
Tama segera berjalan menuju ke depan pintu. Tiba di depan pintu Tama merogoh ponselnya dan mendial nama Seseorang untuk membuka kunci pintu ruangan itu dari luar.
Ceklek.
Tama tersenyum, ''Terimakasih Pak!''
''Sama-sama Den! Saya kembali ke pos jaga dulu ya?''
''Baik, silahkan Bapak-bapak polisi. Semua tersangka ada di dalam rumahnya ini.'' Ucap Tama mempersilahkan sepuluh orang polisi yang dituduhkan oleh Papi Gilang untuk membuat keluarga jauh bunda Zizi di hukum karena perbuatan mereka terhadap ayah Emil.
''Baik, selamat siang semua? Saya membawa surat perintah untuk lengkapnya anda semua yang ada diruangan ini. Terkecuali korban. Mari ikut kami. Jangan ada perlawanan sedikitpun jika kalian tidak ingin semakin bertambah mendapat hukumannya!'' tegas salah bapak polisi itu.
Mak Sasmita menoleh dan menggeleng. ''Enggak! Saya nggak mau! Saya dan keluarga saya tidak bersalah! Mereka semua telah menjebak kami! Mereka yang seharusnya di tahan Pak!''
''Maafkan kami Nyonya! Kami hanya menjalankan perintah dari atasan. Jika anda ingin melakukan pembelaan, mari ikut kami ke kantor polisi tanpa perlawanan. Disana kalian bisa menjelaskan apa yang menjadi pembelaan kalian nantinya! Bawa mereka!''
''Enggak! saya nggak mau!'' tolak Mak Sasmita ketakutan.
Bagaimana mungkin ia dibawa ke kantor polisi. Sedang Suaminya saja sedang tidak berada di tempat. Bisa habis dirinya jika sang suami tuanya itu mengetahui kelakuan buruknya selama ini.
''Loh? Kenapa?? Kalian takut???'' ucap Annisa sengaja memancing lagi Mak Sasmita untuk mengungkapkan sesuatu yang tersembunyi. Annisa menarik
sedikit ujung bibirnya membentuk senyuman misterius.
Syakir dan Arta saling pandang. Sambungan ponsel itu tetap menyala. Karena itu merupakan bukti untuk memberatkan seluruh keluarga jauh bunda Zizi.
__ADS_1
''Enggak! Sa-saya nggak takut! Saya nggak takut! Sa-saya nggak bersalah!'' kilahnya lagi, membuat Annisa terkekeh kecil.
''Benarkah??''
''I-iayalah! Ma-mana ada saya takut!'' kilahnya lagi untuk yang kesekian kalinya.
''Baik! kalau begitu kembalikan seluruh uang yang sudah kalian rampok dan kalian tipu dari keluarga ku selama tiga belas tahun ini! Kalian pikir mudah mencari uang sebanyak itu heh?! Kalau tidak berpikir tentang orang lain! Yang kalian pikir kan hanya kesenangan kalian semata! Demi memenuhi nafsu kalian untuk menjerat ayahku karena keterdiamannya tidak memberitahukan bunda Zizi, kalian bisa seenaknya menekan ayahku seperti itu! Saya nggak mau tau! Kalian harus bertanggung jawab! Kembalikan uang itu, atau kalian saya JEBLOSKAN ke dalam penjara!''
''Enggak! Kami tidak mau membayarnya. Wong, uang itu memang hak kami kok.'' Keukeh salah satu dari mereka dengan ketakutan. Sebutir keringat dingin mengalir di dahinya.
Annisa Terkekeh sumbang. ''Dasar manusia tidak tau diri! Serakah dan tamak sudah mendarah daging di dalam tubuh kalian semua! percuma pun saya bersitegang dengan orang yang tidak tau malu ini. Sudah salah tapi tidak mau mengaku salah! Sekarang gantian! Kalian yang harus merasakan apa yang selama ini ayahku rasakan! Bawa mereka Pak!'' titah Annisa pada pak polisi yang kini sudah bersiap ingin membawa seluruh keluarga jauh bunda Zizi.
''Nggak!!! Kami nggak mau ikut ke kantor polisi!!!'' pekik Mak Sasmita secara tiba-tiba. Ia ingin melarikan diri karena ketakutan.
''Tidaaaaaaaaaaaakkkkk!!!'' pekik Mak Sasmita begitu melengking di dalam ruangan itu. Ia meronta-ronta dengan kuat karena mencoba melarikan diri.
''Bawa mereka dan hukum mereka seberat mungkin! Bukti sudah ada ditangan kami! Belum lagi mereka sellau melakukan sesuatu yang diluar batas hingga ayah ku tertekan dan stres bahkan hingga jatuh sakit. Bawa mereka! Saya ingin keadilan untuk kedua orang tau saya! Jika kalian tidak bisa, maka saya akan memanggil Abang saya yang berstatus seorang jendral untuk menangani Masalah ini!'' gertak Annisa pada Pak polisi itu.
Beliau mengangguk. ''Tentu. Adek tidak usah khawatir. Kami cepat tanggap dan Tidak berat sebelah. Kami akan menghukum orang-orang yang memang bersalah. Terimakasih laporannya! Saya permisi!''
''Silahkan!'' jawab Annisa dan Tama bersama an.
Pak polisi itu keluar dengan membawa seluruh keluarga jauh bunda Zizi. Berikut yang pingsan itu ternyata cuma pura-pura saja. Ia sengaja pingsan untuk menyelamatkan diri dari tuntutan polisi.
Namun, sayangnya hal itu di ketahui oleh Annisa. Jika mereka pikir mereka bisa mengalahkan Annisa, maka mereka salah pilih lawan. Bahkan Annisa lebih licik lagi dibanding kan dengan mereka semua.
__ADS_1
Terbukti, dengan idenya itu membuat Papi Gilang dan Uwak Andi abangnya bunda Zizi bergerak cepat.
Belum lagi Seseorang yang Syakir hubungi dan saat ini berada di Jakarta karena urusan pekerjaan jatuh terhenyak hingga terkena serangan jantung. Siapa lagi kalau bukan suaminya Mak Sasmita. Tuan Jaya Prayoga Sinaga.
Beliau sampai jatuh terhenyak ke lantai mendapati sang istri tercintanya ternyata melakukan penipuan serta perampokan hingga 13 tahun lamanya. Dan semua ini terungkap karena Annisa.
Belum lagi yang di tipu ternyata anak sepupunya sendiri. Yang ternyata sedang naik daun karena investasi yang Zizi tanamkan di perusahaan keluarga nya itu meningkat pesat.
Harga saham melambung tinggi. Dan Zizi mendapatkan manfaat itu semua berkat perusahaan sepupu Mak nya ini pandai mengolah segala sesuatunya. Semua itu karena ikut campur tangan Zizi yang terkenal lihai dalam keuangan perusahaan hingga tidak lagi terjadi korupsi seperti beberapa tahun silam.
Bunda Zizi bekerja di balik layar. Hanya Papi Gilang, Mak Alisa dan Om Andi yang tau tentang itu semua.
Hal yang sama sekali tidak di ketahui oleh Mak Sasmita dan ayah Emil sendiri. Dan hari ini, semua ini akan terbuka dengan jelas.
💕💕💕💕
Satu!
Mampir kesini yuk, sambilan nunggu update cerita adek Annisa. ? Ceritanya seru loh.. cus kepoin!
Noh, jangan lupa mampir ye?
Like, komen, kembang, vote, dan rate selalu othor tunggu dari kalian semua 😘
__ADS_1