Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Ketiduran


__ADS_3

Tama tersenyum saat melihat ukiran di tangan Annisa yang sudah terlelap di Ambal beludru di ruangan ballroom yang sudah dihias sangat cantik.


Hanya tinggal mereka saja disana. Udara malam yang begitu dingin membuat Tama semakin merapatkan dirinya pada Annisa yang saat ini sudah terlelap.


Seluruh keluarga sudah sudah masuk ke kamar masing-masing. Tapi Tama tetap ingin disana menunggu Annisa terbangun.


Ia menatap Annisa dengan tersenyum lembut padanya. ''Kamu sangat mengantuk, hem?'' Annisa tidak menyahut.


Gadis ayu yang sama persis dengan Kinara itu sudah terlelap sedari tadi. ''Kamu sangat cantik. Tidak hanya parasmu. Tapi juga hatimu yang sangat tulus pada setiap orang. Abang sangat menyayangimu cintaku.. sangat..'' lirih Tama dengan mata yang sudah terpejam.


Lambat laun mata itu pun tertutup. Sementara Annisa terbangun karena suara dengkuran halus dari Tama di ruangan yang begitu dingin.


''Euugg.. jam berapa ini??'' gumam Annisa saat merasakan hawa dingin menusuk ke tulang nya.


Ia merasakan kehangatan di sebelah kirinya. Ia menoleh, ''Abang?''


''Hem.. tidur sayang.. Abang sangat mengantuk!" sahut Tama dengan mata terpejam.


Tangan itu melingkar di perut rata Annisa. Annisa terkekeh, "Bangun yuk? Kita tidur di kamar? Dingin banget loh disini. Yuk?" ajak Annisa pada Tama yang kini sudah mendengkur


"Abang!"


"Hem.. iya. Ayo! Perlu Abang gendong? Henna kamu udah kering belum?" tanya Tama masih dengan mata terpejam.


"Belum sih. Tinggal sedikit lagi. Gendong aja lah. Payah pun kalau dibuat jalan?"


Tama membuka kedua matanya dan mulai duduk. "Kepala Abang pusing Sayang. Baru aja tidur udah bangun lagi!" gerutu Tama sedikit kesal.


Annisa merasa bersalah. "Ya sudah, Abang tidurlah lagi. Adek tidur disini aja.." Lirih Annisa merasa bersalah pada Tama.

__ADS_1


Tama menoleh pada Annisa yang kembali memejamkan matanya tetapi terselip sendu. Tama menghela nafasnya. "Matikan seluruh lampunya saat kami sudah keluar dari ruangan ini!" seru Tama.


Annisa terkejut, "Loh, loh, eh, eh! Tadinya katanya pusing? Kok malah di gendong sih? Awas loh.. ntar kita berdua jatuh Abang!" seru Annisa begitu panik saat melihat Tama menggendong nya dengan sedikit sempoyongan.


Tama Terkekeh. "Tak akan jatuh. Memang kamu ini seberat karung goni lima puluh kilo apa?"


"Apa?!" seru Annisa dengan mata melotot.


Cup!


"Eh, nakal!" sungut Annisa tetapi tertawa.


Tama pun ikut tertawa. Karena ia telah berhasil menggoda Annisa lagi dengan cara mengecup pipi nya sekilas.


Keduanya tertawa sambil masuk kedalam kamar mereka. Tama merebahkan Annisa dengan perlahan.


Setelah nya pun ia ikut berbaring di samping Annisa. Keduanya tidak lagi berbicara karena memang udara yang begitu dingin. Besok pagi akan banyak ritual adat yang akan mereka jalani.


Tok, tok, tok..


"Kakak... Abang.. bangun! Udah siang loh.."


Tok, tok, tok..


"Bangun Abang! Kakak!"


Braaakkk..


"Astaghfirullah!" seru Annisa dan Tama bersamaan karena mendengar suara gebrakan pintu yang lumayan kuat. Mereka berdua terduduk di tempat tidur dengan kepala yang masih pusing.

__ADS_1


Pengantin usang rasa baru itu saling pandang, kemudian terkekeh bersama. Mereka berdua tau siapa pelaku yang telah menggebrak pintu mereka berdua.


"Dasar! Awas kamu Dek!" ucap Annisa


Ia tertawa kala mendengar ocehan tidak jelas dari Kinara di depan pintu kamar nya. "Kakaaaakkk.. ih! Bukain! Adek dimarahin Mami loh.." panggil nya lagi dari balik pintu.


"Kalau nggak kakak buka, adek dobrak lagi nih! Jangan salahkan adek ya, kalau pintu hotel milik Papa Fabian hancur gegara kakak!"


Ceklek!


"Ih, kenapa pula kakak yang jadi penyebab nya?" tanya Annisa dengan membuka sedikit pintu agar Kinara masuk ke kamar mereka.


Kinara merengut masam. Tama tertawa. "Kakak sih! Udah setengah jam adek nunggunya! Kakak sama Abang tetap nggak buka pintu! Mana Mami ngomelin adek lagi gegara Kakak sama Abang nggak bangun-bangun!'' ketus Kinara begitu kesal.


Annisa dan Tama tertawa. ''Ya sudah, kamu mandi dan sholat dulu ya?''


Kinara mendengus. ''Sholat apaan udah jam sembilan begini!''


''Apa?!'' pekik keduanya bersamaan.


Mereka berdua berlari ke kamar mandi bersamaan. Kinara yang melihat nya tertawa puas. ''Hahaha .. rasain! Makanya kalau adek bangunin, kalian tuh bangun tau! Sekarang? Tau rasakan? Sholat subuh udah masuk Dhuha pula! Hahaha..'' Kinara tertawa terbahak saat mendengar perdebatan Annisa dan Tama di dalam kamar mandi.


Kinara semakin tertawa saat melihat kedua saudaranya itu kelimpungan sendiri karena sudah kesiangan untuk sholat subuh. Kinara hanya bisa terkikik geli sendiri di ranjang mereka berdua.


Cukup sepuluh menit mereka melaksanan sholat subuh disambung dengan sholat Dhuha. ''Hadeeuuuhh.. gegara keenakan tidur, sampai kesiangan deh bangunnya!'' celutuk Annisa.


Kinara tertawa.


''Abang udah lama nggak terlelap kayak gitu. Sekali jumpa sama tempat ternyaman, eh malah ketiduran!''

__ADS_1


Hahaha...


Mereka bertiga tertawa bersama di dalam kamar. Mami Alisa yang sedang mengantarkan sarapan pagi untuk ketiga anaknya itu pun ikut terkekeh di sebalik pintu kamar Tama dan Annisa.


__ADS_2