama pada Annisa sambil berjalan


''Kok bisa gitu?? Abang ngapain aja sampai istirahat pun cuma dua aja dalam sehari??'' tanya Annisa sambil berjalan bergandengan dengan Tama.

__ADS_1


Tama terkekeh, dibelakang mereka ada sepupu Tama yang sedikit tidak menyukai Annisa karena menurutnya Annisa terlalu kecil untuk menjadi kakak sepupunya yang sudah dewasa bedasedikit dari umur nya saat ini.


''Abang sibuk mempersiapkan semuanya. Agar ketika keluarga kita datang, mereka tinggal duduk manis saja.''


''Huu.. so sweet.. makin cinta deh sama Abang!'' Tama tertawa.


''Abang juga mencintaimu sayangku! Kamu harus bersiap menjadi istri Abang seutuhnya, hem?''


Annisa mencebik. ''Bukan Nnya Abang sudah sering ya melakukan nya saat kita liburan enam bulan yang lalu??''


Deg!


Seseorang yang berjalan di belakang mereka mengepalkan kedua tangannya. ''Dasar gadis gatel!'' gumamnya


Ia terus berjalan mengikuti pengantin usang rasa baru itu. Tiba di depan pintu kamar mereka langsung saja masuk dan menguncinya.


Sore harinya, ruangan ballroom hotel Pratama di penuhi dengan orang-orang berbaju putih yang sedang melakukan pengajian. Annisa dan Tama pun hadir disana berserta seluruh keluarga mereka.


Acara itu terus berlanjut hingga malam tiba. Selepas Maghrib, acara mengukir Henna pun dimulai. Di temani Kak Ira dan Kinara, Annisa duduk di kelilingi para wanita sebaya dan juga seluruh sepupunya.


''Ayo Dek, pilih model Henna nya yang akayk apa?'' kata salah satu pengukir Henna yang dulu pernah mengukir Henna di tangan Annisa saat mereka menikah.


Annisa menatap semua model ukiran Henna yang begitu banyak. Ia bingung ingin memilih yang mana. Tama dari kejauhan melihat raut wajah bingung Annisa.


Ia pun mendekati sang istri dan duduk di sebelahnya berdampingan dengan Kak Ira. Wanita berniqob itu mencebik melihat Tama duduk di sebelah Annisa.

__ADS_1


''Ngapain Abang kesini?'' ketus kak Ira tudka suka.


Tama terkekeh, ''Abang cuma mau nemanin Annisa untuk memilih model Henna ini. Iyakan sayang?'' Annisa hara tersenyum saja, wajah ayu itu kebingungan memilih model Henna yang akan di ukir di tangannya.


''Dulu, ketika kita menikah dulu kamu menggunakan Henna yang ini.'' Tunjuk Tama pada Henna yang pernah terukir di tangan Annisa. ''Srjsli seumur hidup, Abang ingin melihat kamu memakai Henna yang lebih cantik dari itu. Emm... bagaimana dengan yang ini?'' tunjuk Tama pada Annisa.


Annisa tertegun. ''Ini.. seperti Henna yang pernah Mak psjdj saat menikah dulu kan ya?'' celutuk kak Ira membuat Annisa pun ikut terkejut. ''Iyakah??'' tanya Annisa.


Kak Ira mengangguk, ''Iya benar. Kakak belum lupa lagi. Kamu masih kecil saat Mak kita menikah dengan Papi dulu. Tapi kakak masih ingat kok. Yang ini karena bang. Cantik banget loh ukiran nya?'' katanya pada Tama.


Tama tersenyum, ''Ya, Ira benar. Abang suka yang ini. Pilihan Papi Gilang dulu memang yang terbaik. Ini saja Kak?''


''Baiklah, ayo Dek. Sini kan tanganmu.''


''Iya kak.'' Jawab Annisa


Seseorang pengukir Henna itu langsung mengukir Henna di tangan dan kaki Annisa. Cukup Lama Annisa menunggu. Tama masih setia menunggu nya.


Untuk membunuh rasa bosannya, ia memanggil Algi, Syakir dan Arta. Tama mengajak ketiga adik ipar lelakinya itu untuk bermain permainan Ludo king di ponsel Tama.


Mereka tertawa bersama saat Arta selalu saja kalah. ''Sudah selesai. Lihat lah Bang!''


Tama yang sedang bermain pun menoleh, ia tersenyum saat melihat ukuran tangan Annisa begitu cantik tapi masih dengan Henna basah. Tetapi kalau sudah kering, pastilah sangat cantik.


__ADS_1


Model Henna yang ada di tangan Mak Alisa saat menikah bersama Papi Gilang dulu. Ini juga yang di pilih oleh Ira dan Tama.


__ADS_2