
Pagi harinya saat semua orang sibuk sibuk dengan aktivitas mereka, pasangan pengantin baru beda usia itu masih terlelap di dalam tidurnya.
Rasa nyaman dan hangat itu menulusup hingga ke dalam hati. Tama dan Annisa mendengar suara merdu yang mengalun indah di seluruh alam, tapi malas untuk bangun.
Terlebih Tama. Pelukan yang dulunya pernah ia rasakan saat Annisa masih berumur tiga tahun kini ia rasakan lagi.
Annisa menggeliat kan tubuhnya karena terasa engap. Namun, Tama tidak membiarkan Annisa untuk lepas dari pelukan nya.
''Sempit Abang!'' seru Annisa dengan suara serak khas bangun tidur.
''Hemmm.. jangan di lepas sayang. Abang masih ngantuk!'' sahut Tama masih dengan mata terpejam.
Ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Annisa. Kedua kakinya membelit tubuh Annisa begitu erat .
Hingga membuat Annisa semakin engap. ''Abangggg.. engap ih! Nggak bisa nafas adek, Bang! Ishhh...''
Klep, klep.
Mata Tama terbuka. Pertama kali yang ia lihat adalah Annisa. Adik kecilnya. Sekaligus istri kecilnya.
Tama menatap Annisa yang sedang berusaha melepaskan belitan tangannya di perut Annisa dengan sebelah tangan yang tidak tertancap jarum infus.
Mata itu tak berkedip melihat nya. ''Cantik!'' celutuk nya tanpa sadar.
''Hah? Apa? Siapa? Ishhh.. lepasin dulu napa sih?! Sesak abaaaangg...'' rengek Annisa lagi.
Tama terkekeh, Cup.
Tama mengecup bibirnya sekilas.
Deg, deg, deg..
Akibat aksi spontan dari Tama membuat tubuh Annisa membeku. Ia tidak bisa bergerak lagi seperti tadi.
Lagi, Tama terkekeh. Ia mengecup lagi putik merah jambu yang sudah membuat nya candu saat pertama kali mengecupnya.
Tama mengecap, melumaat dan memagut bibir ranum Annisa yang selalu menggoda nya saat ia berbicara.
Tubuh Annisa semakin membeku. Ia mati rasa saat merasakan sesuatu yang lembut dan kenyal menyesap bibirnya.
Pandangan matanya tertuju pada Tama yang sudah memejamkan mata. Annisa terpana dengan itu.
Tanpa sadar mulut itu terbuka, Tama tersenyum. Dengan senang hati ia membelit dan mengecap setiap inci putik merah jambu milik sang istri.
Annisa terbuai. Lama kelamaan hanyut dalam buaian lembut sang pujaan hati. Ingin lepas tapi tak rela.
__ADS_1
Takutnya ada yang tau. Malu. Pikir Annisa. Otak dan hati tidak sejalan. Ingin menolak, tapi mau.
Tidak mau, tapi butuh. Bagaimana itu?
Pasrah!
Cuma satu kata itu yang terpikir kan olehnya. Ingin memberontak pun tidak bisa. Karena ia sadar, jika dirinya sudah seutuhnya menjadi milik Tama. Sang pujaan hati.
Dirasa Annisa hampir kehabisan nafas, Tama melepaskan pagutan nya. Ia menatap Annisa yang masih memejamkan kedua matanya.
Ada rasa aneh yang menjalar ke seluruh tubuh mereka, Tama berusaha menahan reaksi sesuatu yang terbungkus rapi itu.
Namun tidak bisa. Sesuatu itu berdiri tegak di bawah sana. Membuat Tama menghela nafasnya.
Sungguh, inilah yang terjadi setiap kali ia dekat dengan Annisa. Ia menatap wajah sang pujaan hati yang begitu cantik saat bangun tidur.
Alis mata yang hitam dan tebal. Pipi chubby dan mulus. Bibir tipis dan hidungnya mancung. Dan satu lagi, senyumnya selalu memikat hati.
