
''Keluar!! Atau???'' ucap Kinara di wajah nenek peyot itu.
Sinka ketakutan. Entah apa yang dimiliki Kinara hingga membuat nya begitu lemah berada di dekat gadis itu. Hingga ia Tidka bisa berkutik.
Sial! gumamnya dalam hati.
''Jangan mengumpat ku nenek peyot! Keluar kau!!'' sentak Kinara kecil pada Siska.
Siska bergetar seluruh tubuhnya. Dengan cepat ia keluar dari ruangan Tama dan meninggalkan Annisa dan Tama yang saking berpandangan dan berpelukan.
Sedangkan Kinara berkacak pinggang. ''Heh! Dasar Nenek peyot! Tidak tau malu! Maunya datang kesini ingin mengambil yang bukan hak nya?! Di takutkan di Sentul ginjal aja lari! Heh?!'' ucapnya sambil menepuk tangannya kiri kanan sroldh menepuk debu yang ada di telapak tangannya.
Syakir, Arta dan Bella yang baru saja tiba terbengong melihat tingkah Kinara yang begitu terlihat sangat mirip dengan sang pengusir makhluk halus.
''Ini kamu Dek?'' tanya Syakir pada Kinara
Kinara tersenyum melihat Syakir, Arta dan Bella. ''Abang! Adek! Sini masuk! Udah... nggak usah takut. Ayo! Tuh, kakak sama Abang di dalam kok!'' tunjuk Kinara pada Annisa dan Tama yang sedang berpelukan dan melihat Annisa dengan raut wajah kebingungan.
Syakir melangkah masuk diikuti Arta dan Bella. Di tangan keduanya ada tas kecil dan juga satu buah rantang lumayan besar. Annisa tersenyum melihat ketiga adiknya itu.
Ia mengurai pelukannya dari tubuh Tama. Annisa berjalan mendekati ketiga adiknya. ''Ayo masuk. Baru saja Kakak sama Abang kedatangan tamu. Udah bawa perlengkapan kantor ya?''
''Udah. Ini dari Mak buat kita makan bersama disini. Dan ini, Uwak mengirimkan manisan mangga ini untuk Kakak dan Abang!'' jawab Syakir sambil menyodorkan sebuah rantang dan juga satu bungkus berisikan manisan mangga yang entah kenapa sangat terlihat menggiurkan Dimata Tama.
''Abang boleh minta dikit nggak?'' ucap Tama sembari menunjuk manisan mangga yang ada di tangan Bella.
__ADS_1
Bella tersenyum, ''Tentu. Nah!'' katanya sambil memberikan manisan mangga itu pada Tama.
Tama tersenyum lebar. Annisa keheranan melihatnya. Tetapi ia tetap mengikuti Tama yang kini sedang membuka bungkusan manisan mangga yang sangat menggugah selera itu.
''Ambikkan sendok sayang. Abang sangat ingin makan manisan mangga ini. Hem.. wanginya.. sedari kemarin loh.. Abang ingin banget msjdn ini. Eh, nggak taunya bunda mengirimkan ini. Terimakasih ya Dek? Sampaikan nanti sana Bunda!'' celutuknya membuat Bella tersenyum.
Annisa menyerah kan piring kecil serta sendok pada Tama. Tama dengan segera menyendok kan manisan mangga dan langsung memakannya.
Annisa diam saja. Ia terus memperhatikan Tama yang begitu nikmatnya makan manisan mangga.
Sedangkan Syakir dan Arta meringis ngilu saat melihat Tama menggigit Manisa mangga yang baru saja dibuat kemarin malam oleh Bunda Zizi.
Entah apa tujuan Bunda Zizi memberikan manisan mangga itu untuk kakak mereka, Syakir dan Arta pun tidak tau.
''Hem,'' sahut Tama masih sibuk dengan manisan mangga itu.
Annisa tetap diam. Sedang Syakir meringis ngilu melihat Tama makan Annisa mangag itu. ''Itu.. manisannya tidak asam kah?'' tanah Syakir masih dengan meringis ngilu.
Rasanya gigi keduanya mendadak ngilu melihat Tama makan manisan mangga itu. ''Enggak.. ini enak kok. Kamu mau coba Sayang?'' katanya pada Annisa.
Annisa menggeleng. ''Nggak. Abang aja.'' sahutnya dan Tama mengangguk.
''Beneran gitu nggak asam??'' tanya Syakir lagi memastikan
''Enggak adek Abang yang tampan... ini beneran enak kok. Nggak Asam ah! Emangnya kenapa kamu nanya gitu Abang?'' tanya Tama sambil terus mengunyah manisan mangga itu dengan lahap.
__ADS_1
''Manisan itu baru dibuat kemarin malam. Dan itu buah manggis yang masih muda dan sangat asam. Abang udah mencobanya kok. Dan benar. Sangat asam. Dan Abang katanya nggak asam??'' ujar Syakir masih meringis ngilu melihat Tama makan manisan mangga buatan bunda Zizi itu.
Kinara pun mencoba nya. Sekali gigitan langsung saja giginya ngiung-ngiung tak sodap kata orang Melayu 🤣. Syakir tertawa. Begitupun dengan Arta.
''Udah dibilangin sih, kamu nggak percaya!'' celutuk Arta membuat Kinara bergidik ngilu. Annisa terkekeh.
''Biarkan saja bang Tama makan itu. Sedari tadi malam sangat ingin makan manisan mangga sampai terbawa mimpi pula!'' Annisa tertawa.
Begitu pun dengan ketiga adiknya. Anto yang berada diluar ruangan tersenyum. Tian pun demikian.
Mereka berdua ingin masuk karena ingin memberikan berkas pada Tama untuk ditangani. Tetapi karena melihat Tama sedang makan manisan mangga dengan lahap, Anto dan Tian tidak jadi masuk.
Mereka tidak ingin mengganggu. Anto melihat Tian yang tersenyum, terkekeh. ''Ingat kata Abang tadi Tian! Kinara itu bukan jodohmu! Kinara itu sudah memiliki jodohnya sendiri! Sedang jodohmu itu sebentar lagi akan datang kesini!''
Tian yang mendengar nya memutar bola mata malas. ''Yanh kaayk Abang Tuhan akan bisa tau dimana jodohku?! Abang itu manusia a seperti ku!'' ketus kembali kesal.
Anto tertawa. ''Yee.. dibilangin kamu nggak percaya! Kamu ingat ini Tian! Kalau jodoh kamu nanti sudah datang, kamu bukan lagi meminangnya tetapi langsung menikahi nya dihari itu juga!''
''Nggak! Aku nggak percaya!'' bantah Tian.
Sedangkan Kinara menatap datar pada Tian, membuat Tian nyali nya menciut saat Kinara menatap nya.
__ADS_1