
Sementara Annisa diruang guru kebingungan menunggu Tama yang saat ini hampir setengah jam tidak kunjung muncul.
Ustadzah Hanim pun sudah beristirahat sebentar. Karena merasa khawatir, Annisa menuju ke depan dimana Tama sedang berbicara dengan fotografer tadi.
Annisa berlari-lari kecil melihat Tama yang sudah berjalan. Sedang dibelakang nya ada dua orang wanita. Annisa mengernyitkan dahinya saat melihat siapa wanita itu.
Tama semakin menjauh dari dirinya. Annisa pun ikut mengejar. Tetapi Tama lebih dulu pergi dengan wanita yang begitu di kenal oleh nya.
Annisa mematung di depan gerbang melihat kepergian mobil Tama yang begitu kencang saat keluar dari lokasi pesantren Annisa.
''Abang sama Ustadzah Azura?? Kenapa? Kenapa tidak ngomong dulu padaku?? Abang kok tega ya?'' lirih Annisa dengan dada sesak.
Tes.
Tes.
Buliran bening itu mengalir di pipi mulusnya. Ia kembali masuk dan melangkah dengan gontai. Wajah itu begitu lesu.
Tiba diruangan ustadzah Hanim, Ustadzah Siti menyampaikan pesan Tama tadi. Bahwa ia pulang untuk mengantar Ustadzah Azura karena kakinya yang terlilit tersandung gamisnya sendiri.
Deg, deh, deg..
Jantung Annisa berdegup tidak karuan. Rasanya nafas itu seakan berhenti. Ia memaksakan senyum walau rasanya sangat berat.
Seperti perintah Tama, Annisa tetap menunggu kedatangan nya. Sarah dan Mutia pun rela menemani sahabat nya itu.
Annisa semakin cemas Kala melihat jarum jam di dinding sudah menunjukkan angka dua. Sedang Tama belum juga Kembali.
Ia semakin khawatir saat merasakan firasat buruk itu terus berseliweran di kepalanya. Annisa cemas bukan main. Tangan itu berkeringat dingin.
''Sabar Mis. Kita tunggu saja ya? Mungkin bang Tama sedang terjebak macet? Makanya Lana seperti ini?'' ucap Sarah menenangkan Annisa yang saat ini wajahnya semakin pucat pasi.
Mutia pun jadi khawatir karena melihat gelagat Annisa yang tidak baik-baik saja. ''Gimana kalau kita antrakan Annisa dulu ke bengkel atau ke showroom sebelum kita pulang? Mama kamu bawa mobil kan ya?'' kata Mutia pada Sarah.
Sarah mengangguk. ''Ya, oke. Aku akan bilang sama Mama. Tapi kamu harus ambil dulu undangan itu dan baca suratnya. Karena dari yang Mampu ku tadi bilang, besok kita sudah harus berangkat ke Bandung!''
__ADS_1
Deg!
Deg!
''APA?!'' seru Annisa begitu terkejut.
Mutia mengelus lembut lengannya. ''Sabat Nis.. ambil dulu surat nya ya?'' bujuk Mutia
Annisa mengangguk, walau hati dan pikiran nya saat ini begitu gelisah dan sangat kacau. ''Ayo, temani aku. Entah kenapa perasaan ku jadi tidak enak begini??''
''Sudah.. jangan dipikirkan. Semuanya pasti akan baik-baik saja ya? Percaya aja sama Abang Tama. Pasti dia bisa menjaga diri dari ustadzah ulat bulu yang terlalu gatal itu!'' ketus Sarah sangat kesal.
Mutia terkekeh. Tetapi Annisa tetap diam saja. Mereka bertiga masuk ke ruang guru dan mengambil surat undangan itu.
''Kemana nak Tama, Annisa? Apakah belum kembali juga?'' tanya ustadzah Hanim
Annisa menggeleng, ''Belum ustdazah. Kayaknya Abang sedang sibuk. Ya sudah, saya pamit pulang untuk bersiap berangkat besok. Kami tunggu di Bandara kan ya Ustadzah??''
''Ya, semua yang mendapatkan undangan ini besok menunggu Ustdazah di bandara. Dan sebelum itu, katakan dulu dan minta izin pada kedua orang tau kalian karena ini mengenai masa depan kalian. Untuk kamu Annisa. Ustadzah harap, kamu bisa membagi waktumu dengan suami mu, hem?''
