Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Penolakan Tama


__ADS_3

''Saya! Istri sahnya Adrian Pratama!! Saya pacar halal nya! Saya berhak atas dirinya! Bukan seperti kamu! Pengganggu saja! Kamu ingat itu! SAYA ISTRI SAH ADRIAN PRATAMA! KAMU DENGAR?!''


Deg!


Deg!


''Apa?!'' seru Annisa dengan wajah begitu terkejut.


''Sayang!'' Tama pun ikut terkejut mendengar suara Annisa yang memiliki keras. Ia dengan segera mendekati Annisa yang begitu pucat wajahnya saat ini karena mendengar ucapan dari seorang gadis yang sedang bersama Azura.


Azura semakin kebingungan melihat situasinya saat ini. ''Aarrgghhtt.. lepasin dulu ih! Kamu mau membunuh saya?!''


Mitha menoleh pada Azura dengan tatapan tajamnya. ''Ya, saya akan membunuhmu kalau kamu berani mendekati suami SAH saya lagi! Dasar pelakor nggak ada akhlak! Dimana-mana itu sama saja! Nggak di Medan nggak di Jakarta. Semuanya sama! Wanita berhijab tapi kelakuan nya nol besar! Ada yang lain kok lebih suka yang sudah jadi bekas orang sih?!'' gerutu Mitha sembari melepaskan tangan nya dari leher Azura.


Ia bersungut-sungut sambil mendekati Annisa dan Tama yang saat ini sedang menatap nya. Tama menggeleng kan kepala nya.


''Sayang-,''


''Ayo kita masuk dulu! Ustadzah Hanim sudah menunggu Abang dari tadi. Bawa aja masuk ISTRI SAH Abang sekalian!'' ketus Annisa dengan wajah datarnya.


Tama menghela nafasnya saat melihat Annisa berlalu ke dalam sendirian dan meninggalkan kedua adik Abang yang sedang cekikikan itu.


''Hihihi.. aku berhasil Bang!''


Tama terkekeh kecil. ''Ingat Dek. Kalau kakak iparmu merajuk, kamu yang harus membujuk nya. Abang sangat tau dirinya seperti apa. Jika menyangkut Abang, kakak mu pasti akan sepeti itu sifatnya. Kamu paham??''


Mitha mengangguk geli. Sementara Azura memerhatikan dua bersaudara itu dengan tatapan yang entah seperti apa. Kemudian Tama dan Mitha masuk kedalam pesantren.


Tiba di ruang guru, Tama dan Mitha segera masuk setelah di perkenankan masuk oleh ustadzah Hanim selaku kepala sekolah disana.


''Assalamu'alaikum.. ustdazah..'' sapa Annisa saat berada di depan pintu yang terbuka ruangan ustadzah Hanim.


Ustadzah Hanim menoleh dan tersenyum, ''Waalaikum salam.. mari masuk! sudah sedari tadi saya menunggu kalian berdua!''


Deg!


Annisa mengepalkan kedua tangannya. Namun, ia tetap berdiri di sebelah Tama. Karena ingin mendengar jawaban apa yang kan Tama berikan untuknya.

__ADS_1


Namun, baru sebentar ia berdiri Annisa sudah dipanggil oleh ustdzah Naima untuk mengganti kan tugas nya sementara karena dirinya mau ke toilet.


Annisa menurut. Dengan segera ia berlari menuju ke kelas lain. Kini tinggallah Tama dan Mitha di raungan ustdzah Hanim.


Ustdazah Hanim tersenyum saat melihat Mitha. Mitha pun ikut tersenyum, ''Behini Nak Tama. Saya ingin berbicara dengan kedua orang tua Annisa. Bukan denganmu. Tapi entah kenapa Annisa mengatakan jika kamu bertanggung jawab terhadap nya. Saya jadi bingung. Apakah Annisa sudah diserahkan kepada anda untuk dijaga kepada anda oleh kedua orang tuanya??'' tanya ustdzah Hanim.


Sesekali ia memandangi wajah Mitha yang terlihat mirip dengan Tama walau hanya sekilas. Tama tersenyum, ''Benar ustdazah. Untuk sekarang dan ke depannya saya lah yang menkadi wali Annisa. Karena saya telah mengambil alih tanggung jawab itu dari kedua orang tau angkat saya. Berhubung Mak dan Api saya sering berpergian, maka sayalah yang menjadi pengganti Annisa. Begitu juga dengan ketiga adik saya yang lain.'' Jelas Tama membuat Ustadzah Hanim terkekeh.


''Sempat saya berpikir tadi kalau anda sudah menikahi Annisa. Karena Annisa bilang, hidup dan matinya sudah menjadi tanggung jawab Anda nak Tama,'' ucapnya sambil terkekeh kecil.


