
Sedari tadi Annisa terus gelisah. Ia memilih ujung bajunya yang sudah kecelakaan sedari tadi ia genggam.
Tama hanya bisa menghela nafasnya. Ia pun sama seperti Annisa saat ini. Ia pun merasakan akan ada fiarsat buruk yang terjadi kepada keluarganya kali ini.
Fiarsat buruk yang merupakan ketetapan Nya yang tidak bisa di ganggu gugat lagi. Ia pun tau, ucapan ayah Emil kemarin saat di resepsi itu merupakan ucapan yang benar-benar keluar dari dalam hatinya.
Dirumah Ayah Emil.
Saat ini Ira dan Ragata sedang menangis tersedu mengetahui jika umuar sang Ayah tidaklah lama lagi. Ragata yang merupakan seorang dokter pun pasrah.
Ayah ok ingin pergi setelah Annisa dan Lana tiba dirumah mereka. Disana sudah ada Mak Alisa dan Papi Gilang.
''Gilang? Annisa mana? Kok belum datang?'' tanya dengan wajah yang sedikit pucat.
Papi Gilang yang memang duduk di sebelahnya pun menghela nafasnya. ''Sabar Bang. Adek lagi di jalan. Kita tunggu aja ya?''
''Lana mana? Apakah Lana masih marah padaku Lis karena kejadian delapan belas tahun silam?''
Deg!
Deg!
__ADS_1
Sesak dada Mak Alisa dan Ira yang mendengarnya. Mak Alisa memaksakan senyum. ''Enggak.. Abang nggak dendam kok sama Kamu. Kita tunggu aja ya? Palingan sehabis Maghrib Adek baru datang. Kamu istirahat aja dulu.'' Katnay pada Ayah Emil.
Lelaki paruh baya yang lebih tau dari Mak Alisa lima tahun itu pun menunduk. Tubuhnya bergetar. Ira semakin menangis. Ia memeluk tubuh ayahnya itu.
Niqob dan hijab biru muda yang ia kenakan kini sudah basah karena air mata. Ragata melepas niqob itu dan terlihat lah wajah ayu Ira yang terus mengeluarkan air mata karena menangisi Ayah Emil.
Ke empat anaknya sedang dibawa bermain oleh Bunda Zizi, Bella dan Arta. Sedang Syakir menunggu Annisa dan Tama di pinggir jalan raya sama.
Ia pun merasakan firasat buruk. ''Ya Allah.. kakak sama Abang mana sih? Udah hampir Maghrib gini belum juga tiba? Mana ayah terus memanggil nama Kakak lagi!'' gerutunya pada diri sendiri.
Ia menundukkan wajahnya ke stang kemudi sepedanya. Ia berzikir untuk menenangkan hatinya.
Dari kejauhan Annisa bisa mengenali kalau itu adalah Syakir. ''Klakson Bang!'' Tama mengangguk.
''Astaghfirullah kodok terbang jatuh ke sawah!'' ucap syjait tersentak kaget. Reflek saja ia berbicara seperti itu.
Padahal hati dan lidahnya sedang berzikir tetapi pikiran nya sedang mrllang bauna entah kemana.
Annisa terkekeh begitu pun dengan Tama. ''Ishh . udah di klakson napa?! Udah Maghrib gini lagi! Nggak lucu ah!'' sungut Syakir sedikit kesal.
Annisa tertawa walau hati sedang gundah. Ia tetap bisa tertawa karena ulah Syakir. Ia turun dari mobil dan menghentikan Syakir dengan cara memegangi sepedanya.
__ADS_1
''Astaghfirullah! Ini kenapa sepedanya nggak bisa di kayuh?! Maaaaakkk... astaghfirullah! Ini kenapa?!'' pekiknya begitu ketakutan
Annisa tertawa. Ia merangkul bahu Syakir membuat pemuda tanggung itu terjingkat kaget hingga jatuh tersungkur ke tanah.
Annisa yang melihatnya melongo. Sedangkan Tama tertawa terbahak. Sementara seseorang di belakang mereka pun ikut terkekeh.
''Dasar! Jail banget kamu Dek!'' ucapnya di balik helm fullface nya. Ia melewati Tama yang sedang tertawa.
''Bang!''
''Astaghfirullah!'' Tama terkejut bukan main saat melihat helm fullface Lana sudah nangkring di kaca jendela mobilnya yang terbaik karena Annisa membuatnya tadi.
Lana tertawa. ''Hahaha.. makanya kalau lagi Maghrib janah tertawa sendiri ih! Ayo! Udah Maghrib noh! Udah adzan pula! Adek!'' panggil Lana pada Annisa.
Annisa yang sedang tertawa terbahak melihat Syakir kesakitan pun menoleh. ''Abang?? Naik motor?''
Syakir datang dengan terpincang-pincang. Tanah permisi ia langsung nangkring jog motor Lana bagian belakang.
Lana dan Annisa melongo. Sedang Tama tertawa lagi. ''Udah ih! Kenapa sih Kakak sama liatin adek begitu?!'' kesal Syakir dengan wajah cemberut.
Annisa tertawa. Begitupun dengan Lana. ''Oke, oke. Kamu sama Abang. Kakak bawa pulang sepeda kamu!'' ucapnya sambil mengangkat gamisnya hingga terlihat celana bahan panjang berwarna hitam menutupi kaki jenjangnya.
__ADS_1
Annisa mengayuh sepeda itu duluan dengan sedikit kencang karena sudah mendengar suara alunan merdu dimana-mana. Pertanda sudah masuk waktu Maghrib.