Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Pulang kerumah masing-masing


__ADS_3

''Nggak akan kedengaran sayang.. kamar kita ini dilengkapi oleh peredam suara!''


Annisa terkejut, ia yang sedang memeluk Tama pun terduduk. ''Heh? Peredam suara? Darimana Abang tau?'' tanya Annisa penasaran


Tama tersenyum, ia menyentuh pipi halus Annisa. ''Ayah yang mengatakan nya sebelum kita semua melihat ayah pergi untuk selamanya.. ayah bilang, ada empat kamar ini yang menggunakan peredam suara. Salah satunya kamar kita. Kedua kamar ayah dan Bunda, ketiga kak Ira. Dan ke empat kamar Syakir. Kamar yang nantinya akan ditempati oleh Lana ketika berkunjung dan membawa istrinya kesini. Dan kamar itu juga yang akan menjadi kamar Syakir dan istrinya nanti. Begitu kata ayah.''


''Hoo.. begitu ya.'' lirihnya dengan sendu. Tama menarik Annisa dan memeluknya dengan erat.


''Sudah, istirahat lah. Besok Abang harus kembali ke bengkel sebentar. Tadi Anto menghubungi Abang. Katanya Abang kedatangan tamu.'' Ucap Tama membuat Annisa mengangguk patuh.


Sedang Tama menerawang jauh ke depan. Dimana ia teringat dengan perkataan Anto tadi melalui sambungan telepon. Ada ustadzah Azura datang kesana dan ingin menemuinya. Penting begitu kata Anto.


Anto menyuruh gadis itu pulang tetapi Azura Keukeh. Hingga Tian yang membawa gadis itu pulang barulah ia mau pulang. Tama menghela nafasnya mengingat Azura ini.


Sungguh, ia gadis yang begitu keras kepala dan nekad. Entah apa yang akan terjadi bila suatu saat ia membuat masalah tetapi Tama dan Annisa yang menanggung nya, pastilah Tama yang paling bersalah disini.


Karena dirinya lah Azura hadir di kehidupan mereka berdua saat ini. ''Jangan sampai itu terjadi. Jika sampai itu terjadi.. maka aku akan membunuh diriku sendiri! Aku tidak ingin Annisa ku terluka oleh gadis itu. Ya Allah.. lindungi diriku dan keluarga ku dari wanita iblis berparas cantik sepertinya..'' batin Tama bergejolak antara takut dan was was memikirkan Azura.


Wanita dari masa lalunya dulu kini kembali dimasa depan nya. Tama mencoba memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya yang tiba-tiba muncul karena ulah wanita masa lalunya itu.


Selama beberapa hari ini mereka akan menginap disana.


*


*


*

__ADS_1


Satu Minggu kemudian.


Hari ini adalah hari dimana batu nisan ayah Emil akan dipasangkan. Syakir dan Arta sudah terlebih dahulu kesana bersama Papi Gilang dan Mak Alisa.


Annisa menggendong satu buah batu Nisan yang bertuliskan nama Ayah Emil disana. Sedangkan yang satu lagi Lana yang menggendong nya.


Walau berat, Annisa tetap bertahan. Ia menaiki sebuah becak untuk menuju tempat pemakaman keluarga ayah Emil.


Cukup dua menit saja mereka sudah tiba di pemakaman keluarga. Annisa dan Lana pun turun.


Mereka berdua pun turun dengan segera. Dibantu Papi Gilang dan Syakir mereka berdua turun.


Baru setelahnya batu nisan itu dipasangkan oleh Uwak Daman. Kemudian mereka semua yang ikut ke pemakaman baru lah mulai berdoa di pimpin oleh Uwak Daman selaku yang tua disana.


Selesai dengan pemasangan batu nisan, kini mereka kembali kerumah Ayah Emil untuk berpamitan.


''Huaaaaa.. nggak mau di tinggal kakak! Adek ikut! Adek ikut! Kak Nara! Kak Annisa! Jangan pergi! Hiks.. kakak nggak boleh pergi ninggalin adek gitu aja! Adek nggak punya teman selain kakak berdua. Huaaaa...'' Raung Bella begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


Annisa mendekati Bella. ''Sayang, dengar Kakak!''


