
''Abang??''
''Hem? Kenapa? Mau kembang gula lagi?'' tanya Tama sembari mengurai pelukannya dari tubuh Annisa.
Ia sedikit menunduk melihat Annisa. Annisa tersenyum, ''Terimakasih, terima kasih karena Abang membawa adek jalan-jalan hari ini. Hari ini hari terakhir untuk kita bertemu dan berdua seperti ini. Kita akan terpisah selama enam bulan.. maaf. Kalau selama ini adek banyak membuat masalah untuk Abang selama tinggal dirumah kita. Maaf atas kecerobohan ku ini..'' lirih Annisa mendadak mellow.
Tama tersenyum, Cup. ''Nggak.. kamu nggak gitu kok. Malah Abang senang kalau kamu seperti itu. Selama ini hidup Abang itu selalu sepi. Tidak ada hiburan sama sekali. Abang hanya bisa menggaji dan sholat malam untuk menenangkan hati ini yang sering rindu terhadap mu. Kecerobohan itu hal biasa. Tapi tidak boleh diulang lagi. Itu bisa membahayakan dirimu suatu saat nanti. Mulai dari sekarang, kamu harus lebih berhati-hati dan tidak ceroboh lagi. Semua itu harus kamu lakukan demi dirimu sendiri agar tidak terjadi apa-apa nantinya. Abang jauh darimu. Jadi tidak bisa melindungi mu..'' jawab Tama semakin mengeratkan pelukannya di tubuh chubby Annisa yang akan ia rindukan beberapa bulan kedepan.
Annisa terisak, ''Sudah.. jangan menangis. Annisa yang Abang kenal yang selalu membuat Abang ceria tidak pernah cengeng seperti ini. Ayo, kita harus makan siang dulu sebelum kita sholat dhuhur. Selesai sholat Abang harus segera mengantarkan mu. Jarak taman kota dan sekolahmu itu lumayan jauh. Bisa jadi dua jam lebih kalau tidak macet. Ayo, Abang juga akan sangat merindukan mu sayang. Bersabarlah. Kita pasti akan bertemu kembali disaat yang sudah di tentukan. Ayo, kita makan dulu.'' Annisa mengangguk.
Namun, pelukan itu tidak pernah lepas dari belitan tangan halus Annisa. Tama terkekeh kala mendengar Annisa semakin tersedu. ''Sudah.. ayo. Kita harus makan siang sayang. Apa kamu kenyang dengan memeluk Abang saja?'' goda Tama pada Annisa hingga di hadiahi cubitan tuan krab di perut kotak-kotak Tama yang sangat rajin berolahraga.
Tama tergelak keras saat melihat wajah Annisa merengut dan kesal kepada nya. Memang itulah yang ia inginkan. Setiap kali melihat Annisa jutek seperti itu, ia merasa muda kembali. Merasa seperti anak muda yang sedang di mabuk cinta dan sedang asyik-asyiknya memadu kasih bersama.
Tama terkekeh lagi. Annisa bangkit dan berlalu pergi meninggalkan nya. Tama mengikutinya dari belakang. Ia merangkul pinggang Annisa seperti dirumah tadi. Annisa tidak menolak. Ia pun melakukan hal yang sama.
Mereka berdua berjalan saling merangkul yang membuat seseorang di belakang mereka mendadak kepala dan wajah nya mengeluarkan asap seketika.
__ADS_1
''Awas kau Annisa! Aku akan merebut Adrian darimu. Aku pikir gadis yang kemarin itu adalah istri kamu. Ternyata bukan! Cih! Sok suci dan sok kecantikan?! Siapa kamu hingga Adrian sangat menyayangi mu melebihi adik kandungnya sendiri?? Tunggu pembalasan ku Annisa! Lihat saja! Enam bulan dari sekarang!'' ucapnya begitu geram melihat tingkah pasangan beda usia itu.
Ia berjalan tergesa menuju motornya. Niat hati ingin melihat taman dan melepaskan penat. Tidak disangka olehnya, ia harus bertemu dengan Annisa dan Tama yang membuat kepala dan wajahnya terbakar seketika.
Sedangkan duo sejoli itu tidak disadari jika mereka saat ini dalam pantauan dan tatapan seseorang yang akan berusaha memisahkan mereka berdua.
Mereka berdua menuju ke warung makan yang ada di seberang taman sebelum sholat dhuhur karena jam masih tetap tengah hari.
Tama dan Annisa makan sambil bercanda berada saling menyuapi untuk yang terakhir kali sebelum pertemuan mereka nanti enam bulan kemudian.
Selesai makan adzan pun berkumandang. Mereka berdua menuju mesjid terdekat dnehn mobil mereka. Tama turun lebih dulu baru Annisa.
Begitu pun dengan Tama. Ia yang lebih lama berdua dibanding kan Annisa. Tama sempat tersedu mengenang Annisa yang akan pergi dan berpisah darinya setelah tamat sekolah nanti. Cukup lama Annisa menunggu.
Tama keluar setelah mencuci mukanya di tempat wudhu karena tidak ingin tau kalau dirinya sedang bersedih karena sang istri kecilnya.
''Sayang??''
__ADS_1
''Hah? Iya Bang! Udah?'' sahut Annisa terkejut karena dirinya sedang menatap lurus ke depan dengan air mata menetes di pipinya.
Tama memaksakan senyum. Begitu pun Annisa. Dua hati yang saling terikat namun, harus terpisah lagi karena keadaan. ''Sudah. Ayo, jam satu lebih tiga puluh menit. Abang antar kamu sampai ke pesantren, baru setelahnya Abang pulang,''
Annisa mengangguk dan tersenyum pasrah terbalut sendu di kedua matanya. Tama mendekati Annisa dan merangkul kembali pinggang ramping itu. Annisa yang hanya sebatas bahu Tama membuat Tama harus sedikit membungkukkan badannya saat ingin mengecup kening Annisa untuk yang terakhir kalinya di hadapan mesjid tempat dimana mereka beribadah.
Tiba di mobil, Tama membuka pintu dan Annisa masuk kedalam nya. Tama berjalan lesu ke balik kemudi dan mulai melajukan mobilnya menuju tempat dimana Annisa harus kembali seperti biasanya.
Dalam perjalanan hanya keheningan yang menemani mereka berdua. Tiada yang berbicara. Tama dan Annisa memilih diam untuk meredakan rasa sesak di hati kedua nya karena harus berpisah kembali. Annisa harus balik ke pesantren seperti biasanya untuk menuntut ilmu kembali.
💕💕💕💕
Baiklah... othor pun lesu nih.. 😞
Sambilan nunggu cerita ini update, mampir dulu yuk di karya temen othor yang satu ini.
__ADS_1
Noh, buruan mampir!
Like dan komen selalu othor tunggu. 😢