Tama pun ikut tersenyum. ''Ustadazah bisa saja. Lantas, ada hal apa yang membuat ustdzah memanggil saya untuk datang kesini hingga Annisa begitu heboh menyuruh saya kesini pagi-pagi.'' Tama terkekeh begitu juga dengan Mitha.


''Begini nak Tama. Annisa itu murid berprestasi di sekolah ini. Jadi .. saya pernah mengirim kan undangan ke sebuah fakultas untuk menerima Annisa. Dan ya, Alhamdulillah nya Annisa di terima. Annisa menerima ini tapi ia tidak mau mengambil keputusan sendiri. Ia butuh jawaban anda. Karena ini menyangkut kehidupan nya.'' Jelas ustadzah Hanim membuat Tama merasa ada sesuatu disini.


''Maksud ustadzah apa ya? Annisa di terima di fakultas mana??'' Tama sudah was waspada sedari mendengar penuturan Ustdazah Hanim.


Mitha mengelus tangan Tama. Karena ia tau, jika Tama saat ini sedang gelisah. Dari gestur tubuh yang menegang membuat tau jika dirinya sedang dilanda kecemasan.


''Tenang...'' bisik Mitha begitu lirih di telinga Tama.


Ustadzah Hanim tersenyum, ''Maksud saya, Annisa di terima di fakultas terfavorit di Bandung saat ini. Ia diterima karena nilai nya yang selalu memuaskan setiap kali saya mengirimi hasil ujiannya setiap satu semester.''


Deg, deg, deg...


Jantung Tama semakin tidak terkendali. Jangan bisa menduga jika istri kecilnya akan di kirim ke Bandung oleh ustadzah Hanim.


''Maksud ustadzah Annisa harus lebih Bandung setelah tamat dari sini karena harus kuliah disana begitu?!'' ketus Tama sudah merasa kesal.


Ustadzah Hanim terkejut. ''Anda kenapa nak Tama? Apakah anda keberatan jika Annisa saya kirim ke Bandung? Annisa itu murid berprestasi jadi apa salah nya jika-,''


''Tapi bukan berarti harus kuliah di Bandung bukan?! Di sini pun banyak fakultas. Salah satu nya UMSU dan UNIMED. Mananya yang tidak bagus?! Kenapa harus ke Bandung segala?! Nggak! Saya nggak ngijinin Annisa kuliah di Bandung. Jika dia disana saya disini akan sulit bagi saya untuk mengawasinya! Tidak! Sekali tidak tetap tidak!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Annisa berdiri mematung mendengar ucapan Tama yang berujung ke penolakan jika ia harus kuliah ke Bandung dan terpisah darinya.


''Tapi nak Tama..''

__ADS_1


''Maaf Ustdazah! Saya sebagai wali pengganti keberatan jika nnisa harus kuliah kelurahan dari kota Medan. Seharusnya Anda bertanya dulu sana saya! Jangan mengambil keputusan gegabah seperti ini! Saya pemilik kehidupan Annisa sekarang dan nanti! Dan saya tidak mengizinkan jika Annisa untuk sekolah di Bandung! Titik!'' tegas Tama penuh penekanan pada setiap kata-kata nya.


Saking kesalnya Tama beranjak pergi seketika membuat Mitha dan ustadzah Hanim terkejut bukan main.


''Kita pulang Dek!''


Deg!


''Abang!'' panggil Mitha


Ia melihat ustdzah Hanim dengan sedikit senyum kaku di bibirnya dan juga merasa malu karena ulah Tama.


Mitha kembali duduk. Ia tidak jadi mengejar Tama yang telah berlalu meninggalkan Mitha dan ustadzah Hanim berdua saja. Saat ini hati Tama begitu kesal dan marah kepada kepala sekolah Annisa ini.


''Enak saja mengambil keputusan tanpa bertanya dulu kepadaku?! Aku ini suaminya! Aku berhak atas kehidupan nya! Apakah aku tidak boleh mendapatkan kebahagiaan sebentar saja? Kenapa aku harus selalu mengalah?!''


Deg!


Deg!


''A-abang...'' panggil Annisa begitu lirih.


Ia tidak bmaum mendekati Tama saat ini. Ia masih belum terima karena penolakan Tama untuk sekolah masa depannya.


💕💕💕💕


Nah hayoloh.. Bang Tama ngambek itu! 🤣🤣🤣


Hehehe.. sambilan nunggu cerita Bang Tama dan Annisa update, mampir dulu yuk ke karya teman aku yang satu ini.


Karya nya Kak Teh ijo.



Cus kepoin!


Like, komen, vote, kbang dan rate di setiap bab nya untuk othor ye? Agar othor tambah semangat untuk update! 😘😘

__ADS_1


__ADS_2