Bella berhenti meraung di lantai karena tidak terima akan ditinggal oleh mereka berdua. Kinara tidak sanggup melihat nya. Ia lebih dulu masuk ke mobil dan terisak disana.


Selama seminggu ini mereka tidur, mandi dan makan bersama. Kinara dan Bella. Annisa yang jadi penjaganya. Annisa pun ikut menangis.


''Dengarkan kakak sayang!'' ia memeluk erat tubuh Bella yang masih tergolek dilantai.


''Kakak bukan pergi meninggalkan adek. Tetapi kakak harus pulang kerumah Kakak sendiri. Rumah bang Tama. Kakak harus pulang karena sebentar lagi sekolah kakak akan mengadakan perpisahan sekolah. Kakak harus pulang tetapi bukan berarti meninggalkan mu. Kamu kan punya ponsel? Hubungi kakak kapan pun kamu mau. Maka kakak akan menjawabnya!''

__ADS_1


Bella berhenti menangis. ''Beneran Kak? hiks.. hiks..'' Isak Bella sembari bangkit dan duduk.


Ia menatap Annisa dengan wajah sembab nya. Karena sudah satu jam ia menangis tidak mengijinkan Annisa untuk pulang.


Annisa tersenyum walau sendu. ''Iya sayangnya kakak. Kapan pun adek boleh menghubungi kakak. Tengah malam sekalipun! Tapi.. kalau kakak nggak sadar dan nggak jawab telepon kamu, ya.. kamu jangan marah dong? Siapa suruh kamu nelpon kakak tengah malam?'' goda Annisa pada Bella.


Bella mencebik. ''Hiks.. adek nggak akan hubungi kakak tengah malam kok. Adek akan hubungi kakak waktu pagi, siang dan malam saja sebelum tidur, boleh kan ya? hiks..'' tanya Bella pada Annisa.


Annisa terkekeh, ''Tentu sayang. Selagi kakak belum kuliah di Bandung kamu masih bisa kok datang kerumah bang Tama. Kakak selalu disana. Ajak bang Syakir dan Arta jika kamu ingin kesana. Dan bila mereka nggak ada waktu, hubungi Abang. Bang Tama bersedia kok menyusul kalian bertiga. Ya?''


Bella tersenyum dan mengangguk. ''Iya. Adek nggak akan nangis lagi. Tapi Kakak janji! Kakak jangan melupakan kami. Walau ayah sudah tiada..'' lirih Bella dengan menunduk.


Tama menoleh pada Ira dan Lana. Keduanya datang dan mendekat pada Bella. Mereka bertiga memeluk Bella dengan erat.


''Kami bertiga tidak akan pernah melupakan kamu. Kamu, Syakir dan Arta adik kami bertiga. Kalian terlahir dari ayah yang sama hanya saja berbeda ibu. Kami menyayangi kalian bertiga, paham?'' ucap Annisa, Ira dan Lana secara bersamaan.


Bunda Zizi tertegun. Sempat ia berpikir jika ketiga anak ayah Emil pasti tidak ingin melihat lagi ketiga anaknya. Karena ia tau, Annisa selalu mendapat kan ejekan dari keluarga besarnya.


Syakir dan Arta mendekat. ''Tentu, kami bertiga pun menyayangi Kakak dan Abang. Selamanya kalian bertiga tetap saudara kami. Walau kalian melupakan kami, tapi kami tidak akan pernah melupakan kalian!''


''Tidak akan pernah! Sekalipun dunia ini hancur atau apapun itu, Kakak tidak akan pernah melupakan kalian bertiga! Jikalau kalian butuh sesuatu, jangan sungkan untuk hubungi Kakak dan bang Tama! Kami berdua yang akan memenuhi kebutuhan kalian bertiga. Kakak sudah memegang janji pada yah, sampai matipun kalian tetap adik kakak! Kalian tenang saja! Kakak tidak akan melupakan itu!'' tegas Annisa dengan suara lembutnya.


Lana dan Ira tertegun mendengarnya. Mereka juga ingin berbicara tadi. Tetapi tidak jadi karena mendengar ucapan Annisa yang begitu dalam.


Seakan Annisa lah disana yang akan bertanggung jawab kepada ketiga adik kandung beda ibu dengannya itu.


Kalau ada typo, nanti othor revisi lagi. 😪

__ADS_1


__ADS_2