''Sudah Ustadzah maafkan. Pulanglah. Kapan pun kalian ingin kesini, pintu pesantren ini terbuka untuk kalian bertiga. Ustadzah bangga pada kalian bertiga. Jaga diri baik-baik. Dan selalu menghubungi Ustadzah jika kalian ada kendala saat belajar disana nanti.''
''Tentu, kami pulang Ustadzah.. assalamualaikum..'' lirih keduanya mendadak sendu.
''Waalaikum salam.. semoga kalian selalu bahagia dan sukses anak-anak ku..'' gumam ustdazah Hanim menyusut buliran bening yang tiba-tiba mengalir di sudut matanya.
Annisa , Sarah dan Mutia pulang bersama kedua orang tau Mutia dan Sarah. Sepanjang perjalanan Annisa begitu khawatir dan sangat cemas.
Tiba di persimpangan antara bengkel dan showroom, Annisa malah menunjuk showroom untuk menemui Tama. Annisa yakin, jika Tama saat ini sedang ada disana.
Ia tidak mungkin berlama-lama dirumah Azura. Annisa yakin itu. Cukup lima menit saja dari persimpangan jalan tadi. Dan kini Annisa sudah turun di hadapan showroom milik Tama.
Terlihat begitu ramai para pengunjung. Annisa melirik mobil Tama yang saat ini memang ada disana. Sekilas ia melihat bayangan Tama yang sedang membopong Azura menuju ke kamar tempat dimana mereka beristirahat.
Wajah Annisa pucat pasi. Annisa mengucapkan terimakasih dan juga pamit dengan buru-buru karena melihat Tama sedang bersama Azura di kamar mereka berdua saat Annisa sering ke showroom satu bulan ini.
__ADS_1
Annisa berlari mengejar mereka berdua. Suara sapaan dari pegawai showroom itu pun tidak Annisa pedulikan. Fokusnya kini pada Tama dan Azura.
Annisa tidak mungkin salah orang. Ia bisa menebak itu adalah Tama. Terlihat dari perawakan tubuhnya. Jantung Annisa semakin berdegup tidak karuan.
Ia terus berlari menuju ke kamar mereka. Tiba disana, dirinya mematung dengan nafas tersengal. Tangannya bergetar hebat. Terdengar seperti suara aneh dari dalam kamar.
Uh..
Deg, deg, deg..
Jantung Annisa semakin tidak terkendali. Perlahan tangan itu membuka pintu kamar itu sedikit.
Ceklek.
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
Ia terpaku di tempat. Mulutnya mengatup rapat. Air mata jatuh bercucuran. Terasa panas hati dan telinganya saat melihat di atas ranjang nya dan Tama ada gadis lain bersama suaminya sedang melakukan hubungan terlarang.
Hubungan yang selama ini sering ia lakukan setiap malam bersama Tama. Kini Tama bersama wanita lain yang merupakan guru Annisa di pesantren nya.
Kaki Annisa mundur dua langkah ke belakang. Tubuh itu bergetar hebat. Ia berbalik dan menutup pintu kamar itu dengan pelan.
Kakinya serasa lemas tak bertulang. Hatinya sakit bukan main. Serasa runtuh dunia Annisa seketika.
Ia berjalan terseok-seok. Ia menarik paksa kaki itu dengan air mata yang terus bercucuran. Hatinya hancur saat melihat jika suami tercinta nya melakukan hal terlarang itu dengan ustadzah Azura. Guru di pesantren nya.
Annisa berjalan menepi di tepi dinding. Ia tersedu. Tidak tau harus mengungkapkan seperti apa rasa sakit itu sekarang.
''Haaa.. hiks.. haaaa.. hiks.. sakiiiiiittt.. haaa... maaaaakkk.. Papiiiiii... Kakak hiks haaaa.. mau pu-pulaaangg... haaaaa... haaa...'' Isak Annisa sambil berjalan. Annisa menekan dadanya yang tersayang begitu sakit.
Ia berusaha bangkit karena kakinya tidak sanggup menerima kenyataan itu. Ia berjalan tertatih ke sisi samping showroom untuk menangis sepuasnya.
Sedangkan sepasang sejoli disana sibuk mereguk manisnya madu hubungan terlarang mereka berdua.
Hancur.
__ADS_1
Hancur sudah hidup Annisa mendapati kenyataan pahit yang mengguncang seluruh hidupnya tepat dihari perpisahan sekolah nya.