Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Flashback 3


__ADS_3

Tama masih saja berbicara dengan kliennya saat Tian masuk membawa minuman dingin untuk ke empat orang itu.


Tama tersenyum dan mengangguk pada Tian. Tian pun demikian. Tian mendekati Azura dan memberikan minuman dingin itu padanya sedang Azura acuh tak acuh padanya. Tian hanya bisa menghela nafasnya.


Ia kemudian keluar dan berlalu dari ruangan Tama. Butuh waktu satu jam untuk menyelesaikan masalah itu.


"Baik, sudah di putuskan. Saya sendiri yang akan turun tangan kesana. Anto, Persiapkan semua berkasnya." Katanya pada Anto dan ia pun mengangguk, "Saya tidak bisa menemani Anda Tuan Badrun. Saya harus menjemput istri saya di sekolahnya. Saya tinggal sebentar!" lanjut Tama pada klien nya itu.


"Tentu tuan! Silahkan!" jawabnya dengan tersenyum


Tama pun berlalu. Tetapi sebelum itu, ia terlebih dahulu masuk ke kamar mandi yang ada di ruangannya karena sangat sesak ingin buang air kecil.


Anto dan klien nya itu pun segera keluar dan akam masuk keruangan Anto untuk penanda tanganan berkas.


Melihat itu, Azura tersenyum senang. "Ini waktu yang tepat!" gumamnya sembari mengeluarkan sesuatu dari saku gamisnya dan membubuhkannya di minuman Tama.


Setelah selesai, ia menggerakkan sebentar botol itu dan meletakkan nya kembali disana dan bersamaan dengan Tama pun yang baru keluar dari kamar mandi.


Ia melirik sekilas pada Azura yang kini sedang bermain ponsel nya. Tanpa curiga sedikitpun Tama mendekati meja dimana Azura berada dan memanggil botol minumannya dan menenggaknya hingga tandas separuh.


Melihat itu, Azura tersenyum manis. Tama pergi ke meja nya dan mengambil kunci mobilnya yang tergeletak disana.


Namun, tanpa di duga kancing bajunya tersangkut di paku yang ada di ujung meja Tama yang lupa ia betulkan hingga mengakibatkan kancing bajunya tersangkt tanpa sengaja disana.

__ADS_1


Tama berusaha melepaskan kancing yang tersangkut itu. Tetapi nihil. Tetap saja kancing baju itu tidak mau terlepas.


Azura yang melihat itu mendekati Tama dan mencoba ingin membantunya. "Kenapa Bang, baju kamu?" tanya Azura pada Tama


Tama tidak menjawab, ia masih sibuk mencoba melepaskan bajunya yang sulit terlepas itu. Entah ada apa dengan Tama hingga tangannya itu begitu tidak berdaya. Belum lagi pandangan matanya semakin buram dan merasakan hawa panas menjalar di seluruh tubuhnya saat Azura mendekati dirinya.


Azura yang tau jika efek obat itu sudah bereaksi, ia semakin gencar mendekati dirinya dan semakin membuat Tama tidak menentu.


Tubuhnya yang berdekatan dengan tubuh Azura membuat pusat tubunya berkedut ingin meminta di lepaskan. Ia menoleh pada Azura. Azura pun menoleh padanya dan tersenyum manis.


Entah siapa yang memulainya Azura saat ini sudah hampir mengecup putik ranum Annisa itu sebelum tangan Tama mencekik lehernya dengan tubuh yang semakin panas dan bergetar akibat reaksi obat yang Azura bubuhhkan tadi ke dalam minumannya tadi.


Mata Azura melotot saat melihat wajah memerah Tama yang kini seperti menahan hasrat dan juga amarahnya dalam waktu bersamaan.


"Appahh.. Yanghh kamuhh.. Bubuhkanhhh di dalam minumanku huhuhhh.. Ssstt..." tanya Tama pada Azura yang kini sedang mencekik lehernya.


Rasanya ingin sekali Tama menyentuh Azura jika tidak mengingat jika Annisa adalah istrinya. Tama pemuda yang tangguh dan masih sanggup bertahan dari godaan obat haram yang Azura berikan.


Azura seperti ingin mati jika tidak Anto masuk karena ingin meminta tanda tangan Tama untuk persetujuan surat kontrak kerja sama dengan Tuan Badrun tadi.


Anto terkejut bukan main saat melihat wajah Tama memerah menahan amarah dan juga reaksi obat itu. Secepat kilat ia mendekati Tama dan mencoba melepaskan Azura dari cekikan tangan Tama yang begitu kuat saat ini mencekik Azura.


"Astaghfirullahh Abang!! Apa yang Abang lakukan?!" seru Anto dengan segera melepaskan tangan Tama dari leher Azura.

__ADS_1


"Gadishh ssstt.. Huuuh.. Ini sedang mencoba menjebakkuuuhh. Antoohh.. Huuhh.. Dia membubuhkanh sesuatu ke dalam minuman ku saat aku ke toilet tadihh. Ssst.. Karena huuuhh.. Aku ingin membuktikannya akuuhh meminum minuman yang sudah ssstt di beri obat Hharammhhh itu!! Brengsek!!" umpat Tama semakin kuat mencekik leher Azura.


Azura terkejut bukan main saat Tama mengatakan hal itu. Ia tidak menyangka jika Tama tau tentang perbuatannya.


"Lepaskan bang! Abang bisa membunuhnya! Lepaskan! Jika Abang ingin menghukumnya, lepaskan dulu. Jangan sampai showroom kita bermasalah karena telah membunuhnya. Walau bagaimana pun, Abang tetap salah nantinya di mata hukum karena telah membunuhnya. Tidak peduli jika dialah yang telah menjebak Abang!" peringat Anto pada Tama


Tangan itu terus berusaha melepaskan tangan Tama dari leher Azura yang kini mungkin akan berbekas. Namun, Tama bergeming. Ia malah semakin kuat mencekik leher Azura.


Tian yang sangat ingin menemui Azura pun mendatangi ruangan Tama. Ia pun terkejut saat melihat pujaan hatinya di cekik oleh Tama seperti itu.


"Astaghfirullah Abang! Apa yang Abang lakukan?!lepaskan bang! Lepaskan!!!" seru Tian dengan segera menarik paksa hingga tangan Tama terlepas dari leher Azura.


"Uhuuukk.. Uhuuukk.. Uhuuukk.. Uhukk.." Azura terbatuk- batuk sampai mengeluarkan air mata


Melihat itu Tian meradang dan ingin memukul Tama yang saat ini semakin tidak terkendali.


Tangan Tian ingin melayang meninju Tama tetapi kalah cepat dengan Tama menyentuh pipi halus Azura hingga terhuyung ke samping dan mengeluarkan darah segar.


"Beraninya Abang ingin membunuh calon istriku!!" seru Tian membuat Tama menoleh dan segera berbalik menghadap Azura dan...


Pllaaakkkk..


Plllaaakkk...

__ADS_1


Pllaaaaakkk...


Dengungan suara tamparan itu memecahkan keheningan diantara mereka bertiga yang saat ini mematung melihat Tama dengan saja menampar Azura hingga terhuyung dan terjatuh tepat di pelukan Tian yang kini tidak jauh berada di dekat mereka berdua.


__ADS_2