Membuat Tama semakin terpesona dengan istri kecilnya ini. Tanpa sadar, Tama mendekat kan lagi wajahnya pada Annisa.
Hembusan nafas itu menerpa wajah Annisa yang masih terpejam. Ia tidak berani menatap Tama, takut jika semburat merah itu menyembul di pipinya.
''Jauh-jauh Abang! Ishh... nggak tau apa, jantungku serasa mau copot ini! Ck! Bodoh kau Annisa! Sedikit saja ia menyentuh mu, kau sudah bereaksi seperti itu! Apa sih yang ada di pikiran mu? ''
''Oh.. hello... ini bukan dunia novel say! Ini dunia nyata! Bangun kau Annisa! Sadar! Tidakkah kau ingat kemarin saat ia menuduhmu selingkuh, padahal dia sendiri yang melakukan itu?! Ishhh..''
Annisa berbisik ria di dalam hati. Ingin membuka matanya, tapi tak jadi karena merasakan benda kenyal itu menempel lagi di bibirnya.
Deg, deg, deg..
Jantung keduanya berpacu dengan hebat. Annisa larut dalam gelora asmara yang diberikan oleh sang pujaan hati.
Tanpa mereka sadari seseorang berdiri mematung disana. Matanya melotot melihat mereka berdua.
Mulutnya menganga lebar. Sementara duo sejoli ini melepaskan pagutan nya dan Tama menempelkan dahinya di dahi Annisa.
Hembusan nafas keduanya begitu terasa. Tama terkekeh. Annisa tersenyum dalam hati. Wajah itu masih kentara sekali terlihat datarnya.
''Ehemm..''
Deg!
Deg!
Tubuh pasangan pengantin baru itu membeku. Mata Annisa yang terpejam, tiba-tiba saja terbuka lebar.
__ADS_1
Pandangan mata mereka saling terkunci dengan jantung yang semakin berdebar tak karuan.
''Siapa Sayang?'' bisik Tama
''Nggak tau Bang! 'Kan nggak nampak itu muka?'' sewot Annisa masih dengan berbisik.
Tama terkekeh, tubuhnya terguncang karena kekehan nya. Seseorang itu semakin membulatkan matanya.
''Ehem! Enak ya tidur berdua? Belum sah kok tidur berdua! Mau saya laporin kamu?!''
Deg!
Lagi, Annisa dan Tama saling tatap.
''Oh.. Dokter...''
''Oh.. Dokter...'' ucap mereka bersamaan, setelah itu terkekeh bersama.
''Ehem.. ehem.. ehem.. uhukk .. uhuukk.. ehm! Sampai keselek ini suara saya! Ishh..'' ketus dokter yang kemarin memeriksa Annisa.
Kedua orang itu semakin cekikikan. ''Mau saya nikahkan kalian berdua? Jangan kira saya tidak tau ya, status kalian itu apa! Kalian itu cuma Kakak dan adik angkat! Jadi bersikaplah sewajarnya! Jangan sampai saya akan melaporkan hal ini kepada guru kamu saudari Annisa!!''
Deg!
Deg!
Annisa terkejut mendengar ucapan dokter itu. Dengan segera ia menyuruh Tama untuk bangkit.
''Bangun Bang!'' titah Annisa pada Tama.
Deg!
Tama terkejut melihat wajah Annisa berubah menjadi datar lagi, ia mengepalkan kedua tangannya.
Dengan segera ia bangkit dan melewati dokter itu begitu saja. Dokter yang bernama Fandi itu melotot tajam percaya melihat Tama melewatinya begitu saja.
Dokter Fandi tidak habis pikir dengan kelakuan Tama. Sudah kepergok, tapi tidak merasa bersalah sedikit pun.
Yang ada wajahnya itu sangat tidak enak dipandang. Begitu juga dengan Annisa. Gadis kecil itu menatap lurus ke depan tanpa mau menatap nya.
💕💕💕💕
Selamat pagi menjelang siang..
Assalamualaikum...
__ADS_1
Hehehe.. apa kabar hari ini?