Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Biarkan aku yang bicara!


__ADS_3

"Seburuk apapun putrimu, ia tetaplah darah dagingmu. Walaupun Mitha dulu pernah melakukan kesalahan, tapi lihatlah kini. Ia berubah menjadi lebih baik. Bukan maksud aku menggurui Om disini. Tapi lihatlah putri kecilku yang dulu pernah aku selamatkan. Annisa bukan lah anak kandungku. Tapi dia menerimaku layaknya ayah kandungnya sendiri. Kenapa Om menolak Mitha yang jelas-jelas darah daging, Om sendiri??"


Deg!


Deg!


"Hiks.. hiks.. Annisa..." lirih Mama Linda sambil terus tersedu.


Sementara Papa Fabian terdiam. Ia tidak tau harus berbicara apa sekarang. "Hubungi Tama, minta padanya agar membawa pulang Mitha dan Annisa. Bermurah hatilah menerimanya putri mu sendiri, Om. Kalau Om tidak mau menerima Mitha, maka Annisa pun tidak mau pulang kerumah ini selagi Om masih berada disini. Ayo, hubungi Tama sebelum terlambat," bujuk Papi Gilang hingga membuat Papa Fabian mengangguk.


Papa Fabian mengambil ponsel miliknya dengan tangan bergetar. Ia mendial nama Tama di ponselnya.


Tut.


Tut.


Tut.


Tut.


"Assalamualaikum nak-,"


"Untuk apa Papa menghubungi kami? Apakah Papa sudah berubah pikiran? Kalau iya, semuanya sudah terlambat! Hari ini kami akan mudik pulang ke Aceh lagi seperti tahun dulu!" ketus Annisa begitu menusuk hati Papa Fabian.


"Dengar dulu nak-,"


"Sini kan ponselnya Om, biar aku yang bicara."


Deg!

__ADS_1


Annisa menekan salivanya saat mendengar suara dingin Papi Gilang. "Pulang!"


Tut.


Annisa melototkan matanya. Sementara Papi Gilang terkikik geli. "Kamu ya? Kebiasaan!" ucap Mami Alisa pada Papi Gilang.


"Biarin! Biar tau itu anak kamu. Kalau ada masalah itu jangan lari. Tapi dihadapi. Ini malah main kabur aja! Ya salah sendiri lah kenapa main kabur kayak begitu. Noh, mobil mereka udah masuk ujung jalan. Jangan ganggu aku sayang. Aku beneran ingin buat putri kamu itu tau kesalahannya dimana," balas Papi Gilang pada Mak Alisa.


"Ayo Om, masuk. Mereka udah tiba." Katanya pada Papa Fabian.


Pria paruh baya itu bangkit dengan perlahan dibantu oleh Papi Gilang. Sedangkan Mama Linda sudah pergi lebih dulu masuk ke dalam. Ia masih kesal kepada sang suami. Karena kelakuannya tadi.


Tama dan Annisa tiba dirumah mereka. Ia turun dengan langkah berat. Karena ia tau, jika setelah ini ia pasti akan di ceramahi habis habisan oleh sang Papi tentang kesalahan nya.


Annisa menghela nafasnya. "Ayo Mitha. Kita lawan para tua Bangka di dalam rumah itu. Kamu cukup diam. Aku ingin tau apa yang akan tua Bangka itu katakan padaku nantinya!" ketus Annisa masih tidak bersahabat pada kedua orang pria di rumah itu.


Tama melototkan matanya saat mendengar ucapan Annisa. Anto terkikik geli di belakang sana saat menurunkan koper besar milik Annisa.


Mitha dan Anto hanya bisa diam apa yang dikatakan Annisa itu ada benarnya. Dan disinilah mereka sekarang. Annisa datang dari dapur dengan membawa minuman segar buatan Mama Linda penuh satu cangkir besar dan panjang miliknya.


Papi Gilang melototkan matanya saat melihat tingkah Annisa yang begitu absurd menurutnya. "Apa Papi lihat-lihat?! Kalau mau ambil saja sendiri!" ketus Annisa tidak bersahabat pada Papi Gilang.


"Annisa!!" seru Mak Alisa.


"Kakak tidak mau melawan Mak. Jadi.. Mak dan Papi lebih baik diam! Jangan ceramahi Kakak. Sekarang waktunya Kakak yang bicara!" tegas Annisa menatap datar pada kedua orang tuanya itu.


"Kamu...!"


Papi Gilang memegang tangan Mak Alisa dan menggeleng kan kepalanya. "Kakak pulang kesini karena menghargai permintaan Papi. Tapi jika Papa masih keberatan dengan keadaan Mitha terserah. Kakak tidak peduli. Toh, tanpa Papa pun Mitha akan tetap hidup bersama Kakak? Papa lupa? kalau manusia itu tidak luput dari kesalahan?? Seharusnya Papa sadar, Mitha itu rela datang kemari untuk siapa? Apakah kebencian Papa lebih besar daripada kasih sayang Papa kepada-nya?? Ingat Pa. Mitha itu putri kandung Papa sendiri. Bang Tama masih hidup. Ia tidak mati. Apalagi yang Papa tidak terima dari kelakuan Mitha? Bahkan Papa tau kalau Mitha itu cuma korban! Korban jebakan dari Mama Karin! Istri SAH Papa! Masih belum puas selama ini Papa membencinya?? Jika iya, biarkan Mitha tinggal bersama kami. Dan yang akan menikahkan Mitha dan bang Anto nantinya pun bang Tama."

__ADS_1


Deg!


"Apa maksudmu nak?" tanya Mama Linda pada Annisa.


Annisa menatap Mama Linda, "Mitha akan menikah dengan bang Anto seminggu dari sekarang. Segala persiapan nya sudah siap. Hanya menunggu hari nya saja. Kalaupun Papa tidak setuju. Itu tidak jadi masalah. Toh, Mitha ini bukan putri Papa bukan??"


"Annisa! Jaga batasan mu!" tegur Mak Alisa


"Kenapa Mak yang marah? Papa aja diam tuh!"


"Annisa......" panggil Mak Alisa semakin geram dengan putrinya ini.


Papa Fabian tertunduk. Ia tidak mau berkata sepatah kata pun. Karena yang Annisa katakan benar adanya. Ia hanya tidak suka pada Mama Karin. Bukan pada Mitha.


Tapi inilah kesalahannya. Papa Fabian memilih bangkit dan masuk ke kamarnya. Annisa mengkonsentrasikan Mitha untuk mengikuti Papa Fabian.


Mitha menggeleng. Annisa melototkan matanya. Tama terkekeh begitu juga dengan Anto. Mitha mengangguk patuh. Akhirnya, ia pun ikut masuk ke dalam kamar Papa Fabian. Entah apa yang terjadi disana cuma Tama yang tau.


Karena cuma Tama yang punya akses untuk melihat isi kamar itu. Karena setiap kamar memiliki kamera cctv demi menjaga keamanan rumahnya.


💕💕💕💕💕


Satu aja ye?


Insyaallah besok othor tambahin bab nya. Sambilan nunggu cerita ini update, mampir dulu yuk di karya temen othor yang satu ini.



Cerita seru loh.. cus kepoin!

__ADS_1


Like dan komen selalu othor tunggu! 😘


__ADS_2